Menyambut Bulan Suci Turunnya Al-Qur’an

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Berseliweran di WhatsApp maupun TikTok melalui layar gawai, berbagai konten mengingatkan kita bahwa sebentar lagi bulan suci Ramadan 1447 H akan tiba. Ramadan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an, karena pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia (QS Al-Baqarah: 185). Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Ramadan yang lalu seakan baru saja pergi, namun belum banyak perubahan dan perbaikan yang benar-benar kita lakukan.

 

Pada Ramadan sebelumnya, kita memperoleh banyak ilmu tentang keagungannya melalui kultum tarawih dan subuh. Dari sana lahir berbagai azam: berpuasa sunah Senin–Kamis, berdiam di masjid hingga waktu syuruq, menambah hafalan Al-Qur’an, mentadabburi maknanya, serta memperbaiki bacaan sesuai kaidah tajwid. Namun dari semua azam tersebut, ada satu tekad yang paling besar, yaitu keinginan untuk mengamalkan isi Al-Qur’an secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.

 

Memang benar, perintah seperti salat, puasa, umrah, haji, dan pernikahan telah banyak dilaksanakan. Namun perkara yang berkaitan dengan riba, sanksi bagi pencuri, pembunuh, pezina, dan koruptor belum diterapkan sesuai dengan yang diajarkan Al-Qur’an. Mengapa demikian?

 

Para penceramah dan ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia pada bulan Ramadan dan berfungsi sebagai hudan (petunjuk) bagi seluruh manusia, tanpa memandang warna kulit. Hudan dapat dianalogikan sebagai manual book (buku petunjuk). Ketika kita membeli peralatan elektronik seperti kulkas, televisi, atau AC, penjual selalu menyertakan buku petunjuk dari pabrik tentang cara pengoperasian yang benar.

 

Televisi menampilkan gambar tajam dan suara jernih, makanan di dalam kulkas awet dan segar, es batu cepat membeku, serta ruangan ber-AC terasa sejuk dan nyaman layaknya hotel berbintang. Semua itu berfungsi dengan baik karena dioperasikan sesuai buku petunjuknya.

 

Hudan juga dapat disamakan dengan resep dokter. Saat sakit, kita memeriksakan diri ke dokter. Ia mendiagnosis melalui pemeriksaan dan pertanyaan yang mendalam hingga ditemukan penyebab penyakitnya. Sebelum pulang, dokter memberikan resep obat yang harus ditebus dan diminum sesuai aturan. Ketika obat diminum sesuai anjuran, penyakit pun sembuh.

 

Orang-orang tua dahulu sering menambahkan basmalah sebelum minum obat, disertai doa sederhana: “obat teko, loro lungo, ora teko meneh” (obat datang, penyakit pergi, dan tidak kembali lagi). Kesembuhan itu terjadi bukan karena resep dibaca atau dihafalkan, melainkan karena resep tersebut diamalkan.

 

Demikian pula Al-Qur’an. Ia akan benar-benar menjadikan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin apabila dijadikan petunjuk yang diterapkan secara nyata dalam kehidupan.

 

Marhaban ya Ramadan. Selamat datang tamu agung yang dinanti-nantikan. Setiap kali bulan suci ini tiba, muncul keheranan dalam diri: betapa besar kasih sayang Allah Swt. menciptakan bulan Ramadan. Seandainya tidak ada Ramadan, manusia akan terus tergelincir dari petunjuk-Nya. Ramadan hadir untuk mengingatkan kembali orang-orang beriman, layaknya seorang ayah menasihati anaknya, “Nak, kamu punya Al-Qur’an. Luruskan kembali jalanmu dengan petunjuk itu. Kamu sudah jauh dari relnya, bahkan mengikuti jalan orang kafir.”

 

Begitu besar kasih sayang Allah kepada orang-orang beriman. Setiap tahun mereka diingatkan melalui Ramadan. Dalam bahasa teknik, Ramadan laksana tombol restart bagi orang beriman. Seperti gawai yang mengalami gangguan, solusi terbaik adalah me-restart agar kembali normal. Maka setelah Ramadan, banyak penceramah mengatakan bahwa kita seperti terlahir kembali. Subhanallah.

 

Perlu dipahami bahwa 30 juz Al-Qur’an wajib diterapkan secara menyeluruh dan bersamaan (QS Al-Baqarah: 208). Al-Qur’an telah turun secara sempurna, bukan hanya ayat tentang puasa, salat, dan haji, tetapi juga larangan riba, perintah jihad, kisas, dan hukum-hukum lainnya. Bahkan terdapat dua perintah yang redaksi ayatnya sangat serupa, yakni kewajiban kisas (QS Al-Baqarah: 178–179) dan kewajiban puasa (QS Al-Baqarah: 183).

 

Allah Swt. berfirman:

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu (melaksanakan) kisas berkenaan dengan orang yang dibunuh.” (QS Al-Baqarah: 178)

 

“Dan dalam kisas itu terdapat (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 179)

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

 

Kedua perintah tersebut sama-sama diawali dengan “Yā ayyuhal-lażīna āmanū kutiba ‘alaikum” dan diakhiri dengan “la‘allakum tattaqūn”. Artinya, kisas dan puasa sama-sama wajib: dikerjakan berpahala, ditinggalkan berdosa.

 

Menyambut puasa Ramadan, kaum muslim mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, baik secara fisik maupun nonfisik. Masjid dan musala dicat ulang, AC diservis, karpet diganti, serta diadakan berbagai pembekalan Ramadan. Namun, persiapan apa yang dilakukan untuk menyambut perintah kisas? Hampir tidak ada.

 

Memang, puasa merupakan kewajiban individu, sedangkan kisas adalah kewajiban negara. Selama kewajiban kisas belum diterapkan, maka kaum muslim menanggung dosa kolektif sejak runtuhnya sistem pemerintahan Islam (Khilafah) pada tahun 1924 hingga hukum kisas ditegakkan kembali.

 

Tidak ada cara lain untuk mengurangi dosa akibat mengabaikan perintah wajib dan larangan haram, kecuali mulai mempersiapkan diri untuk menyerukan penerapan seluruh hukum Allah dengan bergabung bersama kelompok atau partai yang konsisten memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara kafah. Hanya dengan sistem pemerintahan Islam, seluruh perintah dan larangan Allah Swt. yang menjadi tanggung jawab negara dapat diterapkan secara sempurna.

 

Marilah kita sambut bulan suci Ramadan, bulan turunnya Al-Qur’an, dengan lapang dada, penuh kegembiraan, keikhlasan, dan suka cita. Wallahualam bissawab.

 

 

 

Oleh: Imam Wahyono,

Lulusan API 2025

Loading

Views: 38

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA