Tinta Media – Pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth, bahwa rezim gila seperti Iran yang sangat terobsesi dengan khayalan Islamis kenabian tidak dapat memiliki senjata nuklir, ditanggapi oleh Ketua LBH Pelita Umat Chandra Purna Irawan sebagai bentuk penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW.
“Menteri Pertahanan Amerika menghina Nabi SAW dan penggunaan narasi politik identitas,” ujarnya dalam laman Facebook Chandra Purna Irawan, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, pernyataan tersebut bukan sekadar serangan terhadap Iran, tetapi juga merupakan bentuk penghinaan yang disengaja terhadap Islam serta terhadap setiap aspirasi politik Islam yang berlandaskan wahyu.
“Dengan melabeli bimbingan kenabian sebagai ‘khayalan’, pemerintah Amerika Serikat pada hakikatnya menampakkan sikap permusuhan peradabannya terhadap Islam, sekaligus mencerminkan kekhawatirannya terhadap umat Muslim yang berupaya mengatur kehidupan mereka berdasarkan perintah Allah,” tegasnya.
Kemunafikan ini, jelas Chandra, tampak nyata dalam dukungan konsisten Amerika Serikat terhadap pendudukan Palestina yang dibungkus dengan legitimasi keagamaan.
“Sementara umat Muslim kerap diejek karena berusaha menjalankan ajaran kenabian dalam kehidupan sosial dan politik, kekuatan Barat justru secara terbuka mendukung ambisi yang dikenal sebagai “Israel Raya” melalui ekspansi permukiman, aneksasi wilayah, serta penundukan berkepanjangan terhadap rakyat yang tercerabut dari hak-haknya,” kritiknya.
Aspirasi keagamaan Zionis, lanjut Chandra, dikonstruksikan sebagai “kepentingan keamanan” yang sah dan dibela melalui jalur diplomatik, militer, dan finansial. Sebaliknya, ketaatan umat Islam terhadap perintah Allah justru distigmatisasi sebagai bentuk fanatisme.
“Dengan demikian, persoalan mendasar bukan terletak pada Islam itu sendiri, melainkan ketika Islam hadir sebagai tantangan terhadap dominasi kolonial dan sebagai alternatif ideologis,” tandasnya.
Kontradiksi ini, sebut Chandra, semakin mengemuka ketika nubuat dalam Alkitab digunakan secara terbuka oleh pejabat Barat untuk membenarkan dukungan tanpa syarat terhadap entitas Zionis. Nubuat tersebut diposisikan sebagai takdir yang sah dan tak terbantahkan.
“Namun, ketika umat Islam merujuk pada petunjuk Al-Qur’an dalam upaya mewujudkan pembebasan, persatuan, dan keadilan, hal itu justru dicap sebagai khayalan yang berbahaya,” kritiknya lagi.
Menurut laporan The Guardian, Chandra membeberkan, Military Religious Freedom Foundation (MRFF) telah menerima lebih dari 200 pengaduan dari personel militer di berbagai cabang angkatan bersenjata Amerika Serikat, termasuk Marinir, Angkatan Udara, dan Space Force. Salah satu pengaduan, yang diajukan oleh seorang bintara (NCO) dari unit yang dapat dikerahkan sewaktu-waktu dalam operasi terhadap Iran, mengungkap bahwa seorang komandan mendorong bawahannya untuk membingkai konflik tersebut sebagai bagian dari ketetapan ilahi.
“Berdasarkan laporan tersebut, para prajurit diarahkan untuk memahami perang sebagai “bagian dari rencana Tuhan,” dengan merujuk pada sejumlah bagian dalam Kitab Wahyu mengenai Armagedon,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, dalam konteks ini narasi apokaliptik tidak hanya ditoleransi, tetapi juga dioperasionalkan sebagai instrumen legitimasi dan motivasi militer.
“Namun, ketika umat Islam menjadikan wahyu sebagai dasar dalam membangun tatanan politik, keadilan, dan pembebasan, hal tersebut justru dipersepsikan sebagai bentuk irasionalitas,” kritiknya kembali.
Dengan demikian, Chandra menyimpulkan, pernyataan Hegseth dapat dipahami bukan sekadar retorika politik, melainkan sebagai bentuk delegitimasi terhadap ajaran Islam serta upaya preventif terhadap kebangkitan Islam sebagai sistem kehidupan yang komprehensif.
Yang sesungguhnya dikhawatirkan, sambungnya, bukanlah entitas negara tertentu, melainkan potensi umat Islam untuk bersatu dan mengorganisasi kehidupan mereka berdasarkan perintah Allah serta petunjuk Rasul-Nya
“Permusuhan ini pada akhirnya melampaui batas-batas geopolitik negara seperti Iran, dan secara langsung menyasar aspirasi ideologis yang hidup dalam kesadaran umat Islam yang oleh sebagian kalangan dimaknai sebagai bentuk benturan peradaban di era modern,” pungkasnya.[] ‘Aziimatul Azka
![]()
Views: 9
















