Rupiah Keok, Ekonomi Terseok

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kondisi rupiah kian melemah. Menjelang masa pemerintahan
Presiden Jokowi, rupiah menukik turun hingga Rp 16.450,00 (cnnindonesia.com,
20/6/2024). Berbagai alasan mengemuka. Mulai dari alasan ketidakstabilan global
dan berbagai kondisi kebijakan pemerintah yang terus berdampak buruk.

Sistem Ekonomi ala Imperialisme

Kondisi serupa pernah terjadi juga pada masa pandemi saat
pertengahan tahun 2020, nilai rupiah yang memburuk hingga level Rp 16.575,00
per dolar AS.  Diketahui nilai rupiah
pernah membaik sekitar Rp 12.000,00 pada awal pemerintahan Jokowi. Namun
sayang, kondisi ini tidak mampu bertahan lama. Bak roller coaster, belakangan
ini nilai tukar rupiah terus memburuk dan terus menurun dari waktu ke waktu.

Menyoal fenomena tersebut, pengamat Komoditas dan Mata Uang,
Lukman Leong mengungkapkan tidak menutup kemungkinan jika rupiah akan semakin
anjlok hingga level Rp 17.000,00 per dolar AS. Lukman melanjutkan, kondisi
tersebut dipengaruhi banyak hal. Salah satunya ketidakpastian ekonomi global
yang terus mengancam dunia. Ketidakpastian ini pun terjadi karena ada perubahan
arah kebijakan suku bunga acuan. Pasar pun dihimbau agar waspada dalam
mengambil keputusan. Aset bermata uang rupiah menjadi ancaman berisiko untuk
para investor. Sehingga mesti secepatnya dialihkan ke wadah aset yang aman.

Penurunan rupiah pun membuat para investor asing ramai-ramai
menjual aset rupiah. Alasannya nilainya dikhawatirkan semakin turun pada masa
pemerintahan baru. Hal ini pun semakin dipicu karena masih kaburnya rencana
kebijakan fiskal yang resmi ditetapkan presiden mendatang.

Beragam dampak pasti akan datang saat nilai rupiah terus
melantai. Diantaranya, naiknya harga barang konsumsi, barang modal, hingga
bahan bakar. Semua dampak ini akan semakin memperburuk keadaan ekonomi dalam
negeri hingga berujung pada parahnya inflasi. Keadaan ekonomi makin hancur dan
sulit terkendali.

Menguatnya pelemahan rupiah menjadi fenomena yang selalu
dihadapi sistem ekonomi saat ini.  Setiap
solusi yang ditawarkan, tidak mampu menjadi pereda krisis. Banyak faktor
mempengaruhi terciptanya krisis rupiah. Salah satunya, penggunaan uang kertas
yang bersandar pada kondisi dollar AS. Semua kebijakannya disetir Amerika.
Sistem ekonomi dalam negeri akhirnya berujung tumpul dan tidak mandiri.

Faktor lain, pelemahan rupiah juga karena adanya
ketergantungan ekonomi dalam negeri terhadap negara asing. Walhasil, setiap
kebijakan yang ada ditetapkan untuk mengikuti nafsu ekonomi negara adidaya.
Tidak salah lagi, inilah konsep imperialisme yang disiapkan negara asing untuk menganeksasi
negeri-negeri kaya sumber daya yang lemah dalam pengurusannya, seperti
Indonesia.

Jauhnya sistem ekonomi dalam negeri dari konsep mandiri berdampak
buruk pada setiap sektor kehidupan. Tentu saja, fenomena ini pun bahkan semakin
menyulitkan kehidupan masyarakat kala biaya kehidupan semakin tidak bersahabat.

Buruknya dampak konsep pengaturan di bawah setir ekonomi
kapitalisme liberalistik. Sistem ini hanya memprioritaskan keuntungan materi
dan kepentingan oligarki. Sementara kepentingan rakyat selalu diposisikan
sebagai beban yang semakin dieliminasi.

Ekonomi global yang diterapkan hanya menyisakan sistem
ekonomi yang cacat. Setiap negara berkembang diposisikan sebagai sasaran empuk
negara adidaya. Disedot kekayaannya, hingga dibangkrutkan ekonominya melalui
kebijakan ala imperialis, utang dan ketergantungan impor yang menyandarkan
segalanya pada negara kapitalis. Wajar saja, keadaan ekonomi semakin terpuruk,
kehidupan rakyat pun kian kalang kabut.

Tangguhnya Sistem Ekonomi Islam

Sistem ekonomi Islam yang berbasis syariat Islam menetapkan
konsep pengaturan ekonomi pada mata uang emas. Mata uang emas dalam sistem
Islam adalah posisi ideal yang adil dan anti krisis. Sejak masa Rasulullah
SAW., mata uang emas dan perak telah diterapkan sebagai ala tukar sah yang
menjaga kestabilan ekonomi secara global.

Sepanjang sejarah penggunaannya, kedua mata uang tersebut
merupakan mata uang tangguh dalam sistem ekonomi Islam. Penetapan mata uang
emas dan perak merupakan mekanisme yang menstabilkan ekonomi secara kontinu.
Mata uang inilah yang ditetapkan sistem Islam dan penggunaannya senantiasa
dijaga dalam tatanan sistem yang amanah, yakni khilafah. Satu-satunya institusi
yang menerapkan hukum syara’ secara sempurna.

Dalam institusi khilafah, sistem ekonomi yang dijadikan
kebijakan bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi seluruh masyarakat. Setiap
ketetapan khalifah, pemimpin khilafah akan menciptakan ekonomi yang aman bagi
seluruh rakyat. Sehingga lonjakan harga dan krisis ekonomi bisa seoptimal
mungkin terhindarkan dengan berbagai strategi jitu ala khilafah.

Sebagaimana Rasulullah SAW. Bersabda,

“Imam adalah ra’in (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas
urusan rakyatnya” (HR. Al Bukhori).

Tidak hanya itu, sistem ekonomi Islam dalam naungan khilafah
juga dikenal sebagai mekanisme anti inflasi dan anti krisis. Kemandirian
ekonomi dalam negeri menjadi strategi inti demi menjaga kekuatan dan ketahanan
ekonomi. Diantaranya, tidak menjadikan impor dan utang sebagai pembangun
struktur ekonomi dalam negeri. Karena khilafah mengetahui bahwa impor dan utang
hanya akan menjadi lubang perangkap yang merusak sendi ekonomi.

Demikianlah Islam menetapkan mekanisme yang amanah dalam
memenuhi seluruh kebutuhan umat. Umat sejahtera dalam naungan Islam yang
menjaga dan menyejahterakan.

Wallahu’alam bisshowwab.

Oleh: Yuke Octavianty, Forum Literasi Muslimah Bogor

Loading

Views: 6

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA