Tinta Media – Di tengah visi besar pemerintah untuk menjadikan Indonesia sejajar dengan negara-negara maju, dugaan skandal penelitian palsu mencuat. Berdasarkan berita di laman dw.com, 28/5/2026, perbuatan memalukan tersebut melibatkan warga negara Indonesia (WNI), yakni Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti dalam ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) yang tahun ini dihadiri lebih dari 1.300 peserta dari 86 negara di Kopenhagen, Denmark, pada 17–21 Mei 2026. Kasus tersebut mulai viral setelah epidemiolog Indonesia yang sedang menempuh studi doktoral di Oxford University, Wa Ode Dwi Daningrat, membeberkan adanya kejanggalan selama konferensi berlangsung. Selain merekayasa penelitian, alih-alih mengharumkan nama Indonesia, oknum WNI tersebut memanipulasi identitas peneliti, data riset, hingga mencatut nama sejumlah perguruan tinggi tanpa izin. Parahnya, alasan mereka melakukan hal memalukan tersebut adalah untuk mendapatkan akses jalan-jalan gratis keliling dunia.
Miris, kasus di atas sangat paradoks di tengah minimnya jumlah peneliti di Indonesia. Begitu ada perwakilan WNI yang melakukan publikasi hasil riset di kancah internasional, justru malah mencoreng nama baik bangsa. Dilansir dari laman unpad.ac.id, 29/2/2016, menurut Dr. Berry Juliandi, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, rendahnya publikasi ilmiah para peneliti Indonesia salah satunya disebabkan minimnya pemahaman dan minat riset, terutama di kalangan mahasiswa. Sementara itu, menurut Dicky Sofjan, S.IP., MPP., M.A., Ph.D., seorang peneliti pada Indonesian Consortium for Religious Studies (ICSR) Core Doctoral Faculty and Financial Development, aktivitas riset di Indonesia masih tertinggal. Dari setiap sepuluh dosen di Indonesia, hanya satu orang yang melakukan riset dan publikasi ilmiah. Ia menilai bahwa Indonesia sebenarnya adalah surga untuk melakukan riset. Namun, sayangnya selama ini yang memanfaatkannya justru bukan orang-orang Indonesia.
Dari pernyataan para ahli tersebut, jika melihat kondisi saat ini, mungkin para mahasiswa di Indonesia bukan tidak paham dan tidak tertarik melakukan riset. Namun, sistem pendidikan hari ini tidak membentuk karakter anak-anak bangsa untuk memiliki critical thinking atau rasa ingin tahu yang besar terhadap apa pun. Kurikulumnya lebih menekankan pada aspek kognitif teoretis sehingga membuat siswa kehilangan daya kritisnya. Sistem pendidikan saat ini juga hanya fokus pada penghafalan dan mengejar nilai angka.
Selain itu, sistem pembelajaran saat ini tidak mendorong dan melatih siswa untuk bertanya serta menganalisis kebenaran informasi. Belum lagi aturan standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang memengaruhi objektivitas guru dan kemampuan siswa dalam memahami pelajaran karena tidak didukung sarana dan prasarana yang memadai dari negara. Fakta ini berpengaruh pada rendahnya tingkat literasi anak. Apalagi dengan perkembangan teknologi saat ini yang membuat siswa ketergantungan pada cara-cara dan jawaban instan dari aplikasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Parahnya, anak-anak sekarang sangat suka dan mahir menggunakan gawai, tetapi tidak tertarik dengan buku.
Senada dengan fakta tersebut, menurut Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, untuk memastikan integritas ilmu pengetahuan dan kejujuran akademik dibutuhkan regulasi yang dinamis (detiknews.com, 2/6/2026). Tanggapan juga datang dari Prof. Theddeus Octavianus Hari Prasetyono dari Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) yang menilai persoalan tersebut lebih masuk ke ranah etika dan integritas akademik.
Namun, bagaimana mungkin etika, profesionalisme, dan integritas akademik bisa diwujudkan jika kebijakan pendidikan Indonesia di bawah sistem demokrasi kapitalisme sekularisme masih karut-marut? Dari kasus di atas, kehidupan yang dipayungi oleh sistem hari ini menunjukkan bahwa memiliki gelar akademis yang tinggi tidak lantas membuat seseorang beradab. Padahal, sejatinya pendidikan tinggi bertujuan membentuk karakter, moral, dan etika. Yang terjadi saat ini, penjahat berdasi lebih kejam dibandingkan maling ayam. Tindak kriminal yang dirancang dengan penguasaan ilmu pengetahuan justru jauh lebih berbahaya dan merusak. Intelektualitas tinggi yang tidak diimbangi dengan keimanan dan ketakwaan justru akan melahirkan kehancuran. Hal ini tidak lain karena sekularisme membuat manusia tidak menghadirkan “ruh” keimanan dalam setiap aktivitasnya, termasuk dalam menuntut ilmu dan pengamalannya.
Sebenarnya, kasus terkuaknya riset palsu hanyalah setitik masalah, buah busuk dari sederet permasalahan bangsa saat ini akibat sekularisme. Sebelumnya, ramai menjadi sorotan perkara joki skripsi dan UTBK-SNBT dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Pendidikan yang seharusnya bervisi membentuk kepribadian manusia sebagai hamba Allah justru dikerdilkan dengan hanya mencetak manusia yang haus validasi dan menjadi penipu. Butanya penguasa terhadap tuntunan Al-Qur’an dan sunah menyebabkan arah kebijakan yang semrawut. Pastinya, ini merupakan kenyataan pahit yang tidak akan terjadi apabila penguasa kembali pada aturan Allah Swt.
Dalam aturan Islam, pendidikan merupakan sarana untuk menumbuhkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. sehingga manusia memiliki adab, pola pikir, dan perilaku yang mulia. Dengan memahami akidah Islam, ilmu yang merupakan karunia Allah sekaligus amanah akan dimanfaatkan untuk kebaikan Islam dan kesejahteraan umat. Akidah Islam akan membimbing manusia memahami hakikat ilmu dan untuk apa ilmu itu digunakan. Islam sangat mengedepankan adab karena itulah fondasi bagi para penuntut ilmu. Selain itu, pendidikan Islam menjadikan sosok Rasulullah saw. dan sifat-sifat beliau sebagai teladan utama.
Aturan Islam memandang bahwa pendidikan merupakan hak dasar setiap anak sebagai warga negara. Tidak ada perbedaan akses dan kualitas pendidikan bagi anak kurang mampu ataupun anak orang kaya, baik di kota maupun di pelosok. Sejarah telah menuliskan dengan tinta emas bahwa ajaran Islam justru mendorong manusia untuk menggali dan menadaburi ayat-ayat Allah Swt. melalui keanekaragaman hayati ciptaan-Nya di alam semesta.
Allah Swt. telah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Luqman ayat 29 yang artinya:
“Tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang, memasukkan siang ke dalam malam, dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai pada waktu yang ditentukan? (Tidakkah pula engkau memperhatikan bahwa) sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan?”
Selain ayat di atas, masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi dasar dorongan bagi umat Islam untuk melakukan penelitian. Al-Qur’an merupakan wahyu agar manusia membaca ayat qauliyah dan juga peka membaca ayat-ayat kauniyah yang erat kaitannya dengan riset dan penelitian. Dengan demikian, riset bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana agar manusia lebih mengenal dan memahami ciptaan Allah sekaligus mendekatkan diri kepada-Nya.
Daulah Islam tidak hanya memberi kesempatan dan fasilitas seluas-luasnya kepada masyarakat untuk melakukan penelitian, tetapi juga memberikan apresiasi atas hasil penelitian para ilmuwan serta memanfaatkannya untuk kemajuan agama dan negara. Dengan mempelajari Al-Qur’an, cendekiawan Muslim pada masanya terus memotivasi diri untuk meneliti, menggali, dan menerjemahkan karya-karya dari bangsa Yunani, Persia, dan India. Khalifah Harun ar-Rasyid dan Al-Ma’mun memberikan perlindungan kepada para ilmuwan dan penerjemah dengan memberikan beasiswa serta imbalan yang setimpal, mendirikan perpustakaan, observatorium, dan Rumah Kebijaksanaan (Bayt al-Hikmah) di Baghdad.
Dengan kompetensi dan keterampilan yang dimiliki, ilmuwan Muslim memberikan kontribusi pada perkembangan berbagai ilmu pengetahuan modern, seperti fisika, kimia, kedokteran, matematika, dan astronomi. Namun, kemajuan tersebut mustahil terwujud apabila tidak diiringi dukungan dari penguasa. Oleh sebab itu, tidakkah kita ingin menorehkan kecemerlangan peradaban melalui ilmu pengetahuan seperti para pendahulu kita dengan Islam? Wallahu a’lam bish-shawab.[]
Oleh: Anggun Mustanir
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 12





