Tinta Media – Pasca-Ramadan, hilal Syawal pun muncul sebagai tanda hari kemenangan tiba. Gema takbir berkumandang sebagai ungkapan syukur, memuji kebesaran Allah Swt., serta mengakui bahwa tidak ada yang layak ditaati selain perintah-Nya. Namun sayang, sebagian umat menyikapinya sebagai kemenangan atas pencapaian ibadah individu semata, bukan kemenangan global umat Islam. Padahal, ada sebagian muslim yang didera nestapa lebih dari 77 tahun, hidup dalam kondisi konflik yang tak berkesudahan. Sudut Gaza bergulat dalam ketakutan, berjuang sendiri. Warga Gaza berduka di hari raya; tepatnya pada hari pertama, ribuan keluarga kehilangan rumah dan orang-orang tercinta. Takbir tetap berkumandang di tengah kehancuran akibat agresi Israel. Dalam kondisi memprihatinkan, salat Idulfitri di atas puing-puing tetap ditegakkan. Rumah mereka pun berganti tenda darurat.
Fakta kabar Gaza di MinaNews, Jumat, 27 Maret 2026, mengabarkan kondisi 2,4 juta muslim Gaza yang merayakan Idulfitri dalam keadaan krisis pangan, hidup di tengah reruntuhan infrastruktur, serta sulit mendapatkan air bersih dan obat-obatan. Serangan udara telah menewaskan 677 warga Palestina dan melukai 1.800 lainnya. Lebih dari 2 miliar umat muslim di dunia, sebagian mencoba mengirim bantuan, dengan harapan 40 persen truk dapat melalui penyeberangan Rafah. Namun, jalur masuk Rafah masih diperketat. Sementara itu, masyarakat internasional telah menyerukan kecaman, tetapi faktanya Israel tetap melakukan lebih dari 2.000 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sejak Oktober 2025.
Melalui tayangan kanal Liputan6, tampak jelas betapa teguhnya keimanan muslim Gaza di tengah kehancuran. Salat tetap ditegakkan, diiringi derai tangisan dan doa dari jutaan warga muslim Gaza yang menutup momen salat Id. Pengakuan dan ungkapan kesedihan dari pengungsi Mona Al Joujou dan Maha Mortaga menunjukkan bahwa Idulfitri dipenuhi kehancuran, ketakutan, dan kesedihan. Sebagian besar kehilangan keluarga tercinta. Mereka menjalani hari-hari dengan rasa takut karena pembantaian masih terus terjadi. Namun, mereka tetap yakin dan bersyukur bahwa hanya kekuatan dan pertolongan Allah Swt. yang dapat diandalkan.
Ketika konflik Amerika dan Israel memerangi Iran, situasi ini membuat Gaza seolah dapat bernapas lega sementara. Amerika sejatinya diliputi kekhawatiran atas kegagalan diplomasi dalam negosiasi perjanjian nuklir (JCPOA), sejak Iran mengumumkan penghentian komitmennya pada Oktober 2025. Pengembangan senjata nuklir oleh Iran dianggap sebagai kekuatan militer yang mengancam keamanan internasional. Terlebih, Amerika juga menduga Iran memiliki jaringan sekutu seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi yang dinilai membahayakan Israel sebagai sekutu Amerika. Serangan Amerika dan Israel terhadap Iran, dalam perspektif global, dipandang sebagai serangan pencegahan.
Umat muslim di negara-negara Arab Teluk dan sekitarnya sejatinya kehilangan kepercayaan diri. Ironisnya, mereka justru bersekutu dengan negara kafir, yang dianggap sebagai pengkhianatan terhadap umat Islam. Ikatan seakidah terkalahkan oleh kepentingan geopolitik masing-masing negara. Amerika Serikat mengambil keuntungan dari konflik di Timur Tengah, di antaranya melalui penjualan pasokan senjata, investasi pasar global, serta kerja sama di bidang teknologi. Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan lainnya bersekutu dengan Amerika dalam menghadapi Iran. Demi kepentingan tersebut, negara-negara dengan mayoritas muslim justru melupakan saudara seiman di Gaza.
Makna kemenangan di hari raya Idulfitri seharusnya menjadi kemenangan yang hakiki, yaitu kemenangan yang mempersatukan umat. Namun, yang terjadi justru lebih mengedepankan kepentingan nasionalisme. Negara-negara penjajah berhasil menanamkan konsep sistem teritorial di masing-masing negeri. Umat Islam tidak menyadari bahwa kondisi ini dapat menimbulkan konflik sesama muslim. Kepentingan keamanan, ekonomi, dan politik nasional mengakibatkan lebih dari 2 miliar umat Islam tidak memiliki kekuatan militer yang memadai. Lebih mengenaskan lagi, sesama umat muslim tidak dapat membantu saudaranya di Gaza, bahkan cenderung bekerja sama dengan negara kafir.
Bagi Amerika dan Israel, kemerdekaan Palestina seolah tidak akan pernah ada. Keduanya memiliki kepentingan politik global untuk menguasai sumber daya alam di negeri-negeri muslim. Penjajah Barat berhasil menanamkan ide nasionalisme untuk memecah belah persatuan umat, serta menggeser pola pikir umat agar aturan Islam hanya terbatas pada ibadah ritual. Hal ini berpotensi melahirkan sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Melalui sistem ekonomi kapitalisme, penjajah melegalkan eksploitasi sumber daya alam melalui berbagai perjanjian yang melibatkan para penguasa.
Dalam perspektif Islam, ikatan pemersatu yang paling sejati adalah akidah. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 10 ditegaskan bahwa umat mukmin adalah bersaudara. Rasulullah saw. mengibaratkan umat Islam seperti satu tubuh; jika satu anggota sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit. Derita Gaza seharusnya menjadi derita umat muslim di seluruh dunia. Batas-batas nasionalisme yang mengekang kekuasaan wilayah seharusnya dirobohkan. Umat Islam harus menyadari bahwa upaya menghapus penjajahan di negeri-negeri muslim hanya dapat dilakukan dengan perubahan pola pikir, yaitu menjadikan akidah Islam sebagai penguat ukhuah islamiah secara global.
Mengambil hikmah dari aksi balasan Iran terhadap Amerika dan Israel, hal tersebut dipandang sebagai bentuk ketegasan kedaulatan negara yang memiliki kekuatan militer untuk melawan tekanan dan penjajahan. Dalam tafsir Al-Qur’an Surah Al-Fath ayat 29, diajarkan untuk bersikap lemah lembut terhadap sesama muslim dan tegas terhadap orang kafir. Namun, ketegasan Iran saat ini masih sebatas dalam kerangka teritorial dan belum mengarah pada revolusi sistem yang mempersatukan umat Islam. Iran masih berorientasi pada stabilitas ekonomi, politik, dan militer nasional.
Sistem kapitalisme global yang mendominasi negara-negara kuat menciptakan jurang kekuasaan politik dan menekan negara-negara lemah untuk bersekutu. Persekutuan ini justru memicu konflik di antara negara-negara mayoritas muslim. Solusi yang ditawarkan negara berparadigma kapitalisme masih sebatas menjaga stabilitas ekonomi dan politik dengan dalih kebijakan internasional. Selama sistem ini berlangsung, konflik akan terus terjadi dan perdamaian dunia tidak akan pernah terwujud.
Menyelesaikan penjajahan di Gaza dan konflik Timur Tengah yang didominasi negara-negara mayoritas muslim seharusnya berangkat dari kesadaran bahwa hanya ada satu sistem pengaturan yang mampu memberikan keadilan menyeluruh, yaitu sistem pemerintahan Islam. Sistem ini diyakini mampu menjaga stabilitas keamanan, melindungi umat, dan menegakkan keadilan dalam berbagai aspek kehidupan. Sistem pemerintahan Islam tidak bertujuan menindas atau mengeksploitasi negara lain, melainkan menjaga keadilan secara global. Penjajahan di Gaza, dalam pandangan ini, hanya dapat diselesaikan melalui jihad, yaitu upaya menjaga agama, jiwa, dan kehormatan umat Islam.
Dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 123, Allah Swt. menyeru umat mukmin untuk bersikap tegas terhadap orang kafir yang melakukan kezaliman dan tidak menyerah. Perintah jihad dipahami sebagai upaya melawan kezaliman tersebut. Namun, pelaksanaan jihad dalam skala global diyakini hanya dapat terwujud apabila kekuatan militer dunia Islam berada di bawah satu komando. Persatuan negeri-negeri muslim menjadi wujud ketangguhan dan kesiapan umat dalam membangun kekuatan yang berdaulat untuk melindungi seluruh wilayah yang berada dalam satu kesatuan tersebut.
Oleh: Dewi Poncowati
Aktivis Muslimah Peduli Generasi
![]()
Views: 8
















