Jurnalis: Hijrah adalah Perpindahan dari Jahiliah Menuju Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Saat bulan Muharam kembali hadir, Jurnalis Senior Joko Prasetyo mengajak untuk memahami lagi bahwa makna hijrah Rasulullah SAW bukan sekadar perpindahan dari Makkah ke Madinah, namun perpindahan dari jahiliah menuju Islam.

Hal itu ia sampaikan melalui rilis yang diterima Tinta Media bertajuk “Hijrah atau Terus Terjajah (Catatan Tahun Baru 1 Muharam 1448 H tentang Kebangkitan dan Perubahan Total)”, Selasa (1 Muharam 1448 H / 16 Juni 2026 M).

“Hijrah yang Rasulullah SAW lakukan bukan sekadar perpindahan dari Makkah ke Madinah namun perpindahan dari jahiliah menuju Islam,” tegasnya.

Maknanya, Om Joy lanjut menjelaskan, adalah perpindahan dari aturan manusia menuju hukum Allah dan dari keterpurukan menuju kebangkitan.

“Maka menjadi penting bagi umat untuk ditanya, apakah umat akan berhijrah menuju Islam secara kaffah, atau terus bertahan dalam berbagai bentuk keterjajahan yang lahir dari sistem jahiliah?” tanyanya dengan lugas.

Om Joy pun meluruskan, banyaknya pandang yang memahami bahwa hijrah hanya sebagai perubahan pribadi, padahal hijrah Rasulullah SAW jauh lebih besar daripada itu.

“Ketika beliau SAW berhijrah ke Madinah, yang berpindah bukan hanya individu-individu Muslim, yang berpindah adalah pusat kehidupan umat. Dari masyarakat yang diatur oleh jahiliah menuju masyarakat yang diatur oleh syariat Islam,” ungkapnya.

Karena itu, ia menandaskan, hijrah bukan sekadar meninggalkan dosa secara individual, tetapi juga meninggalkan aturan yang bertentangan dengan Islam (dosa kolektif yang berasal dari fardhu kifayah) menuju aturan yang bersumber dari wahyu Allah SWT.

Hijrah Kaffah

Om Joy kemudian menegaskan, bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga ekonomi, pergaulan, pendidikan, politik, hukum, dan kehidupan masyarakat. Sehingga, gugahnya, hijrah yang dibutuhkan adalah bukan hanya hijrah pribadi, tetapi hijrah kehidupan.

“Jika masalahnya menyeluruh, maka hijrahnya pun harus menyeluruh,” cetusnya.

Ia pun mengingatkan, hijrah bukan hanya urusan dunia karena setiap manusia akan berdiri di hadapan Allah SWT pada Hari Hisab atau hari perhitungan amal, termasuk setiap Muslim akan ditanya tentang sikapnya terhadap perintah dan larangan Allah SWT.

“Karena itu, hijrah bukan sekadar pilihan gaya hidup dan kebutuhan pribadi. Hijrah adalah kewajiban syar’i dan kebutuhan umat, serta bukan sekadar jalan menuju perubahan dunia. Hijrah juga merupakan jalan menuju keselamatan akhirat,” terangnya memungkasi.[] Erlina

Loading

Views: 20

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA