Tinta Media – Perang di Sudan kembali membara. Dalam tiga hari pertempuran, dilaporkan tak kurang dari 2.000 jiwa menjadi korban (detiknews.com, 31/10/2025). Danau “darah” yang terekam citra satelit membuat dunia terperanjat. Sudan benar-benar membutuhkan solusi cepat dan tuntas untuk menghentikan tragedi kemanusiaan ini.
Kekerasan dan perebutan kekuasaan antara militer dan pasukan paramiliter telah menewaskan ratusan ribu orang. Peperangan bermula ketika dua jenderal yang dulu pernah bersekutu kini saling berebut tahta kekuasaan demi transisi demokrasi yang dijanjikan.
Awal Peperangan Sudan
Perang besar ini sejatinya dimulai sejak 15 April 2023, ketika Jenderal Abdel Fattah Al-Burhan dari militer Sudan (SAF) dan Letjen Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti) dari pasukan Rapid Support Forces (RSF) berkonflik. Dua sekutu lama ini berubah menjadi rival perebut kekuasaan. Perselisihan tersebut menjelma menjadi perang besar yang meluluhlantakkan berbagai kota. Penduduk berhamburan — sebagian mengungsi, sebagian lainnya menjadi korban.
Perebutan kekuasaan, kendali militer, dan penguasaan sumber daya menjadi pemicu utama konflik. Keduanya pernah bekerja sama dalam menggulingkan rezim Omar al-Bashir pada 2019. Namun, hubungan mereka memburuk sejak muncul wacana penyerahan kekuasaan kepada sipil dan penggabungan RSF ke dalam angkatan darat nasional.
RSF sendiri merupakan kelompok bersenjata pro-pemerintah yang dikenal bengis dalam konflik Darfur awal tahun 2000-an. Milisi ini didukung oleh Presiden Omar al-Bashir dan dituduh melakukan genosida terhadap etnis Afrika non-Arab, menewaskan lebih dari 300.000 orang dan membuat jutaan lainnya mengungsi tanpa perlindungan.
Pada 2013, Al-Bashir meresmikan RSF yang kemudian berkembang menjadi kekuatan militer besar dengan 100.000 anggota. Dana mereka bersumber dari tambang emas dan bisnis jual-beli senjata. RSF juga dikabarkan terlibat dalam konflik di Yaman dan Libya. Kini, di bawah pimpinan Hemedti, kelompok ini didominasi etnis Arab dan dituduh kembali melakukan kekerasan etnis di Darfur—menyerang warga non-Arab, rumah sakit, dan kamp pengungsian. Tujuan utamanya tak lain perebutan tanah dan sumber daya.
Konflik yang Tak Kunjung Usai
Konflik di Sudan semakin kompleks. Tragisnya, peperangan ini melibatkan sesama saudara seiman. Sudan Utara (Republik Sudan) dan Sudan Selatan (Republik Sudan Selatan) seolah lupa akan ukhuwah Islamiyyah.
Kekayaan alam, khususnya tambang emas di Darfur, juga menjadi sumber perebutan. Sudan merupakan negara penghasil emas terbesar ketiga di Afrika, setelah Ghana dan Afrika Selatan. Sebagian besar tambang emasnya berada di Darfur, Kordofan, Nil Biru, dan wilayah utara sepanjang Sungai Nil. Kekayaan ini telah mengundang hasrat kekuatan asing. Ironisnya, sebagian besar hasil perdagangan emas justru digunakan untuk membiayai perang.
Kini, pada akhir Oktober 2025, RSF dilaporkan mengepung kota El Fasher yang dihuni 1,2 juta penduduk. Kota itu kini dikepung kelaparan ekstrem tanpa akses pangan dan obat-obatan. Dunia hanya mampu mengeluarkan kecaman, sementara PBB tak berdaya menyuguhkan solusi nyata.
Setelah lepas dari rezim otoriter, transisi politik justru membuat Sudan kian terpuruk. Negara kehilangan arah pengurusan. Keamanan rakyat tergadaikan oleh ambisi dan intervensi imperialisme Barat.
Semua ini menunjukkan betapa rusaknya tatanan politik dan sistem global saat ini. Kekerasan menjadi jalan yang seolah tak terhindarkan. Rakyat pun terperangkap dalam penderitaan tanpa ujung.
Sistem Rusak, Rakyat Terluka
Sistem kapitalisme sekuler yang berbasis imperialisme terbukti gagal menjaga hak-hak rakyat. Padahal, Sudan memiliki kekayaan alam yang melimpah. Namun, hasilnya tak pernah dinikmati rakyat. Harapan hidup sejahtera hanya menjadi mimpi di tengah derita panjang peperangan.
Penjagaan Islam: Solusi yang Menuntaskan
Islam hadir sebagai ideologi yang memancarkan seperangkat aturan kehidupan. Syariat Islam diturunkan Allah Swt. untuk mengatur seluruh urusan manusia, termasuk dalam hal kekuasaan dan politik luar negeri.
Islam menolak imperialisme dalam bentuk apa pun—baik melalui penjajahan militer, perampasan sumber daya, maupun bencana kemanusiaan.
Tragedi Sudan seharusnya menyadarkan umat Islam bahwa penyelesaian hakiki hanya dapat diwujudkan melalui penerapan sistem Islam secara menyeluruh dalam wadah khas yang dicontohkan Rasulullah saw., yaitu Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.
Dengan institusi Khilafah, kekuatan militer akan diarahkan untuk menjaga umat, mengusir penjajah, dan menegakkan keadilan sejati. Rasulullah saw. bersabda dalam riwayat Ibnu Majah: “Jika para pemimpin mereka tidak memerintah berdasarkan Kitab Allah dan tidak mencari kebaikan dari apa yang diturunkan Allah, niscaya Allah akan menjadikan mereka saling berperang.”
Tidak ada pilihan lain. Hanya sistem Islam dalam bingkai Khilafah yang mampu menuntaskan akar konflik. Dengannya, umat akan terjaga dan negara akan menjadi pelindung sejati bagi rakyatnya. Wallahualam bissawab.
Oleh: Yuke Octavianty,
Forum Literasi Muslimah Bogor
![]()
Views: 25











