Tinta Media – Taukah kamu, bahwa di zaman sekarang manusia itu seakan hidup di dua dunia? Selain hidup di dunia nyata, manusia juga mempunyai kehidupan di dunia lain. Ya, kehidupan di dunia maya ala sosial media. Di antara sekian banyaknya platform media sosial yang ada, tik tok menjadi salah satu yang digandrungi oleh kebanyakan orang, khususnya para remaja. Bahkan ada sebagian netizen (sebutan untuk warga medsos) yang hampir 24 jam kehidupannya selalu dipantau oleh live tik tok.
Standar Hidup ala Tik Tok
Pada dasarnya tik tok hanya sekedar platform media sosial yang digunakan untuk berbagi video. Sama seperti halnya aplikasi media sosial lain yang bisa digunakan untuk berbagai kepentingan. Baik itu yang bisa mendatangkan manfaat maupun mudarat. Semua tergantung pada user (pengguna) atau netizen penikmat aplikasi tersebut.
Sayangnya, jika dibandingkan dengan konten yang bermanfaat, konten-konten ‘sampah’ malah lebih banyak berkeliaran bebas di tik tok. Sekalipun ada filter di aplikasi, nyatanya masih sebebas itu.
Hal inilah yang menjadikan kehidupan para remaja menjadi bermasalah. Karena mereka terlalu banyak menikmati konten ‘sampah’. Banyak konten yang memperlihatkan gaya hidup mewah, seakan semua hal bisa didapatkan dengan mudah. Standar cantik yang sekarang berubah arah ke produk skincare serba murah. Macam-macam video joget viral, yang nir moral. Sampai video kehidupan abnormal pelaku L68T juga dibagi-bagi. Tidak cukup sampai di situ, banyak video yang membagikan cerita orang bunuh diri, juga menarik perhatian para gen z untuk menginginkan nasib yang sama. Ngeri gak sih?
Ingat kalimat yang sering diucapkan oleh bapak ibu guru? “Tontonan akan menjadi tuntunan”. Jika sekarang kita cuma nonton konten-konten itu, besok kita pasti akan meniru. Bahkan akan menjadi standar hidup baru. Standar hidup ala tik tok.
Buah dari Pemikiran Sampah
Miris rasanya, jika kehidupan remaja saat ini menjadi bermasalah akibat konten ‘sampah’. Tapi, seperti kata pepatah, “Tak ada asap, kalau tak ada api”. Tak ada konten ‘sampah’ kalau tak ada pemikiran ‘sampah’ yang mendasarinya. Ya, pemikiran itu adalah liberalisme, yang menjadikan para pelaku bertindak semau mereka tanpa menghiraukan aturan agama. Sekularisme yang menjadikan para remaja dengan santai melakukan kemaksiatan tanpa ada rasa takut dengan Tuhan. Mereka pikir Allah SWT, Tuhan mereka hanya melihat di saat mereka sedang salat. Tapi parahnya, salat pun mereka jadikan konten lelucon demi sebuah kata ‘viral’.
Sudah separah itukah pemikiran remaja Muslim kita?
Remaja muslim harus paham, bahwa sekularisme dan liberalisme serta pemikiran turunannya, bukan berasal dari Islam. Suatu hal yang sangat fatal, jika mereka menjadikan pemikiran asing sebagai jalan hidup. Jelas karena pemikiran itulah yang akan membawa mereka pada kesengsaraan baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Standar Hidup ala Islam
Sudah seharusnya kita berubah. Membuang jauh-jauh pemikiran sampah dan menggantinya dengan pemikiran cemerlang ala Islam.
Islam adalah agama yang sempurna, yang memiliki konsep hidup untuk dijalankan oleh setiap individu yang meyakininya. Seorang muslim memang wajib terikat dengan syariat Islam. Bukan sebagian tapi keseluruhan. Sebagaimana firman Allah SWT:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (TQ.S Al Baqarah : 208)
Menjadikan syariat Islam sebagai standar hidup adalah sebuah keharusan. Tak ada lagi alasan untuk menolaknya. Karena sesungguhnya hal ini juga untuk kebaikan kita. Bukankah memang kita semua diciptakan oleh Allah SWT?
Maka jelas, hanya Allah SWT sajalah yang mengerti betul tentang diri kita, termasuk memberikan standar hidup yang terbaik untuk kita.
Bayangkan saja jika remaja Muslim hari ini juga serius menjadikan syariat Islam sebagai standar hidupnya. Maka pasti mereka akan bernasib sama dengan generasi terbaik yang pernah ada di peradaban dunia. Bukan suatu hal yang tidak mungkin mereka akan lebih maju dan menjadi generasi emas. Kabar baiknya itu semua bukan mimpi, tapi suatu hal yang pasti akan terjadi kembali. Allah SWT pun mengabarkan di dalam Al Qur’an:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ …
Artinya:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…..” (TQ.S Ali Imran: 110)
Pastinya menjadi umat terbaik adalah suatu hal yang tidak mudah. Butuh keyakinan yang kuat dan perjuangan yang tak kenal lelah untuk bisa mencapai predikat tersebut. Maka mulai hari ini, sibukkan diri dengan kebaikan. Maksimalkan waktu yang Allah berikan untuk belajar Islam. Sampai kita sadar bahwa tidak ada yang lebih tinggi dari syariat Sang Illahi.
Khatimah
Sejujurnya upaya untuk menjadikan remaja muslim menjadi generasi emas akan lebih mudah jika negara ikut turun tangan dan mengambil peran. Sebagai pemegang kekuatan terbesar, jelas peran negara dalam membatasi gerak aplikasi media sosial yang ada sangat dibutuhkan. Negara bisa saja memberikan filter lebih lengkap untuk memastikan keamanan konten-konten yang tersebar. Semua ini bisa terwujud jika negara juga mempunyai pemikiran dasar ala Islam. Dengan kata lain, tidak ada solusi tuntas untuk menyelesaikan segala permasalahan kecuali dengan kembali kepada syari’at Islam.
Wallahu ‘alam bii sowab
Oleh: Ummu Hamzah
Muslimah Kendal
![]()
Views: 3





