Pejabat Tidak Punya Malu, Saatnya Kembali pada Sistem Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pejabat sekelas menteri, pemimpin daerah, dan presiden yang mendapat gaji besar dari uang rakyat seharusnya merasa malu dan mundur saat tidak mampu menyejahterakan rakyat. Mereka merasa nyaman dengan gaji dan tunjangan besar, sementara rakyat hidup sengsara di bawah garis kemiskinan. Budaya malu menghilang dari diri para pejabat. Padahal, malu adalah sebagian dari iman (al-haya’u min al-iman), prinsip moral utama dalam Islam. Ambisi untuk mengejar kesenangan dunia menghilangkan iman di dada yang seharusnya kita jaga agar selamat di dunia dan akhirat.

Sungguh tidak tahu malu menggunakan mobil mewah sementara masih ada akses jalan atau jembatan yang rusak berat dan menghambat masyarakat melakukan aktivitas harian. Di saat rakyat disuruh berhemat karena krisis ekonomi, mereka malah jalan-jalan ke luar negeri dan memboroskan uang negara. Mereka bergaya hidup mewah, sementara ada anak sekolah dasar yang bunuh diri karena tidak mampu membeli buku untuk sekolah. Bahkan, seorang kakek harus terbunuh setelah mencuri labu siam untuk dimakan. Sementara itu, banyak pejabat melakukan korupsi miliaran rupiah hanya untuk mengikuti gaya hidup mewah. Tidakkah mereka malu dan takut kepada Pencipta manusia, kehidupan, dan alam semesta?

Sungguh tidak punya malu, kritik dari rakyat dijawab dengan nyinyiran, padahal rakyatlah yang menggaji mereka. Menanggapi krisis dengan “dijogetin saja” bukanlah solusi yang dapat mengeluarkan rakyat dari masalah ekonomi sehingga harga barang bisa turun seperti janji-janji politik yang pernah diucapkan sebelum menjabat. Program unggulan yang dibanggakan ternyata jauh dari harapan, bahkan menjadi sarang koruptor. Padahal, dahulu pernah berjanji akan memberantas korupsi yang sudah merugikan negara dan mengejar para koruptor sampai ke Antartika. Namun, setelah menjabat, mereka lupa dengan janjinya. Bahkan, koruptor diberikan tempat aman untuk mencuri uang tanpa bisa terjerat hukum yang dibuatnya sendiri.

Jika tidak mampu merealisasikan janji-janjinya, mundur lebih terhormat. Bukan bermain drama Korea, menangis di depan kamera agar terlihat tulus dan sudah berusaha yang terbaik. Rakyat butuh bukti, bukan hanya kata-kata tentang rela berkorban untuk bangsa dan negara. Faktanya, negara ini berjalan menuju kehancuran karena pemimpin dan pejabat yang tidak memiliki kemampuan, integritas, serta moral yang baik. Rakyat sudah muak dengan berbagai macam pencitraan yang menunjukkan wajah tulus, padahal penuh kepura-puraan.

Terlebih, dengan satu tugas saja tidak bisa menjalankannya dengan baik, tetapi malah mengambil pekerjaan lain yang tidak ada hubungannya dengan keahliannya. Serakah, sudah memiliki jabatan dengan gaji besar, masih saja merangkap jabatan sebagai komisaris BUMN. Bahkan, polisi dan tentara ikut-ikutan mengurusi dapur dan perkebunan. Mereka seharusnya fokus menjalankan tugas melayani masyarakat serta menjaga ketertiban dan keamanan negara. Mereka sibuk mengurusi proyek yang ujung-ujungnya untuk memperkaya diri sendiri dan mengabaikan tugas utamanya.

Tidak punya malu, merasa paling benar dan berjasa untuk bangsa dan negara, padahal faktanya merekalah yang perlahan menghancurkan negara ini. Hutan dibabat habis, sumber kekayaan dikeruk dan dirusak, bukan untuk menyejahterakan rakyat. Utang luar negeri terus membumbung tinggi dan menjadi beban generasi. Saat terjadi bencana alam, masih saja menyalahkan takdir, padahal itu adalah kesalahan mereka.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41)

Dan sungguh tidak tahu malu, masih saja tidak mau mengakui kesalahannya yang sudah tampak di depan mata. Mereka sibuk melakukan klarifikasi dan pencitraan di depan kamera agar terlihat peduli dan perhatian kepada rakyat. Pejabat yang tidak tahu malu akan selalu merasa benar dan terus mempertahankan jabatannya demi memperkaya diri sendiri. Dalam sistem kapitalisme demokrasi yang hanya mengejar nilai materi dan menjadikan hukum sebagai alat penguasa untuk melindungi kepentingannya, banyak kita temukan pejabat yang tidak tahu malu dan menjadi penyebab kerusakan suatu negara. Saatnya kita kembali kepada sistem Islam yang menjadikan jabatan sebagai amanah untuk mengurusi dan melayani rakyat, bukan dijadikan tujuan untuk memperkaya diri sendiri.[]

Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media Sidoarjo

Loading

Views: 22

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA