Tinta Media – Berbagai survei menunjukkan bahwa Generasi Z di Indonesia merupakan kelompok yang paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan mental. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi satu dari tujuh anak atau sekitar 14,3 persen remaja berusia 10–19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental. Kondisi tersebut menyumbang sekitar 15 persen beban penyakit global pada kelompok usia muda. Namun, sebagian besar kasus tersebut tidak dikenali dan tidak mendapatkan penanganan (Kompas.id, 18/6/2026).
Konselor profesional di bidang terapi kognitif dan perilaku, Janee Steele, menyebutkan bahwa 60 persen Generasi Z mengalami stres dan kecemasan sosial (mojok.co, 30/4/2026).
Faktor pemicunya pun beragam, mulai dari kekhawatiran terhadap masa depan, tekanan finansial, ekspektasi sosial, pengaruh media sosial, hingga berbagai persoalan lainnya. Survei terhadap 1.158 responden dari kalangan Generasi Z yang dilakukan pada 10–12 Desember 2025 melalui kuesioner daring di aplikasi Jakpat menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap masa depan menjadi pemicu utama gangguan mental dengan persentase mencapai 60 persen, disusul tekanan finansial sebesar 57 persen, ekspektasi sosial 42 persen, dan perasaan tidak berdaya terhadap situasi di luar kendali sebesar 36 persen (goodstats.id, 8/4/2026).
Fenomena ini terjadi di berbagai belahan dunia. Ketidakpastian karier dan masa depan membuat Generasi Z semakin skeptis terhadap masa depan. Di balik kondisi tersebut, muncul pula gelombang resistensi yang diprediksi dapat menjadi titik balik bagi generasi ini dalam menentukan arah masa depannya.
Gen Z Tumbuh dalam Peradaban Sekuler-Kapitalistik
Krisis multidimensi yang mencengkeram dunia saat ini menjadi pemicu utama kecemasan mendalam di kalangan Generasi Z. Mereka tumbuh di tengah dunia yang menghadapi berbagai persoalan secara bersamaan.
Potensi mereka sebagai generasi muda sejatinya sangat besar. Namun, potensi tersebut secara sistematis dilemahkan oleh berbagai faktor yang merusak jati diri melalui peradaban sekuler-kapitalistik, yang sejak awal dipandang menjauhkan manusia dari jati dirinya yang hakiki.
Minimnya riayah negara terhadap generasi muda turut memperparah keadaan. Alih-alih dirangkul, mereka justru kerap menjadi sasaran stigma dari generasi di atasnya. Mereka dianggap lemah, manja, dan tidak tahu bersyukur, padahal merekalah yang menanggung berbagai dampak dari kerusakan sistem yang tidak mereka ciptakan.
Namun, di balik kecemasan dan sikap kritis tersebut, Generasi Z memiliki peluang besar untuk bangkit dan menjadi agen perubahan menuju kondisi yang lebih ideal.
Islam Adalah Solusi Krisis Gen Z
Islam dipandang sebagai solusi atas krisis yang melanda dunia saat ini. Penerapan Islam menghadirkan rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi seluruh alam) yang membawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia.
Karakter generasi pada masa kejayaan Islam dikenal kuat. Mereka memiliki kepribadian Islam sekaligus menguasai berbagai bidang keilmuan. Generasi emas Islam juga tidak lahir pada masa yang mudah. Mereka ditempa di tengah berbagai tantangan, tetapi sistem yang benar menjadikan mereka bukan sekadar korban keadaan, melainkan penentu arah peradaban. Kondisi tersebut didukung oleh hadirnya negara sebagai pelindung dan pelayan umat yang menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil.
Karena itu, kecemasan Generasi Z saat ini bukan sekadar tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa ada persoalan pada sistem yang menaungi mereka. Ketika kepribadian Islam kembali menjadi fondasi dan negara kembali hadir sebagai pelindung sejati, Generasi Z diyakini tidak hanya mampu keluar dari kecemasannya, tetapi juga menjadi generasi emas berikutnya yang akan mewarnai sejarah.
Semua itu dipandang bukan sesuatu yang mustahil terwujud. Hal tersebut akan tercapai ketika para pemuda, termasuk Generasi Z, menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan sekadar bacaan ritual, melainkan fondasi dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Demikian pula ketika negara kembali hadir bukan sekadar sebagai regulator, tetapi sebagai pelindung sejati yang merangkul setiap generasi tanpa terkecuali.
Pada titik itulah Generasi Z akan menemukan jawabannya, bukan semata dalam terapi kecemasan atau pelarian digital, melainkan dalam kebangkitan peradaban Islam yang sesungguhnya.
Sudah sepatutnya para pemuda hari ini mengemban mabda Islam serta memiliki kepedulian terhadap kondisi umat agar masa depan yang gemilang tidak lagi sekadar menjadi angan-angan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Yuyun Maslukhah, S.Sn.
(Sahabat Tinta Media)
![]()
Views: 2





