Potret Buram Dunia Pendidikan: Ketika Sistem Sekuler Gagal, Islam Kafah Menjadi Jawaban

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Momen Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi ruang refleksi mendalam bagi arah pendidikan bangsa. Namun, realitas yang muncul justru memunculkan kegelisahan. Dunia pendidikan yang diharapkan menjadi tempat lahirnya generasi berilmu dan berakhlak, kini diwarnai berbagai persoalan serius: kasus pelecehan, lemahnya penegakan hukum, hingga maraknya kecurangan dalam sistem seleksi seperti UTBK. Fenomena ini menunjukkan adanya krisis yang tidak sekadar teknis, tetapi juga moral dan sistemis.

Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa kasus pelecehan seksual di lingkungan pendidikan terus berulang. Relasi kuasa antara pendidik dan peserta didik sering kali disalahgunakan. Di sisi lain, korban kerap menghadapi kesulitan dalam mendapatkan keadilan, baik karena tekanan sosial maupun lemahnya mekanisme perlindungan. Tidak berhenti di situ, praktik kecurangan seperti joki ujian, kebocoran soal, dan manipulasi hasil seleksi semakin merusak integritas sistem pendidikan. Ketika kejujuran tidak lagi menjadi nilai utama, maka pendidikan kehilangan esensinya.

Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari paradigma sekuler yang memisahkan nilai moral dan agama dari sistem pendidikan. Pendidikan lebih diarahkan pada pencapaian akademik dan materi, sementara pembentukan kepribadian sering kali terabaikan. Akibatnya, lahir generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral. Sistem sekuler juga cenderung menempatkan hukum sebagai produk manusia yang bisa berubah-ubah, sehingga penegakannya tidak konsisten dan sering kali tidak memberikan efek jera.

Selain itu, orientasi dunia pendidikan yang kompetitif tanpa landasan nilai yang kuat mendorong sebagian pihak untuk menghalalkan segala cara. Tekanan untuk “berhasil” membuat kecurangan dianggap sebagai jalan pintas. Dalam situasi seperti ini, pendidikan tidak lagi menjadi sarana pembentukan manusia seutuhnya, melainkan sekadar alat untuk mencapai status sosial dan ekonomi.

Islam menawarkan pendekatan yang berbeda melalui konsep Islam kafah, yaitu penerapan ajaran Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Dalam Islam, tujuan pendidikan tidak hanya mencetak individu yang cerdas, tetapi juga membentuk kepribadian yang bertakwa. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR Ahmad). Hadis ini menegaskan bahwa pembentukan akhlak adalah inti dari pendidikan.
Al-Quran juga memberikan landasan kuat tentang pentingnya ilmu yang disertai iman. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Mujadilah: 11, “…Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu tidak boleh dipisahkan dari keimanan.

Dalam sistem Islam, pendidikan dirancang untuk melahirkan manusia yang memiliki keseimbangan antara intelektualitas dan spiritualitas.

Dari sisi penegakan hukum, Islam memiliki mekanisme yang tegas dan adil. Pelaku kejahatan, termasuk pelecehan, akan mendapatkan sanksi yang memberikan efek jera sekaligus melindungi masyarakat. Prinsip keadilan ini ditegaskan dalam Al-Quran: “Dan dalam kisas itu ada kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal” (QS Al-Baqarah: 179). Artinya, hukum yang tegas justru menjaga kehidupan dan ketertiban sosial.

Dalam konteks pendidikan, penerapan Islam kafah juga berarti membangun sistem yang bersih dari kecurangan. Kejujuran bukan sekadar nilai moral, tetapi bagian dari keimanan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang menipu maka ia bukan dari golongan kami.” (HR Muslim). Dengan internalisasi nilai ini, praktik kecurangan seperti joki ujian tidak hanya dianggap pelanggaran aturan, tetapi juga dosa yang harus dihindari.

Solusi Islam kafah bukan sekadar slogan, tetapi mencakup perubahan mendasar: kurikulum yang berbasis akidah, lingkungan pendidikan yang aman dan bermoral, serta sistem hukum yang tegas dan konsisten. Pendidikan tidak lagi berorientasi semata pada hasil, tetapi pada proses pembentukan manusia yang berintegritas. Dengan demikian, potret buram dunia pendidikan saat ini menjadi peringatan bahwa perbaikan parsial tidak cukup. Dibutuhkan perubahan menyeluruh yang menyentuh akar persoalan. Islam kafah menawarkan kerangka yang komprehensif untuk membangun kembali pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Imma Kurniati
Pejuang Dakwah Muslimah Banyumas

Loading

Views: 1

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA