Tinta Media – Perundungan atau bullying merupakan persoalan serius yang berdampak besar pada kehidupan anak dan remaja di lingkungan sekolah. Tindak bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan verbal, sosial, bahkan digital. Setiap hari, praktik ini kian meresahkan dan membuat kita bergidik ngeri.
Salah satu contoh dampak bullying adalah kasus seorang santri di Aceh Besar yang ditetapkan sebagai tersangka pembakaran asrama pondok pesantren tempat ia belajar. Santri tersebut diduga melakukan aksi itu karena sakit hati setelah kerap menjadi korban bullying. Proses hukum telah naik ke tahap penyidikan sejak 31 Oktober. Meski tidak ada korban jiwa, kerugian mencapai Rp2 miliar.
Kasus lainnya terjadi di SMAN 72 Jakarta. Seorang siswa yang juga diduga menjadi korban bullying melakukan aksi peledakan sebagai bentuk balas dendam. Peristiwa yang terjadi pada 27 Oktober itu mengungkap fakta bahwa pelaku membawa tujuh bom. Dua di antaranya meledak di area masjid saat salat Jumat dan melukai 96 siswa. Dua bom lainnya meledak di Taman Baca dan Bank Sampah, sementara sisanya gagal meledak.
Dua kasus ini menunjukkan betapa besar dampak bullying —baik dari sisi korban jiwa maupun kerugian materi. Ironisnya, para pelaku adalah remaja yang masih berstatus pelajar, yang sejatinya merupakan korban bullying dan mengalami tekanan mental akibat ejekan, pelecehan, serta pengucilan.
Dari tahun ke tahun, jumlah kasus bullying terus meningkat, terutama di lingkungan pendidikan. Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat 194 kasus pada 2022, melonjak menjadi 573 kasus pada 2024. Angka ini hanyalah yang tercatat; jumlah sesungguhnya bisa jauh lebih besar. Lebih mengkhawatirkan lagi, sebelum dua kasus besar ini terjadi, sudah banyak korban bullying yang memilih mengakhiri hidupnya. Sepanjang 2025, setidaknya tercatat 25 kasus bunuh diri pada anak, sebagian di antaranya merupakan korban bullying.
Meningkatnya kasus bullying dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya media sosial yang kerap menjadi wadah penyebaran konten negatif dan memengaruhi pikiran remaja yang sedang berkembang. Ditambah dengan disfungsi peran orang tua, lemahnya struktur keluarga dan masyarakat, serta ketidakjelasan peran lembaga pendidikan—media sosial seolah mengambil alih peran sebagai guru dan teman bagi remaja.
Keadaan diperparah dengan dominasi paham sekularisme yang meresap ke seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Sistem pendidikan sekular mengabaikan peran agama dan lebih banyak melahirkan generasi yang sekuler, liberal, individualis, serta materialistis—jauh dari nilai agama. Akibatnya, tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun karakter bermartabat semakin tampak seperti angan-angan. Realitasnya, pendidikan terseret arus liberalisasi dan kapitalisasi, sehingga fokusnya bergeser pada kepentingan material dan bisnis para kapitalis. Pelajar dididik semata-mata untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah, bukan dibina menjadi manusia berkarakter luhur.
Berbeda dengan negara yang menerapkan sistem Islam kaffah, yakni Khilafah. Sistem pendidikannya bertujuan membentuk manusia berkepribadian Islam dengan keterampilan unggul di berbagai bidang. Tujuan ini ditopang oleh kurikulum dan metode pembelajaran yang terintegrasi dengan penerapan seluruh aturan Islam. Didukung sistem politik, ekonomi, dan keuangan yang matang, Khilafah mampu menyediakan pendidikan berkualitas secara gratis bagi seluruh rakyat. Negara bertanggung jawab penuh atas sarana prasarana dan pendidik, sehingga tercetak generasi berkepribadian Islam, cemerlang, dan siap menyebarkan risalah Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Ali ‘Imran ayat 110: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah.”
Karena itu, generasi emas hanya akan terwujud melalui penerapan Islam kaffah dalam naungan Khilafah, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh generasi-generasi Islam terdahulu sejak masa Rasulullah saw. hingga Daulah Utsmaniyah. Wallahualam bissawab.
Oleh: Thaqiyunna Dewi, S.I.Kom.,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 52
















