Tinta Media – Direktur The Economic Future Islamic (TEFI) Dr. Yuana Tri Utomo mengatakan bahwa ekonomi Islam itu realistis dan bermartabat membangkitkan ekonomi rakyat.
“Ekonomi Islam, dengan prinsip-prinsip anti riba, kemudian distribusi adil, larangan monopoli itu dapat menjadi jalan alternatif, bahkan jalan satu-satunya yang realistis dan bermartabat untuk membangkitkan ekonomi rakyat,” tuturnya dalam Kabar Petang: Delapan Persen Purbaya, Ahad (9/11/2025) di kanal YouTube Khilafah News.
“Serta menyelamatkan negeri ini dari jebakan kapitalisme global. Dari jebakan kapitalisme global yang menjadikan negeri kita itu tergantung pada asing itu,” imbuhnya.
Menurutnya, ajaran Islam sudah menjadi keyakinan negeri ini, atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa itu, harus diterapkan secara menyeluruh, secara kafah, sehingga bisa menjamin keberhasilan pembangunan negeri ini. Bukan permukaannya syariah, tapi kemudian isinya bukan. Sekedar kosmetik syariah di atas fondasi sistem yang timpang, sistem yang lama. “Jangan sampai begitu. Mengapa? Karena Islam kan memandang ekonomi itu bukan hanya urusan angka-angka saja, bukan hanya urusan statistik-statistik saja. berapa angka pertumbuhan, berapa angka kemiskinan,” ungkapnya.
“Tidak hanya itu, tapi Islam memandang ekonomi itu sebagai bentuk ibadah, sebagai bentuk amaliah yang kemudian diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa taala sebagai bentuk keadilan sosial kita,” tukasnya.
Ia menyebutkan bahwa di dalam Al Quran, surah Hasyr ayat 7 dikatakan agar supaya harta-harta itu tidak beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian. “Artinya agar orang kaya-kaya itu mau membelanjakan harta untuk kesejahteraan masyarakat bersama menjadi keadilan bersama,” bebernya.
“Artinya, tujuan utama ekonomi Islam bukan pertumbuhan material semata. Tetapi memang menjamin distribusi kekayaan secara adil, menghapus eksploitasi, menjaga martabat manusia,” paparnya.
Menurutnya, ini sangat berbeda dengan sistem kapitalisme yang sekarang diterapkan di negeri kita ini. Yang Menuhankan keuntungan materi semata. “Kalau kapitalisme kan begitu,” ujarnya.
Sementara, lanjutnya, kalau ekonomi Islam, menempatkan keadilan, menempatkan kemaslahatan atau maslahah itu sebagai poros kebijakan.
“Setiap rezim, setiap pemerintah, setiap penguasa ketika mau mengambil sebuah kebijakan, mau memutuskan segala sesuatu, pasti dipertimbangkan, ini halal atau haram, ini mendatangkan maslahat atau tidak. Terikat dengan keimanannya, terikat dengan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa taala,” tandasnya.[] Ajira
![]()
Views: 42







