Ketika Ruang Publik Tak Lagi Aman: Negara Gagal Memberikan Perlindungan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kasus penculikan Bilqis Ramdhani (4) mengguncang publik dan membuka kembali luka lama tentang lemahnya perlindungan anak di negeri ini. Bilqis diculik saat bermain di Taman Pakui, Kota Makassar—ruang publik yang seharusnya aman bagi keluarga. Enam hari kemudian, ia ditemukan di Jambi, ratusan kilometer dari lokasi awal. Tragedi ini bukan sekadar tindakan kriminal, tetapi cerminan kegagalan negara menciptakan lingkungan aman bagi anak-anak. Di negeri yang mengeklaim menjunjung tinggi perlindungan anak, seorang balita bisa hilang begitu saja di ruang terbuka tanpa ada yang mampu mencegah.

Keamanan Anak di Indonesia Masih Rentan

Kasus Bilqis menyingkap beberapa fakta penting:

1. Penculikan anak terus berulang di berbagai kota, menunjukkan pola kejahatan yang sistematis, bukan insidental.

2. Dugaan keterlibatan sindikat TPPO, dengan mobilitas lintas kota dan provinsi, menunjukkan kejahatan yang terorganisasi.

3. Pelibatan masyarakat adat untuk menutupi tindakan pelaku menunjukkan betapa rentannya kelompok tertentu untuk dieksploitasi.

Semua ini menegaskan bahwa ruang publik Indonesia belum aman bagi anak-anak. (Tribunnews.com, 16/11/2025)

Akar Masalah: Lemahnya Sistem Keamanan Negara

Ruang publik seperti taman, jalan umum, tempat wisata, dan area bermain anak tidak memiliki pengawasan memadai. CCTV sering tidak berfungsi, aparat jarang tampak, dan masyarakat tidak dibina untuk saling menjaga. Sistem hukum pun gagal memberi efek jera. Meski ancaman hukuman bagi penculikan berat, praktiknya lamban, rumit, dan tidak menakutkan bagi sindikat TPPO.
Kejahatan pun menyasar kelompok rentan—anak-anak, masyarakat adat, dan keluarga miskin—karena minimnya perlindungan sosial dan lemahnya pengawasan negara. Pada akhirnya, bukan sekadar pelaku yang tega menculik, tetapi negara yang tidak mampu mencegah dan melindungi rakyatnya.

Keamanan pun menjadi sesuatu yang harus “dibeli”—mulai dari menyewa satpam kompleks, membayar iuran keamanan, membentuk ronda swadaya, hingga memasang CCTV pribadi. Semua ini muncul karena hilangnya peran negara sebagai pelindung utama rakyat.

Keamanan adalah Kebutuhan Pokok yang Wajib Dipenuhi Negara

Islam menempatkan keamanan sebagai kebutuhan dasar yang wajib dijamin negara. Rasulullah ﷺ bersabda: “Imam (pemimpin) adalah pengurus urusan rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari dan Muslim). Artinya, negara wajib menjaga keselamatan setiap individu, termasuk anak-anak.

Dalam sistem Islam, negara menurunkan aparat resmi seperti syurthah (polisi), muhtasib, dan penjaga keamanan yang tersebar di seluruh pemukiman tanpa memungut biaya dari rakyat. Pengawasan dilakukan merata—tidak membedakan kaya atau miskin. Keamanan bukan barang mewah untuk warga kompleks elite, tetapi hak seluruh rakyat.

Selain itu, Islam menerapkan sanksi tegas dan menimbulkan efek jera terhadap penculikan, TPPO, perdagangan manusia, penyekapan, maupun penipuan terhadap anak. Hukum ditegakkan cepat, adil, dan proporsional, sehingga sindikat kejahatan tidak punya ruang berkembang.

Islam juga membangun lingkungan sosial yang saling menjaga—masyarakat dibina agar bertakwa, peduli, dan peka terhadap bahaya. Pendidikan akhlak sejak kecil dan pengawasan sosial yang kuat menciptakan komunitas yang sulit ditembus kejahatan terorganisasi.

Khatimah

Kasus Bilqis adalah alarm keras bahwa sistem hari ini tidak aman. Ini bukan sekadar kabar duka, tetapi bukti nyata bahwa negara gagal memenuhi kebutuhan dasar: keamanan jiwa rakyat. Islam menawarkan solusi komprehensif—negara wajib menjamin keamanan, aparat hadir tanpa biaya, hukum ditegakkan tegas, dan masyarakat dibangun agar saling menjaga. Jika sistem ini diterapkan, kejahatan seperti penculikan dan TPPO tidak akan menemukan ruang hidup. Selama keamanan dibebankan kepada rakyat dan negara tidak mengambil peran penuh, anak-anak akan terus berada dalam ancaman. Sudah saatnya mempertimbangkan solusi Islam secara serius sebagai jalan menuju negara yang aman, adil, dan melindungi setiap jiwa. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Eka Sulistya,

Aktivis Muslimah

Loading

Views: 41

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA