Tinta Media – Pakar Biologi Molekuler Ahmad Rusdan H.Utomo Ph.D menjelaskan pengaruh genetik terhadap perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) kecil sekali.
“Kalau dari gen itu sendiri untuk akhirnya menimbulkan perilaku berarti yang melampiaskan hasrat tersebut itu bisa dibilang kecil sekali,” tuturnya dalam segmen FOKUS: Pro Kontra Sanksi Keras terhadap LGBT, di kanal YouTube UIY Official, Ahad (5/7/2026).
Menurutnya, kalaupun ada karena dibuktikan secara literatur dari penelitian, bermakna secara statistik. Namun harus dilihat dari dua kemaknaan. Kemaknaan secara statis, kemaknaan secara dunia nyata.
“Tidak selalu penelitian yang bagus itu harus kemaknaan secara statistik. Dalam studi ini sebetulnya p-value itu kurang dari 0,00-nya itu sampai pangkat 8 minus 8. Jadi kecil sekali,” jelasnya.
“Artinya, memang kontribusi itu ada sebetulnya. Kontribusi itu ada, tetapi apakah itu bisa menjadi penyebab? Nah, ini makanya kalau dalam dunia penelitian. Dunia penelitian itu, kita harus tahu juga desainnya,” tukasnya.
Ia menyebutkan bahwa dalam dunia penelitian ada namanya metode penelitian Mpen. Dan Mpen ini ada berbagai macam desain studi. Diantaranya, desain studi observasional. “Misalnya kita melakukan eksperimen. Jadi kita tidak mengambil orang sehat, kita mutasi gennya lalu kita ikuti 30 tahun jadi perilaku homoseksual kan itu kan enggak etis kan seperti itu. Jadi yang kita lakukan itu adalah studinya observasional,” bebernya.
“Nah, studi observasional sendiri kalau merujuk ke studi yang dari Inggris, studinya itu case control sebetulnya. Jadi kita mengumpulkan kelompok yang heteroseksual dan kelompok yang homosek seksual. Lalu kita lihat apakah ada perbedaan proporsi gennya, berarti kita hanya bisa mengatakan ini ada hubungan yang signifikan secara statistik. Ada beberapa gen yang memang bermakna tapi efek size nya itu kecil sekali. Jadi, kita enggak bisa mengatakan bahwa gen ini, kalaupun ini bermakna, kita enggak bisa mengatakan ini menyebabkan,” paparnya.
Dilihat dari literaturnya, Ahmad juga menjelaskan itu studinya asosiasi. Konsep asosiasi itu bukan konsep kausalitas. Jadi, asosiasi yang sangat kuat ini standar sebetulnya.
“Kalaupun pertama tadi efek, kalau sehubungannya memang betul bermakna walaupun efek size kecil tapi kalau misalnya ada yang mau lebih over interpret, overclaim. Berarti kalau ini sangat bermakna inilah penyebab, enggak bisa. Karena apa? Studinya itu dirancang tidak untuk membuktikan kausalitas,” ungkapnya.
“Artinya apa? Kita juga enggak bisa mengatakan dengan pasti kalau ada orang lahir, orok lahir, dia punya variasi yang sama tadi itu yang ditemukan bermakna pada kelompoknya homoseksual. Kita enggak bisa memprediksi secara tepat. Ini pasti akan jadi homoseksual. Enggak bisa. Kecil banget,” sebutnya.
Ia mengatakan bahwa beda dengan kognitif penyakit kanker. Ada beberapa penyakit yang dilihat dari genetik itu bisa. Tetapi kalau penelitian genetik terhadap perilaku LGBT, disepakati bahwa ini tidak bisa membuktikan secara kausalitas perilaku yang homoseksual.
“Tetapi kalau seperti penampakan yang gemulai kayak teman saya yang ahli genetik. Itu bukan perilaku seksualnya, karena fenotipnya aja. Dia bicaranya lemah lembut. Dia pakai kumis jenggot yang sangat tebal. Tetapi dia sangat lemah lembut,” tuturnya.
“Kita enggak bisa mengatakan, berarti dia ada gennya juga. Tetapi sebagian orang yang menyandang DSD (differential seks development) itu memang ada gennya, ada mutasi. Hanya dari fenotip aja itu agak susah untuk sebagai bukti utama,” tandasnya.[] Ajira
![]()
Views: 2
















