Tinta Media – Belakangan ini dua peristiwa memilukan kembali menguatkan betapa seriusnya krisis akhlak dan kesehatan mental remaja Indonesia—baik yang terjadi di lingkungan pesantren maupun sekolah umum. Di Aceh Besar, seorang santri nekat membakar asrama Pesantren Babul Maghfirah setelah bertahun-tahun mengalami perundungan. Ia sering dipanggil “idiot” dan “tolol”, hingga akhirnya memilih aksi destruktif sebagai bentuk balas dendam.
Sementara itu, di Jakarta Utara, ledakan dua kali mengguncang SMAN 72 saat pelaksanaan salat Jumat. Ledakan yang dipicu dari area _sound system_ membuat polisi menurunkan tim Jibom. Salah satu dugaan yang sedang ditelusuri adalah adanya riwayat perundungan yang mempengaruhi kondisi psikologis pelaku.
Dua peristiwa ini bukan sekadar berita. Ia adalah cermin retak dari krisis moral dan sosial remaja hari ini, di mana _bullying_ bukan lagi sebatas ejekan, tetapi berubah menjadi tindakan ekstrem yang mengancam keselamatan banyak orang.
Ada beberapa alasan mengapa _bullying_ bisa memicu krisis akhlak:
1. Trauma dan tekanan psikologis yang diabaikan. _Bullying_ adalah luka batin yang sering tidak terlihat. Remaja yang terus dirundung merasa tidak memiliki ruang aman untuk bersuara. Ketidakmampuan mengekspresikan beban inilah yang sering berujung pada keputusan ekstrem.
2. Krisis identitas dan kegersangan spiritual. Ketika ajaran Islam hanya dipahami sebatas ritual, bukan sebagai pedoman hidup, remaja tumbuh tanpa pegangan akhlak yang kukuh. Kehampaan spiritual membuat mereka mudah terseret arus negatif.
3. Lingkungan sosial yang permisif terhadap agresi. Baik pesantren maupun sekolah umum tidak luput dari budaya senioritas tanpa kontrol, tekanan akademis, serta minimnya perhatian terhadap kesehatan mental.
4. Pendampingan yang reaktif, bukan preventif. Banyak lembaga pendidikan hanya memberikan konseling setelah tragedi terjadi. Padahal, remaja membutuhkan pendamping yang hadir sebelum masalah membesar.
Bullying di Era Digital: Luka yang Berlipat
Media sosial memperparah situasi. Ejekan anonim, _body shaming_, komentar kasar, hingga perundungan massal membuat remaja hidup dalam tekanan yang tak berhenti. Mereka terlihat “ramai di internet”, namun sangat kesepian di dunia nyata. Validasi lebih sering dicari di layar daripada di ruang keluarga maupun komunitas.
Normalisasi agresi di dunia maya akhirnya menormalkan agresi di dunia nyata.
Krisis Teladan di Tengah Umat
Islam menekankan pentingnya _uswah hasanah_—keteladanan yang baik. Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa kekuatan sejati hadir dalam kelembutan dan hikmah. Ketika remaja kehilangan figur yang dapat dijadikan panutan, mereka mudah mengambil contoh dari lingkungan kasar atau konten digital yang merusak.
Solusi Islam Kafah
Islam memiliki mekanisme untuk menata ulang akhlak dan jiwa generasi, yaitu:
1. Pendidikan akhlak berbasis Al-Qur’an dan As-Sunnah. Nilai-nilai seperti sabar, empati, adab, dan amar makruf nahi mungkar harus menjadi inti pendidikan—bukan sekadar tempelan.
2. Sistem mentoring spiritual dan sosial. Lembaga pendidikan perlu menghadirkan mentor yang membimbing, merangkul, dan menjadi tempat curhat yang aman bagi remaja.
3. Program kesehatan mental berbasis Islam. Konseling harus dilengkapi dengan pendekatan keimanan seperti zikir, _muhasabah_, dan penguatan akidah.
4. Membangun kultur ukhuah yang sehat. _Halaqah_ adab, kerja sosial, dan kajian rutin dapat menumbuhkan rasa memiliki sehingga _bullying_ tidak mendapat tempat.
5. Pendidikan resolusi konflik. Nilai _syura_, _ta’awun_, dan keadilan harus diajarkan sebagai mekanisme penyelesaian masalah tanpa kekerasan.
6. Peran besar orang tua dan komunitas. Orang tua harus peka terhadap perubahan perilaku anak. Komunitas muslim juga wajib terlibat membina akhlak generasi secara kolektif.
Alarm Moral bagi Umat
Kasus santri di Aceh maupun ledakan di SMAN 72 adalah alarm keras bagi masyarakat. _Bullying_, krisis akhlak, dan kehampaan spiritual dapat mengantar remaja pada tindakan destruktif. Saatnya kembali mempraktikkan Islam secara kafah—bukan hanya ritual, tetapi sebagai sistem akhlak, sosial, dan spiritual.
Dengan penerapan ajaran Islam yang utuh, insyaallah kita dapat membangun generasi yang kuat secara mental, lembut akhlaknya, dan terjaga dari perilaku destruktif. Wallahualam bissawab.
Oleh: Imma Kurniati
Pejuang Dakwah
![]()
Views: 35
















