Kemerdekaan Semu ala Kapitalis

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Bulan Agustus menjadi salah satu bulan yang istimewa untuk sebagian masyarakat Indonesia. Euforia kemerdekaan 80 tahun lalu dikenang dan diperingati dengan berbagai upacara, pesta, dan lomba. Akan tetapi, benarkah sesungguhnya Indonesia sudah merdeka?

Dalam KBBI arti merdeka adalah bebas (dari segala bentuk penindasan dan penjajahan), berdiri sendiri, tidak terjajah, tidak terikat, dan tidak bergantung pada orang atau pihak tertentu. Secara lebih luas, merdeka juga bisa diartikan sebagai kebebasan dari segala bentuk penindasan dan tekanan, baik secara fisik maupun mental.

Setelah kita mengetahui arti merdeka, nampak nya arti ini tidak berlaku di bumi pertiwi. Meskipun secara de jure Indonesia dinyatakan merdeka, tetapi secara de facto pemikiran, mindset, dan cara pandang penjajah itu tetap dipertahankan, terutama oleh para penguasa dan elite politiknya.

Secara fisik Indonesia memang sudah bebas dari peperangan, sedangkan penjajahan nonfisik terus berlangsung melalui pemikiran, pendidikan, budaya dan soft power. Kemerdekaan semu yang masih diperingati menyimpan segudang problematik baik dari sisi politik, sosial, ekonomi, pendidikan, keadilan, dll. Masyarakat dihadapkan dengan berbagai persoalan kehidupan. Pada sektor ekonomi, banyak terjadi PHK terhadap pekerja dan sempitnya lapangan kerja. Sehingga, besar pasak daripada tiang masih menjadi ironi masyarakat yang hidup di negara kaya sumber daya alam. Hal ini diperburuk dengan harga yang semakin merangkak naik sementara penghasilan masyarakat stagnan bahkan melandai. Akibatnya, masyarakat terpaksa makan tabungan. Fenomena warga makan tabungan mengindikasikan bahwa uang yang selama ini ditabung terpaksa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. (CNBC Indonesia, 08/08/2025)

Krisis keimanan pun tak luput dari permasalahan. Berbagai pemikiran rusak ditanamkan seperti Islam moderat, dialog antaragama, dan deradikalisasi yang menjadikan umat jauh dari pemikiran Islam. Umat Islam tak bisa lagi berpikir sahih akibat penjajahan pemikiran ini.

Begitu juga dengan moral anak bangsa yang kian terdegradasi. Kasus perundungan, pembunuhan, perampokan, dan tindakan kriminal lainnya menjadi tayangan sehari-hari dalam pemberitaan di berbagai media.

Terpampang nyata sejatinya Indonesia masih terjajah secara hakiki. Kemerdekaan yang digadang-gadang seharusnya tampak pada kesejahteraan rakyat, yaitu terpenuhinya basic needs tiap rakyat baik sandang, pangan, papan, pendidikan, keamanan, dan kesehatan. Saat rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, esensinya Indonesia belum merdeka secara hakiki. Kemerdekaan juga akan terlihat dari kebangkitan berpikir umat Islam.

Kondisi menyengsarakan ini merupakan akibat penerapan sistem sekuler kapitalisme yang sampai kapan pun tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat, tetapi lebih condong melayani kepentingan kapitalis. Akibatnya, kapitalis makin eksis, sedangkan rakyat makin melarat.

Solusi hakiki atas kondisi negeri yang belum merdeka adalah sistem Islam kaffah yang diterapkan dalam naungan Daulah Islam. Sistem yang mampu terbukti menyejahterakan rakyat selama 13 abad lebih dengan mengelola kepemilikan umum dan mengalokasikan hasilnya untuk kesejahteraan rakyat.

Negara Islam akan serius dalam meriayah dan menjamin kesejahteraan rakyat dengan memenuhi basic needs rakyat (sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan). Pada sektor ekonomi, negara Islam melakukan industrialisasi sehingga membuka lapangan pekerjaan. Negara juga memberikan tanah yang sudah tidak dikelola selama dua tahun kemudian dibagikan pada warga yang mau menghidupkan. Bagi fakir miskin, negara tidak hanya memeliharanya saja, tetapi memberikan santunan dari baitulmal. Dari aspek pemikiran, sistem Islam akan memproteksi pemikiran umat dari pemikiran batil dengan edukasi Islam kaffah agar senantiasa sejalan dengan syariat Islam.

Dengan menyaksikan keterpurukan di semua lini kehidupan, saatnya beralih dari kemerdekaan semu menuju kemerdekaan hakiki. Untuk meraihnya butuh aksi nyata meraih perubahan hakiki. Dakwah adalah metode yang dicontohkan Rasulullah saw. untuk mewujudkan perubahan. Oleh karena itu, tidak ada cara yang lebih baik selain meneladani Rasulullah saw., yaitu mewujudkan perubahan sistem kufur menuju sistem sahih Islam yang dipimpin oleh jemaah dakwah ideologis. Wallahualam bissawab

 

Oleh: Fitria Hizbi

Sahabat Tinta Media

Views: 41

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA