Tinta Media – Publik kembali dikejutkan oleh meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan pelajar—sebuah tragedi yang menampar nurani bangsa. Dalam sepekan terakhir, dua anak ditemukan meninggal dunia di Kabupaten Cianjur dan Sukabumi, Jawa Barat, diduga akibat bunuh diri. Kasus serupa juga terjadi di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, di mana dua siswa SMP, Bagindo dan Arif, ditemukan meninggal di lingkungan sekolah mereka pada Oktober 2025. Hasil penyelidikan kepolisian menyebutkan tidak ada indikasi bullying dalam kedua kasus ini. (tirto.id, 05/11/2025)
Ironisnya, fakta ini beriringan dengan data yang disampaikan Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono (30/10/2025), bahwa dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis, lebih dari dua juta anak Indonesia mengalami berbagai bentuk gangguan mental dari 20 juta jiwa yang telah diperiksa. Angka tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental anak dan remaja di negeri ini sudah berada di titik yang mengkhawatirkan.
Generasi Rapuh, Buah Sistem Pendidikan Sekuler
Fenomena meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan pelajar tidak bisa disederhanakan sebagai akibat bullying atau tekanan lingkungan semata. Lebih dalam dari itu, ia adalah cerminan rapuhnya kepribadian generasi muda akibat sistem pendidikan sekuler yang diterapkan di negeri ini.
Pendidikan sekuler menekankan aspek akademik dan capaian duniawi, namun mengabaikan pembinaan akidah serta pembentukan kepribadian islami. Akibatnya, lahirlah generasi cerdas secara intelektual tetapi kosong secara spiritual. Agama hanya dijadikan pelajaran teori, tidak menjadi dasar berpikir dan berperilaku. Anak-anak tumbuh dalam kekosongan makna hidup. Ketika dihadapkan pada tekanan, kegagalan, atau konflik keluarga, mereka kehilangan daya tahan ruhiyah untuk bangkit. Inilah buah pahit dari pendidikan yang mencabut hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Paradigma pendidikan Barat pun memperparah keadaan. Barat menetapkan bahwa kedewasaan baru dimulai di usia 18 tahun, padahal Islam mengukur kedewasaan melalui balig dan akil. Artinya, anak yang telah balig semestinya dididik untuk matang secara akal dan siap memikul tanggung jawab hidup sesuai syariat. Namun, sistem sekuler justru memperlakukan mereka seolah masih anak-anak, tanpa pembekalan akidah dan kesadaran peran hidup sebagai hamba Allah. Akibatnya, mereka tidak siap menghadapi realitas kehidupan yang penuh ujian.
Kapitalisme dan Akar Krisis Mental
Bunuh diri merupakan puncak dari gangguan kesehatan mental, sedangkan gangguan mental itu sendiri merupakan buah dari kehidupan di bawah sistem kapitalisme. Sistem ini menekan manusia dengan berbagai tuntutan hidup—mulai dari kesulitan ekonomi, persaingan akademik dan karier, keretakan keluarga akibat perceraian, hingga tekanan sosial dari gaya hidup materialistis.
Kapitalisme yang menuhankan materi berpadu dengan sekularisme yang menyingkirkan agama dari kehidupan. Keduanya menciptakan masyarakat yang kehilangan arah dan makna hidup. Lebih dari itu, media sosial dalam sistem liberal kini menjadi ruang bebas tanpa kendali. Paparan konten bunuh diri, curhat keputusasaan, hingga komunitas daring yang “meromantisasi” kematian justru memperburuk kondisi mental anak. Negara yang seharusnya hadir melindungi justru lalai, karena sistem sekuler menolak campur tangan agama dalam pengaturan kehidupan sosial.
Islam, Solusi Hakiki untuk Menjaga Jiwa Generasi
Islam memiliki sistem pendidikan yang kukuh dalam membangun kepribadian anak. Dasar pendidikan Islam adalah akidah, yang menjadi fondasi dalam keluarga, sekolah, dan seluruh jenjang pembelajaran. Tujuan pendidikan Islam bukan hanya mencetak siswa berprestasi, tetapi membentuk pola pikir dan pola sikap islami sehingga lahir generasi yang kuat secara ruhiyah dan akal.
Allah Swt. berfirman: “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit…” (QS. Thaha: 124)
Ayat ini menegaskan bahwa jauhnya manusia dari tuntunan Allah adalah sumber utama kegelisahan dan kehampaan hidup.
Dalam pandangan Islam, ketika seorang anak mencapai balig, ia diarahkan untuk menjadi akil—cerdas dalam berpikir dan matang dalam mengambil keputusan. Pendidikan sebelum balig diarahkan untuk menumbuhkan keimanan, menanamkan tanggung jawab, dan melatih keteguhan hati. Inilah yang membuat generasi Islam terdahulu mampu menghadapi ujian hidup dengan sabar dan penuh kesadaran akan tujuan hidupnya.
Lebih luas lagi, penerapan sistem Islam secara menyeluruh akan mencegah gangguan mental yang disebabkan oleh ketimpangan sosial dan tekanan ekonomi. Dalam sistem Khilafah, negara menjamin pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, memperkuat keluarga melalui penerapan hukum Islam, serta menanamkan arah hidup yang jelas: beribadah kepada Allah Swt.
Kurikulum pendidikan dalam Khilafah akan memadukan penguatan kepribadian islami dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Anak dididik bukan hanya untuk pintar, tetapi juga benar. Dengan cara ini, mereka mampu menyikapi berbagai persoalan hidup dengan ketenangan iman, bukan dengan keputusasaan.
Khatimah
Fenomena meningkatnya angka bunuh diri di kalangan pelajar harus menjadi tamparan keras bagi bangsa ini. Selama sistem pendidikan sekuler kapitalisme terus dipertahankan, maka krisis mental, rapuhnya iman, dan hilangnya makna hidup akan terus berulang.
Inilah saatnya umat membuka mata. Solusi hakiki hanya akan lahir dari sistem Islam yang membangun generasi beriman, berilmu, dan berkepribadian tangguh. Sistem yang menjadikan Allah sebagai tujuan hidup, bukan materi atau popularitas semu.
Hanya dengan kembalinya pendidikan Islam dalam naungan Khilafah, akan lahir generasi yang kuat akidahnya, sehat jiwanya, dan tangguh menghadapi kehidupan. Wallahualam bissawab.
Oleh: Chaya Yuliatri,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 25
















