Cinta Kandas Anggaran Dilibas

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – “Tiada yang paling menyakitkan di dunia ini selain kata ‘PUTUS’ setelah sayang-sayangnya. Terjatuh sedalam-dalamnya di atas labirin bernama ‘CINTA’. Perih, retak, bahkan tersayat tersandung harapan kandas.” Begitulah ungkapan rasa kawula muda di era ini. Lalu bagaimana jika itu menimpa harapan besar masyarakat akan kecintaan Negerinya, sementara cinta besarnya sudah dipupuk mendalam pada kebijakan penuh komedi?

Memaknai Cinta ala Konoha

Konon katanya di negeri yang sudah 70 tahun lebih merdeka dari penjajahan, masyarakat masih sangat memiliki harapan besar. Apalagi setelah terpilihnya kepempimpinan baru, harapan itu tidak lain adalah kesejahteraan. Tetapi mengapa yang bahagia lebih banyak menghampiri para penguasa, rakyat justru resah dan menderita. Jawabannya ternyata ada di balik makna cinta Negara.

Bulan Februari sering orang bilang bulan cinta, bahkan tidak jarang anak muda hingga dewasa yang ingin menyalurkan rasa ini dengan berbagai cara. Tetapi di balik itu semua ada banyak tragedi yang mengusik kesejahteraan diawal tahun sampai bulan Februari ini. Salah satunya adalah efisiensi anggaran yang berujung ramainya narasi #KaburDuluAja.

Hastag #KaburAjaDulu yang ramai di sosmed tersebut menuai komentar para pemangku kebijakan. Salah satu respon tersebut datang dari Mentri ATR/BPN Nusron Wahid. Menurutnya, kabur dulu aja tidak bisa menyelesaikan masalah, bahkan hal tersebut menandakan sikap permisif untuk tidak mau menyelesaikan masalah bangsa ini. Jika publik mudah menyuarakan ajakan tersebut hingga sampai membawa hopeless itu menandakan kurang cinta terhadap tanah air (news.detik.com, 17/02/2025).

Senada dengan pernyataan di atas, mantan kordinator Polhukam, Mahfud MD di akun X.nya memberikan hal menohok tentang respon terhadap fenomena #KaburAjaDulu. Menurutnya, rasa cinta tanah air akan luntur jika tumbuh kesewenang-wenangan, ketidakadilan, serta lemahnya perlindungan HAM. Namun menurutnya juga tidak semua orang merasakan hal yang sama untuk kabur dari negeri sendiri termasuk dirinya (cnbcindonesia.com, 18/02/25).

Efisiensi Anggaran

Fenomena kabur aja dulu sebenarnya adalah respon warga negeri ini atas ketidak percayaan mereka terhadap kebijakan. terutama anak muda yang didominasi kalangan gen zusia produktif untuk mencari peluang kerja. Di lain sisi tagar tersebut viral pasca kebijakan pemangkasan anggaran dari berbagai lini.

Kepala badan pengeloaan keuangan daerah (BPKD) Jakarta, Michael Rolandi mengatakan akan melakukan efisiensi anggaran sebesar 1,5 triliun yang akan diterapkan ke berbagai sektor sebagaimana inpres (intruksi presiden) nomor 1 tahun 2025. Sejumlah sektor yang menjadi fokus dari efisiensi tersebut adalah berkaitan dengan kegiatan seremonial, kajian, percetakan, seminar, serta pengurangan belanja dinas dan honorium (cnnindonesia.com, 17/02/25).

Ketika pemangkasan anggaran tersebut diberlakukan dampaknya berujung kepada peluang kerja yang kurang signifikan. Maka wajar jika banyak generasi lebih memilih kabur aja ke luar negeri karena mereka lebih dihargai di negeri orang dari pada di negeri sendiri. Karena satu kebijakan yang diberlakukan justru dampaknya pada kesejahteraan masyarakat.

Menurut Vicky Natasha di akun sosmednya, “jangan salahin anak muda, introspeksi diri dulu aja, kalau sistemnya bikin mereka gak betah, yang salah siapa?. Banyak anak muda yang pergi ke luar negeri bukan karena mereka tidak cinta tanah air tapi di sana mereka lebih dihargai.”

Hakikat Cinta yang Menjaga

Siapapun yang memahami hakekat cinta pasti semua akan tahu bahwa ia akan menjaga. Menjaga agar lingkungan dan masyarakat yang berada di dalamnya tidak mengalami kerusakan atau ketidakadilan. Salah satu yang paling menjadi sorotan adalah ketersediaan sandang, papan dan pangan yang memadai tanpa harus menindas.

Ketika semua pelayanan publik membawa ketidakadilan, maka lihatlah dari mana kebijakan itu berpijak. Justru sangat aneh jika protes yang dilakukan rakyat membawa pemangku kebijakan berpikir mereka sudah tidak lagi cinta pada negerinya. Padahal itu adalah bentuk protes mereka dari ketidaknyamanan terhadap kebijakan yang tidak prorakyat.

Pondasi di dalam menetapkan kebijakan memang tidak bisa berlandasakan akal manusia semata karena terbatas, apalagi berpangku tangan pada pemilik modal. Jika demikian adanya maka pemikiran tersebut selaras dengan asas berdirinya ideologi kapitalisme yang sedang diterapkan di berbagai negeri saat ini. Asas memisahkan agama dari kehidupan justru tidak bisa menjaga negeri ini dari penindasan apalagi penjajahan.

Sangat berbeda ketika Islam dijadikan jalan dan role model untuk mengatur pengelolaan anggaran. Pertama, anggaran pendapatan tidak berbasis pajak. Kedua, pengelolaan kepemilikan yang sangat adil. Ketiga, kepastian dan keadilan hukum yang berlandaskan wahyu.

Pemimpin di dalam Islam adalah sebagai pelayan bagi rakyatnya. Dengan berlandaskan keimanan yang kokoh kepada Allah SWT, ia akan senantiasa merasa diawasi sehingga tidak akan mudah menyepelekan kesejahteraan rakyatnya. Karena dia sadar kelak setiap amanah kepemimpinan itu akan senantiasa dimintai pertanggung jawaban.

Dengan demikian, hakikat cinta yang menjaga itu bukan tentang siapa yang paling mencintai tanah kelahiran, negara tempat tinggal atau bahkan suku sendiri. Apalagi melibas, memangkas anggaran dengan pertimbangan akal semata. Melainkan kecintaan yang berlandaskan keimanan kepada Allah dengan menerapkan hukum-hukum Allah SWT di bumi ini. Karena pada hakekatnya ikatan yang paling kokoh itu hanyalah ikatan akidah islamiyah bukan nasionalisme (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nidhamul Islam Bab 3).

Wallahu a’lam bisshowab.

 

 

 

Oleh: Husnul Kh, S.H
Penulis dan Konten Kreator

Loading

Views: 9

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA