Tinta Media – Jika cara berpikir hanya mengandalkan aturan hidup dari sistem demokrasi kapitalisme, bisa dipastikan kemajuan hidup dan cara berpikir yang sehat cerdas tidak akan dapat diraih. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai pegangan hidup bagi setiap individu, masyarakat, dan juga negara. Bukan malah masyarakat yang justru paham isi Al-Qur’an dicurigai radikal dan anti NKRI. Masyarakat pun digiring untuk benci Al-Qur’an.
Allah berfirman dalam Al-Imran 19 yang artinya:
“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah ialah Islam. Orang-orang yang telah diberi kitab tidak berselisih, kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Siapa yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan(-Nya).”
Melalui Nabi Muhamad SAW sebagai Rasul, aturan dan ajaran tentang Islam diwahyukan oleh Allah agar hamba-Nya yang beriman paham, yakin, dan langsung mengamalkannya ajaran agama sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.
Cendekiawan muslim Ustadz Ismail Yusanto (UIY) menegaskan bahwa Al-Qur’an itu pembeda antara benar dan salah seperti disampaikan di kanal One Umma TV, Ahad (16/3/2025). Ia mengatakan bahwa manusia dari sejak dahulu sampai sekarang sangat membutuhkan kemampuan untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Jika tidak ada perjuangan memampukan diri untuk bisa membedakan benar dan salah, bisa dipastikan akan terjadi kekacauan.
UIY juga memberikan contoh jika saja manusia selalu menggunakan Al-Qur’an sebagai pedoman jalan hidup maka akan mudah membedakan dari masalah gender yang hanya ada dua gender yaitu laki-laki dan perempuan. Tapi yang terjadi dewasa ini fakta ala Barat karena tidak ada petunjuk mana yang benar mana yang salah campur baur tidak bisa membedakannya.
UIY juga merasa aneh bila ada orang Islam menjauhi Al-Qur’an karena itu dapat dipastikan tidak akan ada petunjuk yang benar dan kehilangan arah dalam menjalani kehidupan apabila Al-Qur’an tidak dijadikan pegangan hidup. Merupakan kewajiban seorang muslim untuk menjiwai, memahami, dan mengamalkan isi yang terkandung dalam Al-Qur’an bagi individu, masyarakat, dan negara. Ini dilakukan dengan iman dan takwa kepada Pencipta dunia dan seisinya.
Jangan lelah berdakwah yang merupakan salah satu kewajiban kita menyuarakan kebenaran yang hakiki. Seperti yang umat Islam tahu bahwa lebih ditingkatkan lagi frekuensi membaca Al-Qur’an di bulan suci Ramadhan dapat menjadi syafaat di hari kiamat, di antaranya dapat menentramkan jiwa, mendapat pahala yang berlipat ganda. Setiap huruf yang kita baca pahalanya berlipat-lipat. Membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk mendekatkan diri pada Ilahi. Al-Qur’an dan Sunnah adalah sumber hukum Islam yang menjadi fondasi keimanan dengan keyakinan yang kuat.
Kondisi negeri seperti sekarang ini serba sulit. Maka saatnya kembali kepada Islam kafah. Momentum bulan Ramadhan adalah waktu tepat kita meningkatkan ketakwaan pada Allah, mencintai Al-Qur’an dan mengamalkan isinya karena perintah Allah.
Wallahu a’lam bishawab.
Oleh: Ica
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 15
















