Tinta Media – Di saat umat Islam di berbagai penjuru dunia merayakan Idulfitri dengan penuh sukacita, suasana berbeda justru menyelimuti Gaza. Pada 1 Syawal 1447 Hijriah yang bertepatan dengan 20 Maret 2026, warga Palestina menunaikan salat Id dengan latar puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan Israel. Tak ada kemewahan, tak ada kenyamanan—yang ada hanyalah keteguhan hati dan keimanan yang tak tergoyahkan.
Dilansir dari Al Jazeera dan AFP, Jumat (20/03/2026), warga Palestina di Gaza merayakan Idulfitri dikelilingi puing-puing. Keluarga berkumpul di ruang terbuka dan di luar masjid yang rusak untuk melaksanakan salat. Terlepas dari genosida dan pengungsian, para jemaah tetap mempertahankan tradisi Idulfitri.
Jemaah menunaikan salat Idulfitri di Lapangan Al-Saraya, Gaza. Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan bahwa serangan udara Israel menewaskan empat orang pada 19 Maret, sementara militer Israel menyatakan telah melenyapkan empat warga Gaza yang dianggap mengancam pasukannya (DetikNews.com, 20/03/2026).
Pemandangan salat Id di ruang terbuka, di antara reruntuhan masjid dan rumah, menjadi simbol nyata bahwa kebahagiaan seorang mukmin tidak semata diukur dari materi. Dalam keterbatasan, warga Gaza tetap menjaga tradisi, berkumpul bersama keluarga, dan menghidupkan syiar Islam. Mereka tidak lagi berharap pada empuknya kasur atau hangatnya rumah, karena realitas telah membentuk mereka menjadi pribadi tangguh yang bersandar penuh kepada Allah Swt. Mereka sudah terbiasa di kamp pengungsian dengan alas tidur seadanya. Mereka tetap bersyukur masih diberi umur panjang untuk berjuang melawan zionis Israel, dengan kekuatan bertahan dan tetap bahagia di sudut kota yang hanya tersisa reruntuhan. Jiwa mereka menjadi semakin kuat setelah ditempa ujian berat. Mereka tetap optimistis dan siaga menghadapi lawan yang sudah tak beretika.
Di balik keteguhan warga Gaza, tersimpan luka mendalam yang tak kunjung sembuh. Serangan yang terus berulang, perjanjian yang dilanggar, serta dunia internasional yang kerap abai, menambah panjang daftar penderitaan rakyat Palestina. Lebih ironis lagi ketika perhatian global beralih pada konflik lain, penderitaan Gaza seakan tersisih dari prioritas. Derita warga Gaza semakin terlupakan ketika AS dan Israel fokus memerangi Iran. Ironisnya, negara-negara Arab Teluk justru bersekutu dengan negara kafir dalam menghadapi Iran dan melupakan derita Gaza. Idulfitri dalam kondisi mengenaskan ini seharusnya dirasakan sebagai penderitaan bagi seluruh kaum muslimin, bak satu tubuh. Nasib perdamaian dan kemerdekaan Palestina bukan menjadi prioritas bagi AS dan Israel; kedua negara tersebut lebih fokus pada hegemoni kekuasaan global.
Al-Qur’an telah memberikan pedoman yang jelas tentang ukhuah dan sikap terhadap sesama. Persaudaraan Islam bukan sekadar slogan, melainkan ikatan akidah yang menuntut kepedulian nyata. Dalam kondisi seperti ini, Idulfitri seharusnya tidak hanya menjadi momen perayaan, tetapi juga refleksi mendalam atas penderitaan saudara-saudara kita di Palestina.
Al-Qur’an mengajarkan untuk berkasih sayang dan lemah lembut terhadap sesama muslim serta bersikap tegas terhadap orang kafir (QS Al-Fath: 29). Ukhuwah islamiah menjadi pengikat bagi umat Islam di seluruh dunia untuk membebaskan penderitaan saudara seiman. Allah Swt. memerintahkan kaum mukmin untuk berjihad (QS At-Taubah: 123). Jihad dipandang akan sempurna jika negeri-negeri muslim bersatu di bawah kepemimpinan Khilafah ala minhajin nubuwwah. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Rini Ummu Aisy
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 4
















