Tinta Media – Cendekiawan Muslim, Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY), menyampaikan lima inspirasi dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw. dan para sahabat dari Makkah ke Madinah.
“Yang pertama, keberanian mengambil keputusan besar,” ujarnya dalam acara Islamic Collaboration Forum (ICF) bertajuk “Dialog Muharram 1447 H: Hijrah, Merajut Ukhuwah, Merangkai Peradaban Islam Kaffah”, Sabtu (28/6/2025) di kanal YouTube One Ummah TV.
UIY mengungkapkan, hijrah dari Makkah ke Madinah bukanlah keputusan mudah. Nabi dan para sahabat meninggalkan tanah kelahirannya dan harta dengan risiko nyawa.
“Jelaslah, bahwa dalam perjuangan dibutuhkan keberanian mengambil keputusan besar demi masa depan yang lebih baik dalam naungan ridha Allah SWT,” jelasnya.
Kedua, pentingnya perencanaan dan strategi yang matang. Hijrah, sebut UIY, bukan pelarian mendadak. Nabi menyusun rencana detail, memilih waktu, rute yang tidak biasa, hingga bekerja sama dengan pemandu nonmuslim.
“Dari sana kita mendapat pelajaran bahwa perubahan besar dalam hidup, apalagi hidup bersama, perubahan besar dunia harus disiapkan dengan strategi dan kerja sama yang matang,” lanjutnya.
Ketiga, menjaga optimisme dan keyakinan. UIY mengatakan, meski dalam tekanan, Nabi tetap yakin akan pertolongan Allah SWT.
“Saat bersembunyi di Gua Tsur, beliau berkata lā tahzan, innallāha ma‘anā (janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita). Dan yakinlah, dalam masa sulit, apalagi dalam menggerakkan perubahan besar, tetaplah yakin bahwa Allah SWT, Pemilik alam semesta ini, tak pernah meninggalkan kita yang setia di jalan-Nya,” gugahnya.
Keempat, membangun masyarakat plural yang inklusif. Sesampainya di Madinah, sambung UIY, Nabi tidak hanya membangun masjid, tapi juga menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar serta menjalin kesepakatan damai dengan nonmuslim.
“Dari sana kita mendapatkan pelajaran bahwa hijrah bukan hanya soal diri sendiri, tapi juga bagaimana membangun masyarakat yang adil, damai, sejahtera, dan itu hanya mungkin dalam naungan Islam yang kaffah,” terangnya.
Kelima, transformasi diri dan lingkungan. Hijrah, terang UIY, menandai perubahan dari fase dakwah tertindas menjadi kekuatan yang membentuk masyarakat.
“Dari sana kita belajar bahwa hijrah tak hanya tentang perbaikan kualitas diri, tapi juga tentang perubahan pola dan tatanan hidup, dari yang buruk menuju yang lebih baik,” tegasnya.
UIY menyimpulkan, bahwa hijrah Nabi Muhammad saw. dan para sahabat dari Makkah ke Madinah bukanlah hanya perjalanan fisik, tapi juga sebuah transformasi besar dalam kehidupan umat Islam yang kemudian menjadi tonggak penting dalam tegaknya peradaban Islam, yang membentang berbilang abad lamanya.
“Ini dicatat dengan sangat baik oleh Michael Hart, bahwa Baginda Rasulullah saw. adalah the most influential person in history,” pungkasnya.[] Muhar
Views: 70













