Generation Gap: Rekayasa Kapitalisme Menghancurkan Keluarga Muslim

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Peradaban manusia di dunia senantiasa mengalami perubahan. Dahulu, manusia berinteraksi dengan cara saling berkunjung dan menempuh perjalanan untuk bertemu serta berkomunikasi. Seiring berjalannya waktu, muncul surat-menyurat, kemudian telepon, hingga pada abad ke-21 ini internet hadir sebagai sarana utama interaksi. Kini, manusia berkomunikasi melalui _smartphone_ dan media sosial, seolah jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang.

Sejalan dengan perkembangan zaman dan teknologi, setiap generasi memperoleh pengalaman hidup dan cara pandang yang khas. Karena itu, para sosiolog memberi penamaan pada tiap generasi. Generasi Baby Boomers adalah mereka yang lahir setelah Perang Dunia II (1946–1964). Generasi X lahir pada rentang 1965–1980. Generasi Y atau Milenial lahir pada 1981–1996. Generasi Z lahir pada 1997–2012, sedangkan Generasi Alpha lahir pada 2013–2025.

Saat ini kita berada di era digital, ketika digitalisasi terjadi di hampir seluruh bidang kehidupan. Platform digital menjadi ruang utama interaksi masyarakat, khususnya generasi muda, yaitu Generasi Z. Screentime atau waktu yang dihabiskan untuk menatap layar gawai oleh Gen Z di Indonesia sangat tinggi, mencapai 7–9 jam per hari. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata _screentime_ dunia yang berada di kisaran 6 jam 45 menit per hari. Screen time berlebihan dapat menyebabkan kecanduan serta berdampak pada kesehatan, seperti gangguan tidur, obesitas, menurunnya konsentrasi, masalah fisik pada leher dan punggung, serta terganggunya hubungan sosial dengan orang di sekitarnya.

Gen Z merupakan digital native sejati yang lahir dan tumbuh seiring dengan pesatnya digitalisasi. Karakter khas mereka adalah mandiri, praktis, menyukai kecepatan, serta sangat bergantung pada internet dan media sosial. Namun demikian, Gen Z juga menghadapi tantangan serius, seperti emosi yang kurang stabil, kerentanan terhadap kecanduan teknologi, dan gangguan kesehatan.

Fenomena Gen Z yang asyik dengan gawainya dan sulit diajak berkomunikasi oleh orang tua sudah menjadi pemandangan umum. Mereka seakan merasa tidak lagi membutuhkan bimbingan karena hampir semua persoalan dapat dicari solusinya melalui gawai, kecuali soal uang tunai. Kondisi ini menjadi berbahaya ketika Gen Z lebih mempercayai informasi dari media sosial dibandingkan nasihat orang tua.

Dari sinilah potensi terjadinya generation gap semakin besar.Generation gap atau kesenjangan generasi adalah kondisi terputusnya hubungan antargenerasi akibat perbedaan nilai, keyakinan, dan cara pandang hidup. Kesenjangan ini sering muncul dalam bentuk miskomunikasi, salah paham, hingga konflik atau perdebatan antara generasi tua dan generasi muda.

Gen Z yang terpapar narasi media sosial kerap menganggap nasihat orang tua sebagai sesuatu yang kolot, mengekang kebebasan, dan tidak sesuai dengan zaman digital. Sebaliknya, generasi tua memandang Gen Z sebagai anak muda pembangkang, sulit diarahkan, dan hidup terlalu santai. Perbedaan tata nilai inilah yang membuat jurang antargenerasi semakin lebar.

Saat ini, platform digital dikuasai oleh para pengusaha dari negara-negara berideologi kapitalisme sekuler, seperti Amerika Serikat. Melalui platform tersebut, para pengguna—terutama Gen Z—terus diarahkan dengan narasi sekuler yang mengusung liberalisme, individualisme, dan materialisme. Nilai-nilai ideologi kapitalisme sekuler ini diarusutamakan melalui berbagai platform digital seperti WhatsApp, TikTok, Instagram, dan Facebook dalam bentuk hiburan serta beragam konten menarik. Para kapitalis platform memandang generation gap sebagai kondisi yang menguntungkan karena dapat dijadikan tema konten yang laris, meski berdampak pada tercerainya keluarga muslim.

Keterikatan Gen Z pada internet juga dimanfaatkan oleh oligarki digital. Media sosial berubah menjadi industri yang setiap detiknya menghasilkan keuntungan. Algoritma digital tidak hanya berfungsi menampilkan konten, tetapi juga menjadi sumber cuan sekaligus sarana penyebaran ideologi. Media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan ruang pembentukan identitas dan gaya hidup. Akibatnya, Gen Z memiliki cara pandang yang berbeda bahkan bertentangan dengan generasi sebelumnya. Inilah bentuk pembajakan identitas generasi muslim.

Hubungan keluarga muslim yang kuat sangat ditakuti oleh kapitalisme sekuler. Jika generasi muda tetap meneruskan nilai-nilai Islam dan menerapkan syariat Islam dalam kehidupan, maka ideologi kapitalisme akan runtuh. Oleh karena itu, kesenjangan generasi terus dipelihara dan dipropagandakan. Gen Z dicitrakan sebagai generasi yang mandiri, mencintai kebebasan, tidak suka dinasihati, dan dianggap tidak cocok dengan ajaran Islam. Inilah cara kapitalisme merekayasa generation gap untuk memutus kesinambungan risalah Islam.

Islam sebagai agama yang sempurna, tidak mengenal konsep generation gap. Nilai-nilai Islam diwariskan secara estafet dari generasi ke generasi karena umat Islam adalah satu kesatuan yang tidak terpecah oleh perbedaan zaman. Aturan Islam tidak mengenal kata kedaluwarsa atau kolot, melainkan relevan bagi seluruh manusia hingga akhir zaman.

Islam terbukti mudah dipelajari dan diterapkan. Pada masa Rasulullah ﷺ, Islam disampaikan kepada generasi tua seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, maupun generasi muda seperti Ali bin Abi Thalib. Pewarisan nilai-nilai Islam tidak akan menimbulkan kesenjangan generasi selama menggunakan metode yang dicontohkan Rasulullah ﷺ. Syariat Islam senantiasa menjadi solusi atas problem manusia selama ada para mujtahid dan institusi yang menjaganya, yaitu Khilafah ala minhajin nubuwwah.

Khilafah adalah sistem pemerintahan yang menerapkan syariat Islam secara kafah dalam mengatur urusan masyarakat, sesuai dengan teladan masa kenabian. Khilafah berperan menjaga masyarakat dari masuknya pemahaman kufur melalui media sosial dengan membangun sarana internet yang mandiri dan berlandaskan nilai Islam.

Menjadi tanggung jawab kita bersama untuk membimbing generasi agar waspada terhadap siasat kapitalisme sekuler melalui media sosial. Anggapan adanya kesenjangan generasi antara orang tua dan generasi muda harus dihilangkan karena hal itu merupakan propaganda penjajah kafir untuk memecah belah keluarga muslim dan memutus kesinambungan nilai-nilai Islam kepada generasi penerus. Wallahualam bissawab.

Oleh: Wiwin
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 23

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA