Tinta Media – Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi menetapkan organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir, Lebanon, dan Yordania sebagai kelompok “teroris”. Padahal, jika ditinjau secara objektif, kebijakan dan tindakan Amerika Serikat sendiri justru lebih layak disebut sebagai bentuk terorisme. Aksi militer yang dilakukan terhadap Venezuela, misalnya, merupakan bentuk teror politik yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk menimbulkan rasa takut massal demi mencapai tujuan politik, yakni menekan rival-rival Israel di panggung global. Sesungguhnya, Amerika dan Israel justru merupakan pihak yang paling sering melakukan tindakan terorisme nyata.
Banyak pihak mengetahui bagaimana sepak terjang Israel terhadap penduduk Gaza di Palestina. Tindakan brutal, pengeboman tanpa henti, serta pembunuhan terhadap warga sipil menunjukkan perilaku yang jauh dari nilai kemanusiaan. Amerika dan Israel telah menjadi dua negara yang menyebabkan kerusakan besar di muka bumi, tetapi ironisnya mereka mengeklaim bahwa semua tindakan itu dilakukan demi kebaikan dan keamanan dunia. Bahkan, Presiden Trump berani mencampuri urusan dalam negeri negara berdaulat dengan berbagai intervensi politik. Alasan yang disampaikan sering kali adalah untuk menghentikan peredaran narkoba atau menjaga stabilitas, namun banyak pihak menilai bahwa tujuan sebenarnya adalah menguasai sumber daya strategis, termasuk minyak dunia.
Negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim seharusnya menggalang persatuan agar aksi-aksi intimidasi dan tekanan politik dari Amerika dapat dihentikan. Apalagi Trump secara terang-terangan mengaitkan tuduhan terorisme dengan kelompok-kelompok Islam. Presiden Donald Trump telah menginstruksikan jajarannya untuk menyusun daftar hitam organisasi yang dianggap teroris, terutama yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan Amerika dan Israel.
Pemerintahan Trump berdalih bahwa organisasi-organisasi tersebut memberikan dukungan kepada Hamas dan melakukan aktivitas yang dianggap merugikan kepentingan Israel di Timur Tengah. Padahal, Hamas dikenal sebagai gerakan politik dan militer rakyat Palestina yang berjuang membebaskan tanah airnya dari penjajahan Israel. Perjuangan Hamas seharusnya dipahami sebagai upaya mempertahankan hak hidup dan kemerdekaan. Oleh karena itu, tujuan mulia Hamas layak mendapatkan dukungan moral dari umat manusia. Sebaliknya, aksi terorisme yang dilakukan oleh Amerika dan Israel semestinya dihentikan dan dijadikan musuh bersama agar dunia dapat hidup dalam kedamaian.
Namun kenyataannya, negeri-negeri muslim sulit bersatu karena terpecah-pecah oleh batas-batas nation state dan semangat nasionalisme sempit. Mereka lebih banyak sibuk dengan urusan dalam negeri masing-masing dan kurang peduli terhadap penderitaan saudara-saudara muslim di belahan dunia lain. Akibatnya, umat Islam menjadi lemah dan mudah ditekan oleh negara-negara adidaya seperti Amerika.
Umat Islam sesungguhnya membutuhkan persatuan yang kukuh di bawah naungan Khilafah untuk menyatukan kekuatan yang saat ini tercerai-berai. Dengan persatuan itulah, berbagai bentuk kezaliman dan terorisme yang dilakukan Amerika dan Israel dapat dihentikan, sehingga keadilan dan perdamaian dunia benar-benar dapat terwujud. Wallahualam bissawab.
Oleh: Mochamad Efendi,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 48







