Tinta Media – Di tengah peperangan global yang dipicu penyerangan terhadap Iran oleh Donald Trump dan Israel, rakyat diminta hidup hemat, mulai dari wacana sekolah online (meski tidak jadi), work from home (WFH) satu hari dalam seminggu, sampai tips hemat yang dibagikan oleh Menteri ESDM, Bahlil untuk memantikan kompor bagi-bagi ibu setelah selesai masak. Pernyataan Bahlil tersebut justru menjadi bahan olok-olokan netizen karena dianggap bukan solusi yang layak dibagikan oleh pejabat sekelas menteri.
Sungguh, hal-hal tersebut menyakiti hati rakyat. Di saat semua orang diminta untuk berhemat, kita dipertontonkan dengan pemborosan yang dilakukan oleh para pejabat. Mereka menggunakan anggaran fantastis bukan untuk sesuatu yang mendesak.
Seperti, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menganggarkan pembelian 21.801 unit sepeda motor listrik pada tahun anggaran 2025 dengan harga Rp42 juta per unit.
Tidak Hanya itu, dia juga menganggarkan pembelian tablet, kaos kaki, hingga semir sepatu dengan anggaran milliaran rupiah, padahal bukan hal yang mendesak untuk pemenuhan gizi anak. Sementara, banyak rakyat kecewa dengan menu MBG yang tidak memenuhi standart gizi anak. Bahkan, belatung yang terdapat dalam makanan dianggap biasa, sebagai sumber protein hewani.
Bagitu pula untuk program koperasi merah putih, pemerintah menganggarkan untuk membeli mobil diesel utama yang diimpor dari India.
Aneh, di saat rakyat diminta untuk beralih ke kendaraan listrik dalam rangka penghematan BBM, mobil yang dibeli malah berbahan bakar solar, terlebih bukan produk buatan Indonesia. Sebanyak 35 ribu unit Mahindra dari India disiapkan dari total proyek 105.000 unit kendaraan niaga, padahal sebelumnya presiden mendorong semua orang untuk mencintai produk buatan Indonesia.
Bahkan, Presiden Prabowo Subianto memberikan kejutan ulang tahun ke-37 kepada Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya di Paris, Prancis, pada 14-15 April 2026. Perayaan mewah digelar di tengah kondisi yang memaksa rakyat untuk berhemat. Perayaan tersebut disorot karena diduga berlangsung di hotel mewah dengan tarif fantastis. Laporan menyebutkan bahwa tarif hotel per malam mencapai Rp232 juta hingga Rp300 juta.
Sarusnya para pejabat ikut prihatin, merasakam penderitaan rakyat, bukan malah menunjukkan gaya hidup mewah dengan mengeluarkan dana ratusan juta hanya untuk perayaan ulang tahun yang hanya semalam. Sementara, gaji guru honorer tidak lebih dari 1 juta untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga selama satu bulan.
Pemimpin hanya ingin dimengerti, tetapi tidak mampu memahami apa yang dirasakan rakyat, sehingga tidak bisa mengurusi rakyat dengan baik. Mereka mengambil keputusan tanpa mendengar aspirasi rakyat sehingga menghasilkan satu kebijakan yang menyengsarakan. Mereka merasa hebat dan bangga dengan program unggulan yang katanya sangat dibutuhkan rakyat, tetapi faktanya hanya memakmurkan para pejabat.
Suara kritis dikikis dengan tuduhan antek-antek asing dan makar, sehingga yang tertinggal hanya para penjilat yang bisa membuat hatinya merasa senang dan lupa diri.
Jika kondisi tersebut tidak segera diperbaiki, Indonesia bisa benar-benar bubar tahun 2030, seperti yang pernah sampaikan oleh presiden sebelum menjadi pemimpin.
Karena itu, negeri ini butuh pemimpin yang peduli pada rakyat dengan tindakan nyata, bukan hanya pandai menebar janji agar Indonesia bisa bangkit dan maju, serta rakyat bisa hidup makmur dan sejahtera sesuai dengan amanah konstitusi.
Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media Sidoarjo
![]()
Views: 6









