Tinta Media – Momen perayaan Hari Raya Idul Fitri 1446 H/2025 M yang seharusnya penuh kebahagiaan, kini masih bercampur dengan kesedihan mendalam bagi umat Islam.
Hal ini diungkapkan oleh Mubaligh Tangerang Selatan (Tangsel), Ustadz Abu Nadzira, dalam khotbahnya yang bertema Idul Fitri: Momentum Perubahan dari Kegelapan Kapitalisme-Sekuler Menuju Cahaya Islam, yang digelar di area parkir Rumah Makan Pecel Lele PJA, Jalan Raya Viktor, Buaran, Serpong, pada Ahad (30/3/2025).
“Kebahagiaan ini masih bercampur dengan kesedihan yang menyayat hati,” ujarnya.
Di hadapan tak kurang dari seribuan jama’ah yang hadir, dalam khotbahnya, Ustadz Abu Nadzira menyoroti berbagai permasalahan yang melanda negeri dan dunia Islam secara umum.
Menurutnya, meskipun Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, namun umat Islam masih hidup dalam sistem kapitalisme-sekularis yang mencabut keberkahan dan menjauhkan manusia dari nilai-nilai Islam.
“Lihatlah di tanah air kita sendiri! Aneka kezaliman makin menusuk hati. Ragam sumber daya alam (SDA) dieksploitasi. Bukan untuk kepentingan rakyat yang merintih setiap hari, tetapi untuk dinikmati oleh segelintir oligarki,” ungkapnya.
Jutaan hektar hutan pun, dibabat. Semata-mata demi kepentingan sesaat. Itu pun, sebut Abu Nadzira, bukan untuk kemaslahatan rakyat, tetapi untuk menambah pundi-pundi kekayaan para konglomerat.
Selain itu, ia juga menyinggung kasus mega korupsi yang terus merajalela, utang negara yang semakin membengkak, serta berbagai kebijakan yang dinilainya membebani rakyat.
“Aneka pajak makin membebani. Tanah rakyat begitu mudah dirampas oleh oligarki. Angka pengangguran makin menjadi-jadi. Kemiskinan makin menyesakkan dada,” lanjutnya.
Ia juga menyoroti dekadensi moral yang semakin mengkhawatirkan dengan maraknya kasus pinjaman dan judi online (pinjol dan judol), serta meningkatnya tindak kriminalitas seperti perzinaan, pemerkosaan, LGBT, narkoba, hingga pembunuhan.
“Hukum makin tumpul ke atas, tetapi makin tajam ke bawah. Akibatnya, keadilan makin jauh dari harapan,” imbuhnya.
Mengutip Al-Qur’an Surat Ar-Ruum ayat 41, Abu Nadzira lantas menegaskan bahwa semua kerusakan ini terjadi akibat ulah manusia yang melupakan aturan Tuhan.
Tak hanya itu, Ia juga menyatakan, di tengah gema takbir Idul Fitri hari ini, kaum Muslimin masih menyaksikan penderitaan saudara-saudara seiman yang makin mengiris hati.
“Mulai dari Myanmar, Xinjiang, Yaman, India hingga Palestina. Darah umat Islam pun terus ditumpahkan. Bahkan Bulan Ramadhan kaum zionis Yahudi justru semakin beringas melakukan pembantaian,” geramnya.
Akan tetapi, Abu Nadzira menyayangkan sikap sebagian penguasa Muslim, terutama para penguasa Arab. Bukannya memerangi entitas Yahudi, mereka justru memilih berdamai dan melakukan normalisasi. Mereka bahkan berteman akrab dengan entitas Yahudi.
“Para penguasa tersebut begitu tega mengkhianati saudara-saudara mereka. Bahkan mereka berani mengkhianati Allah SWT. Dan Rasul-Nya, yang telah menyuruh mereka melindungi umatnya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
”Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Jangan pula kalian mengkhianati amanah-amanah kalian, sementara kalian tahu,” tegasnya membacakan Al-Qur’an Surat Al-Anfal ayat 27.
Dengan retoris, ia lantas mempertanyakan, “Apakah keadaan ini akan kita biarkan sampai merusak semua sendi kehidupan, termasuk menghancurkan keluarga kita?”
Jawabannya, sambung Abu Nadzira, tentu tidak! Kita harus segera keluar dari kegelapan dunia ini. Menuju cahaya Islam yang menerangi.
“Caranya tidak lain dengan bersegera menerapkan hukum-hukum Al-Qur’an. Cukuplah firman Allah Surat Al-Maidah ayat 50 yang menjadi alasan,
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوْقِنُوْنَ
”Apakah sistem hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik hukumnya dibandingkan dengan (hukum) Allah bagi kaum yang yakin?” pungkasnya.[] Muhar
![]()
Views: 12
















