Tinta Media – Delapan puluh tahun kemerdekaan Republik Indonesia, sungguh angka yang tidak muda. Bak seseorang hidup pada usia 80 tahun, telah rapuh bahkan kemungkinan hanya terbaring di tempat tidur. Sama halnya dengan negeri ini, bertambahnya usia seharusnya yang dibenahi pula bertambah banyak. Tentu diperlukan pemimpin negara, staf-staf negeri, elemen masyarakat, serta yang amat penting sistem perundang-undangan. Seluruh elemen ini bersinergi membangun negeri menjadi negara maju, independen, serta berkarisma agar disegani dan menjadi role model bagi negeri-negeri di luar sana.
Segala lini kehidupan semestinya menjadi aspek-aspek yang perlu dievaluasi. Apakah peraturan yang diterapkan telah menyejahterakan rakyat? Apakah semua bantuan-bantuan yang diselenggarakan atas nama warga Indonesia sudah sampai dan diterima secara merata? Apakah hukum yang diterapkan telah adil tanpa memandang status kedudukan? Apakah seluruh elemen masyarakat bebas menyampaikan pendapat dan ekspresinya tanpa pembungkaman? Apakah hak-hak atau aset warga negara sepenuhnya menjadi milik mereka tanpa perampasan? Apakah kesehatan warga negara menjadi prioritas untuk mencapai Indonesia emas? Jelas sekali, negeri ini memiliki banyak PR remedial yang perlu diperbaiki atas karut-marut negeri kita tercinta.
Jagat maya dan dunia kesehatan geger akibat kasus seorang balita berusia 4 tahun tewas disebabkan cacing yang menggerogoti tubuhnya. Cacing-cacing tersebut dikeluarkan dari mulut, hidung, dan anusnya. Raya berkediaman di Pandangeyan, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Kematian Raya tidak hanya disebabkan oleh cacing yang mengerogoti tubuhnya. Akan tetapi, Raya terlambat diberikan penanganan oleh pihak rumah sakit sebab Raya terbukti belum terdaftar sebagai pasien BPJS. Gerakan sosial sudah berusaha mendatangi Dinas Sosial kota Sukabumi namun nihil solusi. Hingga akhirnya ironis, Raya meninggal dunia. (Kompas.com, 21/08/2025)
Memprihatinkan! Dari kasus Raya kita bisa mengambil benang merah, bahwa sistem kesehatan hari ini gagal memberikan pelayanan terbaik kepada setiap warga negara. Rakyat tidak menjadi prioritas pemimpin. Rakyat dicari apabila menjelang pemilu untuk sekadar meraup suara. Nyawa rakyat seolah tidak ada harganya.
Sistem kesehatan dan sekelumit pemenuhan administrasinya pun mempersulit masyarakat, tidak peduli sekaratnya kondisi pasien. Parahnya, sekadar terdaftar tidaknya sebagai peserta kesehatan BPJS menjadi penghalang pemberian layanan kesehatan. Apa sebenarnya yang diinginkan rezim hari ini? Bukankah menginginkan Indonesia emas? Lantas, kesehatan masyarakat tidak menjadi prioritas. Hati nurani pejabat-pejabat negeri telah dibeli oleh uang. Telinga dan mata mereka ditutup oleh uang, serta tangan dan kaki mereka berat untuk menolong karena telah tertahan oleh uang.
Padahal, negara yang maju adalah negara yang amat memperhatikan kesehatan warganya. Bagaimana bisa melahirkan generasi cerdas apabila kesehatannya tidak diperhatikan? Ke mana Dinas Sosial? Apakah jiwa sosial mereka pun sudah terbeli dengan uang? Sungguh ironi negeriku!
Berbicara kesehatan, Rasulullah saw. telah banyak mencontohkan kebiasaan hidup sehari-hari untuk mencegah dan menghindari penyakit, seperti: mengutamakan kebersihan, makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang, mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air, sepertiga oksigen, mengonsumsi susu, madu, dan pengobatan herbal lainnya.
Penyediaan fasilitas dan infrastruktur kesehatan juga dilakukan dalam sistem kesehatan Islam. Pada kurun abad ke 9-10 M, Qusta ibn Luqa, Ar-Razi (Ibn Sina), Al-Jazzar, dan Al-Masihi membangun sistem pengelolaan sampah perkotaan sisi hulu untuk mencegah penyakit sehingga beban si hilir dalam pengobatan jauh lebih ringan. Kemudian, dibangun rumah sakit hamper di semua kota wilayah Daulah Khilafah. Fasilitas rumah sakit disediakan gratis kepada seluruh warga daulah tanpa terkecuali. (al-Wai’e, 22/08/2025)
Kaum Muslimin semestinya menyadari bahwa kesehatan tidak hanya urusan dokter tetapi urusan individu untuk menjaga kesehatan. Selain itu, harus ada sinergi antara negara yang memfasilitasi kesehatan terpadu, pejabat negeri yang kepeduliannya tinggi atas rakyatnya, peraturan kesehatan yang tidak memperumit rakyat, serta pengembangan teknologi kesehatan. Hal ini hanya bisa terwujud jika sistem Islam diterapkan secara kaffah dalam naungan Daulah Khilafah. Wallahualam bissawab.
Oleh: Rika Ishvasa
Sahabat Tinta Media
Views: 30










