Al-Qur’an, Sumber Aturan yang Hakiki

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Dikutip dari metrotv.news.com (16/3/2025), Kementerian Agama menggelar 350 ribu khataman Al-Qur’an pada 16 Ramadhan 1446 Hijriah. Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan turut ikut serta dalam peringatan Nuzulul Qur’an ini. Program bertajuk Indonesia Khataman Al-Qur’an di Sulsel dipusatkan di Aula kantor wilayah Kemenag Sulsel Makassar. Program ini diharapkan menguatkan semangat keislaman dan kebangsaan serta mengajak umat Muslim untuk mencintai, memahami, dan meneladani Al-Qur’an.

Adapun peserta yang terlibat dalam program Indonesia khataman Al-Qur’an ini terdiri dari berbagai unsur. Diantaranya, Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an, Badan Kesejahteraan Masjid, KUA, Majelis Taklim, Pesantren, Madrasah, hingga masyarakat umum. Di Sulawesi Selatan sendiri ditargetkan jumlah khataman Al-Qur’an mencapai 13.500.

Nuzulul Qur’an adalah peristiwa turunnya wahyu pertama dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Peristiwa ini menjadi titik awal turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi manusia. Hal inilah yang menyebabkan setiap bulan Ramadhan diadakan peringatan Nuzulul Qur’an oleh berbagai pihak. Namun sangat disayangkan, di tengah kemeriahan peringatan Nuzulul Qur’an ini umat Islam masih hidup di bawah aturan yang tidak bersumber dari Al-Qur’an melainkan dari akal manusia.

Indonesia dengan penduduk mayoritas Muslim misalnya, saat ini diatur oleh sistem demokrasi kapitalisme yang bersandar pada asas sekularisme yang mengabaikan peran agama dalam kehidupan. Demokrasi Kapitalisme telah menjadikan akal manusia sebagai sumber aturan padahal manusia adalah makhluk yang lemah dan terbatas sehingga berpotensi adanya pertentangan dan berkonsekuensi lahirnya berbagai permasalahan.

Dalam sistem yang ada saat ini prinsip kedaulatan berada di tangan rakyat. Manusia menjadi penentu hukum yang tentu tidak lepas dari pengaruh hawa nafsu dan kepentingan pribadi, bukan oleh kebenaran yang hakiki yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Hal ini menyebabkan ketimpangan dalam penerapan hukum dan keadilan yang seharusnya berlandaskan pada wahyu Allah SWT yakni Al-Qur’an.

Sebagaimana kita saksikan hari ini di bawah hegemoni sistem sekuler kapitalis, bulan Ramadhan tampaknya belum membawa perubahan apa pun bagi nasib kaum Muslim di seluruh dunia. Umat Islam seluruhnya masih dalam keadaan terpuruk dan terhina. Musuh-musuh Allah masih saja membunuhi dan menjajah kaum Muslim sebagaimana yang terjadi di Palestina, bahkan para penguasa Muslim masih saja mengeluarkan kebijakan yang merugikan rakyat.

Umat Islam diwajibkan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang utama, dan sebagai sumber hukum yang mengatur seluruh aspek kehidupan, serta sebagai solusi bagi setiap permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan. Hal inilah yang menuntut penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam berbagai bidang kehidupan. Namun, penerapan Islam secara komprehensif ini tidak dapat terwujud tanpa adanya institusi negara Islam yakni Khilafah. Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang berlandaskan pada petunjuk Nabi Muhammad SAW untuk menegakkan hukum-hukum Allah SWT di muka bumi. Al-Qur’an sudah seharusnya menjadi landasan hidup setiap individu, masyarakat, hingga negara.

Namun ironisnya, hari ini kita sering menyaksikan individu yang berpegang teguh pada Al Quran dan menyeru untuk kembali kepada penerapan aturan Islam secara kaffah justru dianggap radikal. Padahal berpegang teguh pada Al Quran sejatinya konsekuensi dari keimanan yang tulus dan seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan setiap Muslim. Al Quran bukan sekedar bacaan, tetapi petunjuk hidup yang menyentuh seluruh aspek kehidupan.

Apalagi jika kita ingin membangun peradaban manusia yang mulia, Al-Qur’an harusnya dijadikan asas kehidupan karena di dalamnya terkandung pedoman yang sempurna untuk mencapai keberkahan hidup. Umat harus menyadari kewajiban berpegang teguh pada Al-Qur’an secara keseluruhan dan memperjuangkannya sebagai pedoman hidup tidak hanya bagi individu saja, namun bagi masyarakat dan negara.

Untuk mewujudkan hal ini diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Dalam upaya ini dakwah yang dipelopori oleh kelompok dakwah ideologis sangat penting keberadaannya. Karena merekalah yang membangun kesadaran umat akan pentingnya menerapkan Al-Qur’an dalam kehidupan secara nyata.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Oleh: Ummu Nazwa
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 23

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA