UIY: Kepala Negara Harus Jujur Akui Pelemahan Rupiah, Bukan Anggap Sepele

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Ismail Yusanto (UIY) menilai pelemahan rupiah terhadap dolar yang nyaris menyentuh Rp18.000 merupakan persoalan serius yang tidak boleh diremehkan dengan alasan “rakyat desa tidak pakai dolar”. Ia menegaskan kepala negara harus jujur mengakui masalah dan menjelaskan langkah penyelesaian kepada rakyat.

Pernyataan itu disampaikan UIY dalam diskusi di kanal YouTube UIY Official, Ahad (24/5/2026) bertajuk Dolar Naik, Orang Desa Gak Pakai Dolar?

“Kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah itu persoalan. Itu masuk dalam asumsi makro APBN. Kalau bukan persoalan, tidak akan pernah dibahas,” ujar UIY.

Menurutnya, meskipun masyarakat desa bertransaksi dengan rupiah, dampak kenaikan dolar tetap terasa melalui naiknya harga bahan bakar, pupuk, pangan, hingga biaya produksi yang bergantung pada impor.

UIY mengkritik komunikasi kepala negara yang meremehkan situasi. Ia mencontohkan, pernyataan yang tepat adalah mengakui pelemahan rupiah akan menyulitkan impor, tetapi pemerintah berusaha menstabilkan dan ada sisi positif bagi eksportir.

“Kepala negara itu penting perannya dalam mengkomunikasikan persoalan. Mestinya katakan dengan jujur, transparan, sekaligus memberikan semangat,” katanya.

*Struktur Ekonomi Belum Mandiri*

UIY menilai pelemahan rupiah terjadi karena struktur ekonomi Indonesia masih bergantung tinggi pada impor bahan baku. Ia menyebut industri otomotif hingga produksi tempe masih mengandalkan bahan impor, mulai dari kedelai hingga komponen mesin.

“Selama kita masih melakukan impor besar-besaran, kebutuhan terhadap mata uang asing akan terus berlangsung. Dolar jadi naik karena permintaannya tinggi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti praktik transfer pricing dan penahanan devisa ekspor di luar negeri yang membuat dolar hasil ekspor tidak kembali ke Indonesia. Akibatnya, cadangan devisa turun meski nilai ekspor besar.

*Solusi Fundamental: Kembali ke Mata Uang Riil*

UIY menyebut persoalan mendasar pelemahan rupiah adalah penggunaan fiat money yang tidak ditopang kekayaan riil. Kedaulatan mata uang, katanya, hanya bisa didapat jika menggunakan dinar emas dan dirham perak yang nilai nominalnya sama dengan nilai intrinsiknya.

“Mata uang kertas itu tidak menyimpan kekayaan secara riil. The real money itu emas. Harga kambing di zaman Nabi 1-2 dinar, sekarang 1 dinar justru bisa dapat dua kambing. Ini bukti emas tahan inflasi,” jelasnya.

Ia mencontohkan ongkos haji tahun 1976 senilai Rp 900 ribu setara 300 gram emas. Sementara ongkos haji 2026 sekitar Rp 90 juta hanya setara 40 gram emas. Dengan jumlah emas yang sama, kini bisa memberangkatkan tujuh orang.

UIY menegaskan, selama Indonesia masih menggunakan uang kertas dan terikat pada dolar, persoalan nilai tukar akan terus berulang. “Solusinya adalah kembali ke mata uang riil,” pungkasnya.[] Langgeng Hidayat

Loading

Views: 1

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA