Tinta Media – Mendengar anak-anak Gaza makin menderita membuat hati ini terluka tanpa daya. Dampak mental yang dialami anak-anak di Gaza sangat berat. Mereka menjadi trauma, mudah terkejut, dan terus terbayang bunyi serangan bom yang menakutkan. Anak-anak Gaza kehilangan rasa aman sehingga menjadi mati rasa dan pendiam, namun tidak kehilangan ketawakalannya kepada Allah. Waktu untuk bermain layaknya anak-anak habis. Mereka hanya berpikir bagaimana cara mempertahankan hidup walaupun harus menanggung luka dan kehilangan sebagian anggota tubuh.
Anak-anak Gaza adalah anak-anak yang kuat. Meskipun orang tua telah tiada, makanan dan air minum sulit didapat, gizi buruk mengancam, serta akses ke sekolah dan rumah sakit terputus akibat serangan bom Israel laknatullah, mereka tetap bertahan. Kompas.com melansir bahwa Katrin Glatz Brubakk, seorang psikoterapis Norwegia, mengatakan kepada BBC Mundo, “Tidak ada seorang pun anak di Gaza yang tidak trauma.”
Malapetaka di Gaza membuat sekian banyak anak Gaza merespons penderitaannya dengan diam dan membisu, seakan mereka berkata dalam hatinya, “Aku sudah tidak kuat lagi.” Itulah respons neurologis dalam kondisi stres dan trauma berat yang dialami anak-anak Gaza. Bahkan ketika tertidur pun, anak-anak Gaza tidak memiliki kepastian apakah mereka akan terbangun pada esok hari.
Kekejaman Israel terus membabi buta. Sekalipun dalam kondisi gencatan senjata, mereka tetap ingkar. Netanyahu memerintahkan militer Israel menguasai 70 persen wilayah Gaza. Entah berapa banyak anak-anak Gaza yang berhenti berkomunikasi karena setiap hari harus menghadapi serangan-serangan Israel yang semakin liar.
Penderitaan Gaza terasa semakin berat karena sepinya empati para penguasa muslim yang justru mengkhianati perjuangan muslim Palestina. Di mana dan ke mana hilangnya rasa kemanusiaan para penguasa muslim dunia yang menjadi harapan untuk membebaskan Palestina dari bengisnya kejahatan entitas Zionis Israel?
Bencana yang diderita anak-anak Palestina memang harus segera berakhir. Palestina harus dibebaskan dari cengkeraman kekejaman Israel. Pelaku kejahatan kemanusiaan dari Israel tidak layak disebut manusia; setan pun kalah. Sangat dibutuhkan institusi dalam naungan Khilafah untuk melawan entitas Zionis melalui jihad fi sabilillah. Dengan Khilafah, ada satu kepastian bahwa muslim dunia akan bersatu untuk membebaskan Palestina dari penderitaan. Wallahu a’lam bish-shawab.[]
Oleh: Ica
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 12
















