Tinta Media – Konflik antara AS–Israel dan Iran kembali menjadi sorotan dunia. Narasi besar yang selama ini dibangun—bahwa Amerika bersama sekutunya, termasuk Israel, adalah kekuatan tak tertandingi—mulai tampak retak ketika berhadapan dengan satu negara Muslim saja. Iran, dengan segala keterbatasannya, tidak tumbang begitu saja. Bahkan, dalam dinamika konflik yang terjadi, ia mampu bertahan dan mengajukan sejumlah syarat dalam gencatan senjata, sesuatu yang menunjukkan adanya posisi tawar di hadapan kekuatan global.
Namun, ironi terbesar justru datang dari sebagian penguasa negeri Muslim. Alih-alih berdiri sebagai pelindung umat, mereka justru mengambil posisi yang melemahkan barisan sendiri. Ini bukan sekadar kesalahan strategi politik, melainkan penyimpangan dari prinsip dasar dalam Islam tentang loyalitas dan keberpihakan. Allah Swt. telah memperingatkan dengan tegas:
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِن دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS Hud: 113)
Inilah realitas yang kita hadapi hari ini. Ketika keberpihakan tidak dibangun berlandaskan akidah Islam, maka yang lahir adalah kerapuhan internal umat Islam itu sendiri. Sungguh disayangkan, sesama negara Muslim yang seharusnya dipersatukan oleh akidah yang sama (Islam) justru rela menyiapkan negaranya untuk menyerang saudaranya sendiri. Apalagi semua itu dilakukan karena dorongan nasionalisme negaranya semata, yakni demi menjaga perekonomian dan stabilitas kawasan. Artinya, mereka menganggap bahwa Iran adalah ancaman bagi negara mereka.
Berbeda dengan sikap penguasa Muslim, khususnya di Teluk, sikap penguasa Eropa justru dengan tegas menolak untuk terlibat perang bersama AS–Israel.
*Pelajaran Besar*
Konflik ini sejatinya telah membuka wajah asli politik internasional. Amerika tidak sepenuhnya berhasil menarik semua sekutunya untuk terlibat langsung, meski dikenal sebagai negara adidaya yang ditakuti. Namun, tampaknya AS sendiri sudah kewalahan menghadapi Iran.
Ini menjadi pelajaran penting, terutama bagi negeri-negeri yang masih berharap pada perlindungan kekuatan besar. Tatanan dunia hari ini tidak lagi dibangun berdasarkan aturan, melainkan kekuatan. Dalam hal ini, AS menginginkan Iran untuk tunduk sepenuhnya pada kepentingannya, namun penguasa Iran masih enggan hingga kini, meski harus menghadapi sanksi ekonomi dan embargo. Iran tetap mampu bertahan.
Dunia kini kembali diingatkan bahwa kawasan Timur Tengah bukan wilayah biasa. Ia adalah simpul penting yang bisa mengguncang sistem dunia. Terbukti, dampaknya tidak berhenti di medan perang. Ketegangan di kawasan langsung memengaruhi harga energi, jalur perdagangan, dan stabilitas global.
Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang lebih mendasar: konflik ini menunjukkan betapa rapuhnya hegemoni global yang dibangun atas ideologi kapitalisme. Negara-negara yang bersekutu sekadar untuk mencari kepentingan masing-masing. Jika masih memiliki kepentingan yang sama, maka akan ada dukungan. Namun, jika tidak, akan diabaikan.
Ikatan nasionalisme juga memiliki peran melemahkan tubuh umat Islam yang sebenarnya kuat. Umat Islam yang terpecah belah karena sekat nasionalisme akan selalu menjadi ruang terbuka bagi konflik kepentingan asing, sementara umat Islam sendiri tidak memiliki kekuatan dan kedaulatan untuk menentukan kebijakan politiknya. Selama tidak ada kekuatan yang benar-benar menyatukan, maka yang terjadi hanyalah tarik-menarik kepentingan yang tidak pernah selesai.
Dari apa yang telah dilakukan oleh Iran, seharusnya semakin membuat kita sadar. Jika satu negara saja bisa memberikan perlawanan dan bertahan hingga membuat AS “kalang kabut”, bagaimana jika potensi yang lebih besar itu disatukan? Dunia Islam, dengan segala sumber daya yang dimilikinya, sebenarnya memiliki modal untuk menjadi kekuatan yang tak tertandingi.
Akhirnya, konflik Iran–AS–Israel ini bukan sekadar soal geopolitik. Ia adalah cermin—cermin tentang rapuhnya hegemoni yang selama ini ditakuti, sekaligus cermin tentang lemahnya dunia Islam yang masih terpecah. Dari sini, arah ke depan sebenarnya sudah jelas, bahwa tanpa persatuan, kekuatan sebesar apa pun tidak akan pernah cukup untuk menghentikan kezaliman kaum kafir terhadap kaum muslimin.
Dan selama pelajaran ini tidak benar-benar dipahami, konflik seperti ini akan terus berulang dengan pola yang sama. Iran, meski bukan representasi negara Islam yang sesungguhnya, telah menunjukkan bahwa keberanian melawan dominasi global bukan sesuatu yang mustahil.
*Potensi Umat Islam dan Urgensi Khilafah*
Dunia Islam hari ini bukan kekurangan sumber daya. Dari energi hingga jalur perdagangan strategis, jumlah penduduk hingga kekayaan alam—semuanya tersedia dalam jumlah besar. Namun, seluruh potensi itu tercerai-berai dalam batas-batas nasionalisme. Inilah penyebab utama potensi besar kaum muslimin tidak terwujud dalam kekuatan yang nyata. Ini juga yang menumbuhkan rasa jemawa di tubuh kaum kafir untuk terus menindas kaum muslimin.
Dalam sejarah Islam, persatuan itu pernah terwujud secara nyata dalam institusi Khilafah. Di bawah satu kepemimpinan, potensi umat tidak terpecah, melainkan terintegrasi menjadi kekuatan besar yang disegani dunia. Kebijakan luar negeri tidak tunduk pada tekanan kekuatan asing, tetapi berdiri mandiri di atas akidah Islam. Dari sinilah lahir peradaban yang tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga membawa keadilan bagi berbagai bangsa.
Lebih jauh lagi, Islam tidak hanya berbicara tentang kekuatan, tetapi juga tanggung jawab. Allah Swt. berfirman, “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas….” (QS An-Nisa: 75). Ayat ini menegaskan bahwa keberadaan kekuatan dalam Islam bukan sekadar untuk menaklukkan dan menguasai, melainkan untuk membebaskan manusia dari penindasan. Tanpa kesatuan politik, perintah ini sulit diwujudkan secara menyeluruh.
Karena itu, solusi yang ditawarkan Islam bukan tambal sulam, melainkan perubahan mendasar. Umat harus kembali membangun kesadaran bahwa persatuan adalah kebutuhan mendesak, bukan sekadar solusi alternatif. Persatuan yang dibangun atas landasan akidah Islam akan mewujudkan kemuliaan dan ketinggian peradaban umat manusia.
Untuk itulah pentingnya negeri-negeri Islam bersatu dalam tatanan sistem Khilafah sebagai institusi yang menyatukan umat, mengintegrasikan kekuatan, dan mengarahkan potensi besar tersebut untuk melindungi umat serta menyebarkan keadilan ke seluruh dunia.
Pada akhirnya, konflik antara Amerika Serikat dan Iran hanyalah satu episode dari dinamika global yang lebih besar. Namun, dari peristiwa ini tampak jelas dua hal: pertama, hegemoni global yang selama ini ditakuti tidaklah sekuat yang dibayangkan; kedua, umat Islam sebenarnya memiliki potensi besar yang belum tergarap karena perpecahan.
Jika umat terus berada dalam kondisi terfragmentasi, maka potensi itu akan tetap menjadi angka tanpa makna. Namun, jika persatuan itu benar-benar diwujudkan dalam kerangka Islam, maka bukan mustahil umat ini kembali menjadi kekuatan global—bukan untuk menindas, melainkan untuk menghadirkan keadilan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Harne Tsabbita
Aktivis Muslimah
![]()
Views: 1
















