Tinta Media – Delapan dekade Indonesia merdeka. Namun, dunia pendidikan negeri ini masih menyimpan wajah luka. Di pelosok-pelosok negeri, anak-anak belajar di ruang kelas berdinding papan reyot, lantai tanah, papan tulis berlubang. SD Negeri 084 Amballong di Luwu Utara, misalnya, hanyalah satu potret kecil dari ratusan sekolah bernasib serupa. Di Nunukan, Sambas, hingga pedalaman lain, kondisi tak jauh berbeda: sekolah terbatas, akses transportasi sulit, dan biaya mahal. Ironisnya, di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan, pendidikan masih menjadi kemewahan bagi sebagian besar rakyat.
Data yang Mengguncang
Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mencatat tingkat partisipasi sekolah remaja usia 16–18 tahun hanya 74,64%. Artinya, seperempat generasi usia SMA tidak mengenyam bangku sekolah. Lebih parah, partisipasi pendidikan tinggi hanya 30–40%. Dengan kata lain, mayoritas pemuda Indonesia tidak memiliki akses ke perguruan tinggi.
Bukan hanya fasilitas yang terbatas, faktor ekonomi juga mencekik. Banyak siswa kesulitan membeli seragam, buku, bahkan sepatu. Di sisi lain, kesejahteraan guru pun menyedihkan. Guru honorer bertahun-tahun mengabdi dengan gaji tak layak, tanpa kepastian status. Di Tasikmalaya, mereka bahkan melakukan mogok massal menuntut keadilan.
Lebih menyedihkan lagi, RAPBN 2026 justru mengalokasikan hampir separuh dana pendidikan untuk MBG. Anggaran pendidikan yang seharusnya memperbaiki sarana, meningkatkan kualitas guru, dan memperluas akses justru dipinggirkan.
Kapitalisme: Pendidikan Menjadi Barang Mewah
Akar masalah pendidikan hari ini adalah cengkeraman kapitalisme. Sistem ini menjadikan pendidikan sebagai komoditas, bukan hak dasar rakyat. Sekolah dan universitas dikelola layaknya perusahaan. Biaya pendidikan terus naik, sementara kualitas tak kunjung merata.
Ijazah dijadikan barang dagangan, sekadar tiket gengsi sosial dan akses kerja. Kurikulum disusun mengikuti kebutuhan pasar global, menghasilkan lulusan yang “siap kerja”, tetapi tidak siap memimpin peradaban. Pendidikan dipersempit menjadi mesin pencetak buruh murah untuk kepentingan industri kapitalis.
Guru dan siswa pun terimpit administrasi yang kaku, sementara mutu pendidikan terus timpang antara kota dan desa, kaya dan miskin. Selama kapitalisme bercokol, pendidikan akan terus terpasung oleh logika uang.
Islam Menawarkan Jalan Keluar
Berbeda dengan kapitalisme, Islam menempatkan pendidikan sebagai kewajiban negara dan hak rakyat. Dalam politik pendidikan Islam, negara memikul tanggung jawab penuh untuk mencetak generasi berilmu, berakhlak, dan berperadaban.
Beberapa prinsip utama pendidikan Islam:
1. Landasan akidah Islam. Tujuan, kurikulum, dan metode berpijak pada akidah Islam, membentuk pola pikir dan jiwa islami.
2. Orientasi peradaban. Pendidikan diarahkan untuk membangun umat yang cerdas dan pemimpin peradaban.
3. Dibiayai negara. Pendidikan, dari fasilitas, buku, hingga kesejahteraan guru, ditanggung penuh oleh baitulmal.
4. Gratis dan merata. Layanan pendidikan diberikan tanpa diskriminasi.
5. Kurikulum komprehensif. Ilmu syariat dipadukan dengan ilmu umum sehingga melahirkan ulama sekaligus ilmuwan.
6. Melahirkan generasi pemimpin. Pendidikan mencetak generasi tangguh, bukan sekadar pekerja rendahan.
Sejarah mencatat, sistem pendidikan Khilafah telah melahirkan ilmuwan besar, seperti: Al-Khawarizmi (aljabar), Ibnu Sina (kedokteran), Jabir Ibnu Hayyan (kimia), hingga Sultan Muhammad Al-Fatih, pemimpin yang menaklukkan Konstantinopel. Semua lahir dari sistem pendidikan yang berorientasi peradaban, bukan pasar.
Penutup
Delapan puluh tahun kemerdekaan belum berhasil memerdekakan pendidikan dari jerat kapitalisme. Sekolah masih menjadi komoditas. Pendidikan masih terbatas untuk mereka yang punya uang, sementara rakyat kecil hanya bisa bermimpi.
Maka, pertanyaan mendasarnya, kapan pendidikan benar-benar merdeka? Jawabannya, hanya ada pada sistem yang menempatkan pendidikan sebagai hak rakyat, bukan komoditas pasar. Sistem itu adalah Islam kafah dalam naungan Khilafah.
Selama kapitalisme masih menjadi fondasi negeri ini, jangan pernah berharap pendidikan bisa melahirkan generasi pemimpin peradaban. Yang lahir hanyalah tenaga kerja murah untuk melanggengkan kepentingan kapitalis global. Wallahualam bissawab.
Oleh: Dian Mayasari
Sahabat Tinta Media
Views: 29
















