Tinta Media – Perayaan HUT ke-80 RI tahun ini sudah tidak lagi disambut meriah seperti dulu. Bagaimana tidak, kemerdekaan yang seharusnya membuktikan bahwa negara sudah sukses menyejahterakan rakyat, tetapi nyatanya justru makin menderita. Indonesia sedang terjajah, tetapi bukan oleh orang asing, melainkan oleh sekelompok orang yang mengaku sebangsa dan setanah air.
Berbagai permasalahan yang terjadi mulai dari ekonomi yang sulit, pendidikan yang mahal dan gagal, hukum yang tidak adil, politik yang curang, kesehatan yang tidak terjamin, kebijakan yang mementingkan kepentingan pemerintah dan para pemilik modal, serta tuntutan negara yang banyak dan rumit kepada rakyat.
Permasalahan tersebut seharusnya segera diselesaikan. Akan tetapi, jangankan diselesaikan, bahkan didengar pun tidak. Rakyat yang menyadari bahwa pemerintah tidak berpihak pada rakyat hanya bisa bersuara dengan aksi. Aksi ini pun tidak mendapatkan respons baik dari pemerintah. Polisi didapati sering meluncurkan gas air mata dan membabi buta memukul rakyat. Padahal, polisi juga bagian dari rakyat yang hanya menjalankan tugasnya sebagai penjaga keamanan negara. Justru para pejabat yang mengaku sebagai pemimpin dan wakil rakyatlah yang harusnya jadi sasaran inti karena mereka yang mengatur, berkuasa, dan yang bertanggung jawab atas segala kerusuhan dan kerusakan yang terjadi di negara ini.
Pemerintah seolah tuli dan bisu melihat fakta yang terjadi. Pemerintah tidak peduli dengan segala kesulitan yang dialami masyarakat. Pemerintah hanya mementingkan kepentingan kapitalis dan enggan peduli kepada rakyat.
Banyaknya kasus penyimpangan yang dilakukan oleh oknum pelajar juga menambah daftar panjang betapa buruknya dampak sistem kapitalisme. Kapitalisme tidak menjadikan Islam sebagai sistem pendidikan. Pemahaman Islam mulai dikikis, diarsir, bahkan dipisahkan dari pendidikan dan semua sendi kehidupan. Pendidikan harusnya membentuk kepribadian yang beradab, berilmu, dan beriman. Namun, kapitalisme justru membentuk kepribadian yang keras, brutal, agresif, bahkan tidak layak disebut pelajar.
Peran pemerintah sangatlah penting bagi kesejahteraan masyarakat dalam segala aspek kehidupan. Akan tetapi, hanya pemerintah yang menerapkan sistem Islam yang bisa menciptakannya. Sistem Islam adalah satu-satunya sistem sahih, memuaskan akal, dan sesuai dengan fitrah manusia.
Maka, Islam menjadikan para pemimpin sebagai pengurus, pelayan, dan pelindung rakyat. Hal ini memastikan rakyat terurus dan hidup sejahtera serta benar-benar merasakan kemerdekaan yang hakiki dari penjajahan. Ingat, bukan hanya sekadar bebas dari penjajahan fisik, tetapi merdeka dari penjajahan pemikiran, ekonomi, politik, budaya dan berbagai kebijakan zalim lainnya. Wallahualam bissawab.
Oleh: Ummu Aiman
Sahabat Tinta Media
Views: 39
















