Tinta Media – Ketua Makroekonom dan Keuangan INDEF (Institute for Development of Economic and Finance) Dr. M. Rizal Taufikurahman mengungkap motif Amerika melakukan Perjanjian ART(Agreement on Reciprocal Trade) dengan Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa terdapat setidaknya tiga motif utama yang mendorong Amerika Serikat menerapkan kebijakan reciprocal tariff terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia. Hal tersebut disampaikannya dalam Live Diskusi “Perjanjian Indonesia-Amerika: Siapa Untung, Siapa Buntung?” di kanal YouTube Tabloid Media Umat, Senin (2/3/2026).
Pertama, tingginya beban utang pemerintah Amerika Serikat. Saat ini total utang pemerintah federal AS telah mencapai sekitar US$34–35 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar US$27–28 triliun merupakan debt held by the public (utang yang dimiliki investor publik), sedangkan sekitar US$6–7 triliun merupakan intragovernmental holdings, seperti dana pensiun dan kewajiban antar lembaga pemerintah. Jika dibandingkan dengan ukuran ekonominya, rasio utang terhadap PDB Amerika telah berada di kisaran 120–125%, yang merupakan salah satu level tertinggi sejak periode Perang Dunia II.
Dari sisi kepemilikan, sekitar 70% utang tersebut dimiliki investor domestik, sementara sekitar 30% dimiliki investor asing. Beberapa negara pemegang utama surat utang Amerika antara lain Jepang sekitar US$1,1 triliun, China sekitar US$780–800 miliar, dan Inggris sekitar US$720–750 miliar, diikuti oleh negara lain seperti Belgia, Luksemburg, Singapura, dan beberapa negara Asia lainnya.
Kedua, defisit perdagangan Amerika Serikat yang sangat besar. Dalam beberapa tahun terakhir, defisit perdagangan barang AS berada pada kisaran US$900 miliar hingga lebih dari US$1 triliun per tahun. Defisit ini terutama terjadi terhadap sejumlah negara mitra dagang besar seperti China, Vietnam, Meksiko, Jerman, serta beberapa negara berkembang termasuk Indonesia. Ketidakseimbangan perdagangan tersebut menjadi salah satu alasan utama pemerintah AS mendorong penerapan tarif resiprokal (reciprocal tariffs) untuk menekan impor dan memperkuat posisi industrinya.
Ketiga, defisit fiskal pemerintah Amerika yang terus melebar. Dalam beberapa tahun terakhir, defisit anggaran federal AS berada di kisaran US$1,7–2 triliun per tahun. Tekanan fiskal ini terutama dipicu oleh lonjakan pembayaran bunga utang yang kini mendekati US$1 triliun per tahun, serta peningkatan belanja besar pada program jaminan sosial, kesehatan (Medicare dan Medicaid), pertahanan, serta berbagai subsidi industri domestik.
Dalam konteks tersebut, kebijakan reciprocal yang didorong pemerintahan Trump pada dasarnya merupakan bagian dari strategi melindungi industri domestik, mengurangi defisit perdagangan, dan memperbaiki posisi fiskal Amerika. Namun demikian, kerangka kerja sama yang ditawarkan melalui perjanjian seperti ART (Agreement on Reciprocal Trade) pada dasarnya bukanlah perjanjian perdagangan bebas yang komprehensif seperti integrasi ekonomi di kawasan Eropa. Skemanya lebih menyerupai akses pasar yang selektif, disertai konsesi tarif terbatas, pengaturan standar tertentu, serta preferensi rantai pasok. Oleh karena itu, dalam praktiknya perjanjian semacam ini sering kali tidak sepenuhnya simetris atau adil bagi semua pihak.[] Ajira
![]()
Views: 22
















