Kecanggihan AI: Antara Harapan dan Kekhawatiran

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kecerdasan buatan kini bukan lagi wacana masa depan. AI mampu menulis artikel, mendiagnosis penyakit, menerjemahkan kitab kuning dalam hitungan detik, hingga memalsukan wajah ulama dengan sangat meyakinkan. Data UNESCO Agustus 2026 mencatat 500 juta konten deepfake beredar di internet, dan Kominfo menyebut 45% hoaks di Indonesia tahun ini dibuat dengan bantuan AI. Di satu sisi, kita berharap AI mempermudah dakwah dan pendidikan, di sisi lain kita khawatir AI justru menjadi sumber fitnah besar.

Allah Swt. berfirman, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78). Setiap teknologi adalah titipan Allah yang harus disyukuri dengan menggunakannya di jalan yang benar. Rasulullah bersabda, “Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran. Jika urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran.” (HR. Bukhari). Ketika fatwa agama, pendidikan anak, bahkan putusan hukum diserahkan sepenuhnya pada mesin yang tidak memiliki iman, maka itulah bentuk menyia-nyiakan amanah.

Pada masa Kekhilafahan Abbasiyah, umat Islam tidak pernah antiteknologi. Khalifah Al-Ma’mun mendirikan Baitul Hikmah sebagai pusat teknologi tercanggih dunia saat itu. Kertas dari Cina, astrolab dari Yunani, dan angka dari India diadopsi dan dikembangkan. Namun, semua berada di bawah kendali negara dan ulama. Al-Khawarizmi menemukan algoritma, cikal bakal AI, dan ilmunya digunakan untuk kemaslahatan, seperti menghitung waris dan jadwal salat, bukan untuk menipu. Teknologi maju, tapi akidah tetap terjaga.

Fakta hari ini berbeda. AI dibiarkan liar tanpa kendali. Ada chatbot yang berani menjawab hukum halal haram tanpa sanad, ada video deepfake kyai yang mengajak investasi bodong, dan ada pelajar yang lebih percaya jawaban AI daripada gurunya. Harapan dan kekhawatiran berjalan beriringan.

Solusi Islam sangat jelas. Pertama, negara harus hadir mengatur AI seperti Umar bin Khattab mengatur pasar agar tidak ada penipuan. AI harus diawasi agar tidak merusak akidah dan akhlak. Kedua, ulama dan santri harus menjadi pemain utama dalam pengembangan AI, bukan hanya penonton. Ketiga, umat harus dididik bahwa AI hanya alat, bukan sumber kebenaran. Kebenaran mutlak hanya dari Al-Qur’an dan Sunah. AI bisa menjadi alat percepatan kebaikan jika di tangan orang beriman, namun bisa menjadi fitnah akhir zaman jika dibiarkan tanpa iman.

Oleh: Kamila Azzahra
(Sahabat Tinta Media)

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA