UIY: Spirit Hijrah Harus Naik Level dari Individu ke Masyarakat dan Negara

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menyampaikan bahwa spirit hijrah harus naik level dari individu ke level masyarakat dan negara.

“Hari ini harus sampai kepada semangat mengubah tatanan masyarakat dan negara menjadi diridai Allah,” tegas UIY dalam diskusi bertajuk “Spirit Hijrah di Tengah Krisis Dunia Islam” yang tayang di kanal YouTube UIY Official, pada Ahad (14/6/2026).

Ia lantas mengingatkan urgensi hijrah terletak pada pahalanya yang tak ada bandingannya. Ia merujuk hadits riwayat An-Nasa’i bahwa Rasulullah bersabda _‘alaika bil hijrah, fainnahu laa mitslalaha_. “

Maknanya, jelas UIY, jika suatu amalan dijanjikan pahala yang besarnya masih bisa dibayangkan, tapi khusus hijrah, Nabi SAW hanya mengatakan pahalanya tak ada bandingannya.

Dalam pandangan UIY, alasan di balik pahala sebesar itu karena hijrah menyangkut harta paling berharga milik manusia, yaitu iman dan takwa.

“Iman dan takwa inilah yang menentukan tinggi rendah posisi kita di hadapan Allah. Bukan harta, ilmu, wajah, pangkat, atau jabatan, tapi semata takwa. _Inna akramakum ‘indallahi atqaakum_,” ujarnya.

Konsekuensinya, sambung UIY, ketika iman dan takwa terancam direnggut, umat tidak boleh tinggal diam. “Harus dipertahankan _by all means_ dengan segala cara, _at all cost_ dengan risiko apapun. Jika untuk mempertahankannya kita harus pergi, maka kita pergi. Jika harus meninggalkan negeri, kita tinggalkan. Inilah yang disebut hijrah _makani_,” sebut UIY.

Secara syar’i, ia mendefinisikan hijrah _makani_ sebagai _alkhuruj min daril kufri ila daril islam_, yakni keluar dari negeri kufur menuju negeri Islam. Maksudnya negeri yang tidak memberi kebebasan menampakkan syiar Islam dan justru mengancam jiwa, sebagaimana Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah.

“Substansi hijrah adalah _alfiraru biddin minal fitan_, menyelamatkan agama dari fitnah,” tegasnya.

Lebih jauh, UIY mengutip Syekh Izzuddin bin Abdussalam bahwa hijrah ada dua macam. Pertama, _hijratul authan_ atau hijrah negeri. Kedua, _hijratul itsmi wal ‘udwan_, yaitu hijrah meninggalkan dosa dan maksiat. “ _Al muhajiru man hajarah anhu_. Orang yang hijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah,” katanya.

Jenis kedua inilah yang disebut hijrah _maknawi_. Tidak berpindah tempat, tetapi meninggalkan yang dilarang Allah: berhenti melakukan yang haram dan tidak lagi meninggalkan yang wajib. “Jika masih ada yang haram dilakukan atau yang wajib ditinggalkan, maka hari ini harus segera berhijrah,” ujar UIY.

Prinsip hijrah maknawi ini, kata UIY, tak boleh berhenti di ranah pribadi. “Kita perlu melihat apakah hal itu juga terjadi pada masyarakat dan negara kita. Faktanya, yang dilarang Allah justru dilakukan, sementara yang diwajibkan justru ditinggalkan,” kata UIY.

Sebagai contoh nyata, UIY menyebut riba. “ _Dirhamur riba_, satu dirham riba atau sekitar Rp145.000 yang dimakan seseorang dan dia mengetahui, dosanya lebih berat dari 36 kali berzina. Tapi hari ini riba bukan hanya boleh, bahkan diwajibkan dalam undang-undang perbankan. Bank wajib memungut bunga,” ujarnya.

Dampaknya pun membebani keuangan negara. “Dalam APBN 2026 ada alokasi pembayaran bunga kurang lebih Rp600 triliun. Kebayang tidak, satu dirham saja dosanya lebih berat dari 36 kali berzina, apatah lagi 600 triliun,” kata UIY.

Karena kondisi itu, UIY menilai umat masih punya tanggung jawab besar menghijrahkan masyarakat dan negara. “Apalagi kalau secara faktual diri kita juga masih ada perkara yang diharamkan. Maka kita punya tugas ganda: menyelesaikan kehidupan kita dan membawa masyarakat dan negara menuju hijrah,” tegasnya.

Menjawab pesimisme pemuda soal masa depan setelah hijrah, UIY menekankan pentingnya keyakinan. Ia mengutip QS An-Nisa ayat 100: _wa may yuhajir fi sabilillahi yajid fil ardhi muraghaman katsiran wa sa’ah_. “Barang siapa hijrah di jalan Allah pasti menjumpai tempat hijrah yang banyak dan rezeki yang luas. Kita berhijrah menuju Allah, _Khairur Raaziqiin_. Mengapa ragu terhadap masa depan?” katanya.

UIY menutup bahwa hijrah sejatinya adalah pilihan yang tidak bisa ditawar. “Kalau kita ingin kebaikan dunia, terlebih akhirat, maka hijrah ini wajib,” pungkasnya.[] Langgeng Hidayat

Loading

Views: 12

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA