Tinta Media – Tanggal 15 Mei kembali diperingati sebagai Hari Nakba—malapetaka besar yang menimpa rakyat Palestina pada 1948. Lebih dari 750 ribu rakyat Palestina diusir dari tanah kelahirannya akibat berdirinya negara Israel. Ratusan desa dihancurkan, rumah-rumah dirampas, dan jutaan rakyat Palestina hingga hari ini hidup sebagai pengungsi di tanah mereka sendiri maupun di negeri-negeri lain.
Namun, Nakba hari ini bukan sekadar peringatan sejarah. Rakyat Palestina sedang kembali hidup di dalam tragedi yang sama. Gaza dipenuhi reruntuhan bangunan. Serangan demi serangan terus menyisakan korban sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Rumah sakit lumpuh akibat kekurangan obat dan listrik. Bantuan kemanusiaan terhambat. Kelaparan dan pengungsian massal menjadi pemandangan sehari-hari.
Dunia menyaksikan semuanya secara langsung melalui media sosial dan pemberitaan internasional. Tangisan anak-anak Palestina, ibu yang memeluk jasad anaknya, hingga ayah yang menggali puing-puing dengan tangan kosong memenuhi layar manusia di berbagai penjuru dunia. Akan tetapi, derasnya simpati global ternyata belum mampu menghentikan penjajahan.
Ironisnya, negara-negara besar yang selama ini lantang berbicara tentang demokrasi dan hak asasi manusia justru gagal menghentikan agresi yang berlangsung puluhan tahun. Resolusi demi resolusi internasional lahir, tetapi sering kali tidak memiliki kekuatan nyata. Dunia tampak memiliki standar ganda ketika berbicara tentang Palestina.
Yang lebih menyakitkan, negeri-negeri Muslim dengan jumlah penduduk lebih dari satu miliar jiwa pun belum mampu menjadi pelindung nyata bagi Palestina. Sebagian hanya mengeluarkan kecaman diplomatik. Sebagian lain sibuk menjaga kepentingan politik dan ekonomi masing-masing. Umat Islam yang dahulu dikenal sebagai satu tubuh kini tercerai-berai dalam sekat nasionalisme dan negara bangsa.
Padahal, Palestina bukan sekadar isu politik regional. Palestina adalah tanah yang diberkahi Allah. Di sanalah berdiri Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama kaum Muslimin dan salah satu tempat suci umat Islam. Allah Swt. berfirman:
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” (QS Al-Isra: 1)
Karena itu, ketika Palestina terluka, sesungguhnya yang terluka bukan hanya rakyat Gaza, tetapi juga kehormatan umat Islam seluruhnya.
Pertanyaan besarnya adalah: mengapa penjajahan Palestina seakan tidak pernah selesai? Akar persoalannya bukan semata kekuatan militer Israel atau dukungan negara-negara Barat. Lebih dalam dari itu, tragedi Palestina merupakan akibat tercerai-berainya umat Islam dan hilangnya institusi politik pemersatu umat yang dahulu menjadi pelindung kaum Muslimin, yaitu Khilafah.
Rasulullah saw. telah menggambarkan persatuan kaum Muslim seperti satu tubuh. Beliau bersabda:
“Perumpamaan kaum mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR Muslim)
Namun, realitas umat hari ini justru menunjukkan kondisi sebaliknya. Ketika Gaza dibombardir, negeri-negeri Muslim tetap berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada satu kepemimpinan politik yang mampu menggerakkan seluruh potensi umat Islam untuk menghentikan penjajahan.
Sejarah mencatat bahwa selama berabad-abad Palestina berada di bawah naungan pemerintahan Islam. Umat Islam, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan di bawah aturan Islam. Bahkan ketika Khalifah Umar bin Khaththab memasuki Yerusalem, beliau tidak datang membawa pembantaian, tetapi membawa jaminan keamanan dan keadilan.
Penjajahan besar-besaran atas Palestina mulai menemukan momentumnya setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada 1924. Sejak saat itu, negeri-negeri Muslim dipisah menjadi banyak negara kecil yang lemah dan bergantung kepada kekuatan asing. Umat kehilangan perisai politik yang dahulu menjaga kehormatan dan wilayah kaum Muslimin. Akibatnya, Palestina seperti anak yatim di tengah umat yang besar tetapi tercerai-berai.
Hari ini, umat Islam sebenarnya memiliki seluruh syarat untuk menjadi kekuatan dunia. Jumlah penduduk yang besar, kekayaan alam yang melimpah, serta posisi geografis yang strategis berada di tangan negeri-negeri Muslim. Akan tetapi, semua potensi itu tercerai-berai dan tidak pernah benar-benar digunakan untuk membela Palestina.
Inilah mengapa solusi Palestina tidak cukup hanya dengan bantuan kemanusiaan, boikot produk, atau kecaman diplomatik semata. Semua itu penting sebagai bentuk kepedulian, tetapi belum menyentuh akar persoalan.
Palestina membutuhkan kebangkitan umat Islam secara menyeluruh—bukan hanya kebangkitan emosi, melainkan juga kebangkitan politik dan peradaban. Umat membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan kekuatan kaum Muslimin serta menjadikan pembebasan Palestina sebagai kewajiban syar’i, bukan sekadar isu kemanusiaan musiman.
Allah Swt. berfirman:
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi…” (QS Al-Anfal: 60)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan ibadah spiritual, tetapi juga kewajiban membangun kekuatan politik, militer, dan peradaban untuk menjaga kaum Muslimin dari penjajahan dan kezaliman.
Dalam pandangan Islam kafah, keberadaan Khilafah dipahami sebagai institusi yang mempersatukan umat di bawah syariat Allah. Melalui kepemimpinan inilah dahulu wilayah-wilayah Islam terlindungi dan musuh-musuh umat segan melakukan penjajahan. Khilafah bukan sekadar romantisme sejarah, tetapi bagian dari ajaran Islam tentang kepemimpinan dan pengurusan urusan umat.
Karena itu, pembebasan Palestina sejatinya bukan hanya perjuangan rakyat Gaza semata. Ini adalah tanggung jawab seluruh umat Islam. Bukan cukup dengan air mata dan doa, tetapi juga dengan kesadaran politik Islam, persatuan umat, dan perjuangan menghadirkan kembali kehidupan Islam yang mampu menjadi rahmat bagi seluruh manusia.
Meski luka Palestina begitu panjang, harapan itu belum mati. Di tengah reruntuhan Gaza, dunia justru semakin melihat wajah asli penjajahan dan ketidakadilan global. Kesadaran umat Islam perlahan mulai bangkit. Banyak generasi muda Muslim mulai mempertanyakan mengapa umat sebesar ini tidak memiliki kekuatan untuk melindungi tanah sucinya sendiri.
Nakba mengajarkan bahwa penjajahan bisa terjadi ketika umat kehilangan persatuan dan kepemimpinan. Maka, kebangkitan umat harus dimulai dengan mengembalikan kesadaran bahwa Islam bukan hanya agama ibadah spiritual, tetapi juga sistem kehidupan yang mengatur politik, pemerintahan, ekonomi, hingga hubungan internasional.
Palestina bukan sekadar tentang sebidang tanah. Palestina adalah simbol kehormatan umat. Selama Masjid Al-Aqsa masih berada dalam bayang-bayang penjajahan, luka itu akan tetap hidup di hati kaum Muslimin.
Semoga Allah menjaga rakyat Palestina, menguatkan para pejuangnya, dan membangkitkan umat Islam agar kembali menjadi umat terbaik yang melindungi kemuliaan agamanya. Sebab, janji Allah itu nyata: pertolongan akan datang bagi orang-orang yang beriman dan berjuang di jalan-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.[]
Oleh: Imma Kurniati
Aktivis Dakwah Muslimah, Banyumas
![]()
Views: 21





