Ambisi Israel Raya: Palestina Dijajah, Al-Aqsa Terancam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Genosida yang dilakukan entitas Zionis di Palestina belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Meskipun berbagai seruan gencatan senjata terus disuarakan dunia internasional, serangan terhadap Gaza tetap berlangsung. Di saat yang sama, perluasan permukiman ilegal di Tepi Barat terus dilakukan, bahkan mencapai ribuan unit baru. Tidak hanya itu, berbagai tindakan provokatif di Masjidilaqsa, termasuk pengibaran simbol-simbol Zionis, semakin menunjukkan ambisi besar yang selama ini mereka usung, yakni mewujudkan proyek “Israel Raya”.

Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik di Palestina bukan hanya sekadar persoalan batas wilayah ataupun sengketa politik biasa, yang terjadi adalah penjajahan sistematis terhadap tanah kaum Muslim yang disertai upaya penghapusan identitas Palestina dan penguasaan penuh atas wilayah yang mereka klaim sebagai bagian dari proyek Zionis.

Ambisi Israel Raya dibalik Agresi Zionis
Serangan brutal terhadap Gaza yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil tidak dapat dilepaskan dari ambisi ekspansionis Zionis. Dengan dalih keamanan, mereka menghancurkan permukiman, rumah sakit, sekolah, dan berbagai fasilitas publik. Di sisi lain, pembangunan pemukiman ilegal di Tepi Barat terus diperluas untuk mempersempit ruang hidup rakyat di Palestina.

Masjidilaqsa yang menjadi kiblat pertama umat Islam juga terus menjadi sasaran provokasi. Berbagai upaya dilakukan untuk mengubah status kawasan suci tersebut. Pengibaran bendera Zionis dan masuknya kelompok ekstremis Yahudi ke kompleks Masjidilaqsa merupakan simbol bahwa mereka ingin menunjukkan dominasi atas salah satu tempat paling suci bagi kaum Muslim.

Semua tindakan ini mengarah pada satu tujuan yang sama, yaitu mewujudkan ambisi Israel Raya melalui penguasaan wilayah Palestina secara menyeluruh. Kejahatan Kemanusiaan yang didukung Kekuatan Besar, apa yang dilakukan entitas Zionis bukan hanya sekadar pelanggaran hukum internasional, melainkan kejahatan kemanusiaan yang nyata. Pembunuhan massal, penghancuran fasilitas sipil, pengusiran penduduk, dan perampasan tanah merupakan bentuk kebiadaban yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Ironisnya, berbagai kejahatan tersebut terus berlangsung karena mendapat dukungan politik, ekonomi, dan militer dari negara-negara besar, terutama Amerika Serikat. Bahkan, berbagai solusi yang ditawarkan dunia internasional sering kali tidak menyentuh sampai akar persoalan, melainkan hanya mengelola konflik agar tetap berada dalam kerangka kepentingan politik global.

Di sisi lain, negeri-negeri Muslim yang memiliki potensi besar justru terpecah belah dalam batas-batas nasionalisme. Sebagian penguasa Muslim memilih diam, bahkan menjalin hubungan diplomatik dengan entitas penjajah. Akibatnya, penderitaan rakyat Palestina terus berulang tanpa penyelesaian yang hakiki.

*Khilafah: Wujud Persatuan Umat yang Hakiki*

Islam memandang Palestina sebagai bagian dari tanah kaum Muslim yang wajib dijaga dan dibela. Masjidilaqsa memiliki kedudukan mulia sehingga pembebasannya merupakan kewajiban umat Islam.

Namun, pembebasan Palestina tidak cukup hanya dengan doa, bantuan kemanusiaan, atau kecaman diplomatik. Sangat diiperlukan kekuatan politik dan militer yang mampu menghentikan agresi Zionis secara nyata. Kekuatan tersebut hanya dapat terwujud melalui persatuan umat Islam dalam institusi Khilafah.

Khilafah akan menyatukan negeri-negeri Muslim di bawah satu kepemimpinan tunggal sehingga potensi sumber daya manusia, ekonomi, teknologi, dan militer umat dapat diarahkan untuk melindungi kaum Muslim di mana pun berada. Sekat-sekat nasionalisme yang selama ini memecah belah umat akan dihilangkan sehingga umat Islam kembali menjadi satu kesatuan politik yang kuat.

Dalam sistem Khilafah, seorang khalifah berkewajiban menjaga kehormatan umat dan melindungi wilayah kaum Muslim. Karena itu, ketika Palestina dijajah dan Masjidilaqsa dinodai, negara akan mengambil langkah nyata untuk menghentikan penjajahan dan membebaskan tanah yang dirampas.

Saatnya umat bersatu, peristiwa yang terjadi di Palestina hari ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak cukup hanya mengandalkan simpati dunia internasional. Selama umat tetap tercerai-berai dan tidak memiliki kepemimpinan politik yang menyatukan mereka, agresi Zionis akan terus berulang.

Oleh karena itu, perjuangan menegakkan kembali syariat Islam secara kafah dalam institusi Khilafah harus menjadi agenda penting umat. Hanya dengan persatuan yang hakiki, kekuatan umat Islam dapat kembali hadir untuk membela Palestina, menjaga Masjidilaqsa, dan mengakhiri penjajahan yang telah berlangsung begitu lama. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Oleh: Cica Miranda
Aktivis Dakwah Yogyakarta

Loading

Views: 14

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA