Tinta Media – Hasil Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025 yang dirilis oleh Kementerian Agama bekerja sama dengan Alvara Strategic Research menghadirkan gambaran yang menarik sekaligus menantang. Generasi Z (Gen Z) tercatat sebagai kelompok dengan tingkat toleransi beragama tertinggi dibandingkan generasi Milenial, Generasi X, dan Baby Boomers. Selain itu, mereka juga unggul dalam literasi Al-Qur’an, khususnya kemampuan membaca secara tartil. Temuan ini kerap dipersepsikan sebagai kabar baik bagi masa depan kehidupan beragama dan kohesi sosial bangsa. Namun, di balik angka-angka positif tersebut, diperlukan sikap kritis agar optimisme tidak menutup mata terhadap tantangan ideologis yang mengintai generasi muda.
Secara faktual, survei ini menggunakan metodologi yang kredibel dengan cakupan nasional serta margin of error yang relatif kecil. Indikator toleransi yang digunakan meliputi penerimaan terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, sikap tidak mencela keyakinan pihak lain, tidak melakukan persekusi, serta tidak menyebarkan ujaran kebencian. Berdasarkan indikator tersebut, Gen Z mencatat skor tertinggi, terutama dalam penolakan terhadap pembubaran kegiatan keagamaan kelompok lain. Data ini menunjukkan bahwa generasi muda cenderung lebih damai, terbuka, dan tidak reaktif dalam menyikapi perbedaan.
Namun, persoalan muncul ketika indikator toleransi tersebut dikaitkan dengan pemahaman keagamaan yang lebih mendasar. Toleransi dalam Islam bukanlah konsep tanpa batas. Ketika sikap “tidak mencela” atau “menghormati keyakinan lain” diterjemahkan secara berlebihan, hal itu berpotensi bergeser menjadi relativisme akidah. Misalnya, apabila toleransi dimaknai sebagai keengganan menyatakan bahwa keyakinan di luar Islam adalah kekufuran, maka ini bukan lagi toleransi sosial, melainkan kompromi teologis. Pada titik inilah kewaspadaan diperlukan, sebab generasi muda bisa saja tampak toleran secara sosial, tetapi mengalami pengaburan batas-batas akidah.
Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari kuatnya narasi moderasi beragama yang berkembang di ruang publik, dunia pendidikan, dan media sosial. Moderasi kerap dipromosikan sebagai solusi atas konflik keagamaan. Namun, dalam praktiknya, konsep ini sering disusupi pemikiran yang menekankan penyamaan semua agama atau pengaburan klaim kebenaran Islam. Jika hasil survei menunjukkan tingginya toleransi Gen Z, maka pertanyaan krusial yang perlu diajukan adalah: apakah toleransi tersebut lahir dari pemahaman Islam yang kukuh, atau justru dari internalisasi nilai-nilai moderasi yang melemahkan prinsip akidah?
Di sisi lain, keunggulan Gen Z dalam literasi Al-Qur’an patut diapresiasi. Kemampuan membaca Al-Qur’an yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya merupakan modal besar bagi kebangkitan pemahaman Islam yang benar. Namun, literasi teknis membaca harus dibarengi dengan pemahaman makna serta penerapan nilai-nilai syariat secara menyeluruh. Tanpa bimbingan pemikiran yang lurus, kemampuan membaca Al-Qur’an berisiko hanya menjadi keterampilan ritual, bukan landasan ideologis dalam bersikap dan berpikir.
Islam sendiri telah memberikan konstruksi toleransi yang jelas melalui prinsip lakum dinukum wa liya din. Prinsip ini menegaskan bahwa umat Islam menghormati kebebasan pemeluk agama lain dalam menjalankan keyakinannya tanpa paksaan dan intimidasi. Namun, pada saat yang sama, Islam juga menetapkan batas yang tegas: tidak ada pencampuran ibadah, tidak ada pengakuan kebenaran akidah selain Islam, dan tidak ada ruang bagi ajakan keyakinan lain di tengah komunitas kaum muslimin. Toleransi dalam Islam adalah toleransi yang menjaga kemurnian akidah, bukan toleransi yang mengorbankannya.
Oleh karena itu, hasil survei ini seharusnya tidak hanya dirayakan, tetapi juga dijadikan bahan evaluasi dan dakwah. Jika Gen Z memang menunjukkan sikap toleran dan cakap dalam literasi Al-Qur’an, maka tugas umat dan para pendakwah adalah mengawal capaian tersebut agar tidak diseret ke arah moderasi yang keliru. Dakwah di kalangan generasi muda perlu menegaskan bahwa Islam mampu menghadirkan kedamaian sosial tanpa harus mengaburkan kebenaran akidah. Dengan demikian, Gen Z tidak hanya menjadi generasi yang toleran, tetapi juga generasi yang teguh, berprinsip, dan mampu menjaga identitas Islam di tengah masyarakat yang majemuk. Wallahualam bissawab.
Oleh: Salma,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 28
















