Dilema Guru yang Tak Lagi Digugu dan Ditiru

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Dunia pendidikan kembali mendapat sorotan tajam setelah beredar luas di media sosial sebuah foto seorang siswa SMA Makassar berinisial AS dengan santainya merokok dan mengangkat kaki di samping gurunya yang bernama Ambo. Sungguh, ini adalah dilema besar yang dihadapi para pendidik di era modern saat ini. Di satu sisi, ada guru yang ragu bertindak karena takut dicap melanggar HAM. Di sisi lain, ada pendidik yang memilih jalur kekerasan seperti kasus di Banten seorang kepala sekolah yang menampar muridnya karena ketahuan merokok di lingkungan sekolah yang menuai kecaman luas dan dianggap sebagai tindak kekerasan. (detik.com, 18/10/2025)

 

Kasus ini menjadi antitesis tajam dari insiden yang terjadi di Banten baru-baru ini. Sang guru, Ambo, memilih kehati-hatian yang berujung pada kesan pembiaran. Sementara itu, kepala sekolah di Banten mengambil tindakan sebaliknya. Dua peristiwa ini meskipun terjadi di tempat yang berbeda dengan respons yang kontras, sebenarnya berakar dari masalah yang sama, yaitu adanya ruang abu-abu dalam penerapan disiplin siswa dan tergerusnya wibawa guru.

 

Perhatian pemerintah untuk dunia pendidikan masih sangat minim. Ini cermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah dari adab dan budi pekerti yang baik dan masih jauh dari konsep adab lebih tinggi dari ilmu. Di zaman yang terus berkembang pesat ini, peran guru sebagai pendidik dan pembimbing sangat penting dalam membetuk karakter dan pengetahuan generasi muda.

 

Namun, tantangan besar yang dihadapi oleh guru adalah perlakuan tidak hormat dan penghinaan dari murid-murid mereka. Dalam beberapa tahun terakhir ini peran seorang guru tampak terganggu oleh tren pelaporan dan intimidasi terhadap guru terkait cara mendisiplinkan siswa. Hal ini menjadi masalah besar bagi para guru. Apakah mereka akan tetap menjalankan tugas sebagai pembimbing atau memilih diam untuk menghindari masalah?

 

Dalam sistem kapitalisme sekuler, pendidikan saat ini tidak ada perlindungan yang jelas bagi guru. Karena, guru berada di dalam tekanan yang luar biasa. Sistem pendidikan sekuler yang diterapkan saat ini memberikan ruang kebebasan dan telah terbukti gagal mencetak generasi yang bertakwa dan berahlak mulia.

 

Dalam Islam, guru adalah pilar peradaban. Posisi seorang guru sangat dihormati dan dimuliakan karena melalui tangan tangan merekalah akan mencipatakan generasi penerus peradaban yang bertakwa dan berakhlak mulia. Guru bukan hanya gudang ilmu, melainkan pendidik yang harus memberikan suri teladan yang baik bagi muridnya. Sistem pendidikan Islam mengajarkan bagaimana pelajar mempunyai pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan Islam. Sehingga, akan mencetak generasi yang mempunyai kesadaran bahwa tujuan diciptakannya manusia untuk beribadah dan segala sesuatunya akan di pertanggungjawabkan kelak. Remaja atau generasi Muslim harus bangkit dan berprinsip menjadi generasi yang beriman dan bertakwa. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Ema Ummu Fathir,

Sahabat Tinta Media

Views: 38

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA