Tinta Media – Setiap tahun kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Namun, setiap tahun pula kita menyaksikan betapa buramnya kondisi pendidikan di negeri ini. Mulai dari kasus pelecehan di lingkungan perguruan tinggi hingga anak sekolah dasar yang turut menjadi korban. Belum lagi kasus dugaan kecurangan dalam penetapan UKT, peredaran narkoba di sekolah, hingga kasus kekerasan yang dilakukan siswa terhadap keluarganya. Lebih memprihatinkan lagi, ada guru yang dipenjara akibat laporan orang tua siswa, padahal dalam banyak kasus persoalan bermula dari kesalahan siswa itu sendiri.
Di Mana Letak Masalahnya?
1. Guru Ketakutan Mendidik
Bagaimana moral anak bangsa dapat diperbaiki jika guru merasa takut mendidik karena dibayangi pasal-pasal perlindungan anak?
Seorang anak masih membutuhkan bimbingan, bukan pembelaan secara membabi buta.
2. Adab Ditinggalkan
Pemahaman agama tentang adab kepada guru sangat penting. Nilai-nilai etika dan moral harus terus diajarkan kepada siswa agar mereka memahami pentingnya saling menghormati dan menghargai.
3. Sistem Tambal Sulam
Pendidikan tidak cukup hanya diperingati melalui seremoni tahunan, tetapi membutuhkan perbaikan yang berkelanjutan.
Pendidikan merupakan sektor yang harus menjadi prioritas. Keberhasilan pendidikan akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, santun dalam bersikap, dan taat dalam beragama. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi yang harus dimiliki oleh siswa maupun guru sehingga dapat mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Namun, melihat kondisi pendidikan saat ini, harapan tersebut terasa semakin sulit diwujudkan.
Potret Pendidikan Hari Ini
– Pelajaran agama kurang. Kesalahan yang dilakukan anak sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar karena alasan “masih anak-anak”, tanpa adanya sanksi yang jelas. Akibatnya, anak menjadi manja dan menganggap perbuatannya bukan sebuah kesalahan.
– Tidak ada efek jera. Ketika ada oknum pendidik yang melakukan pelanggaran, sanksi yang diberikan juga sering kali tidak tegas sehingga tidak menimbulkan efek jera.
– Sistem terus berganti. Setiap pergantian pemimpin diikuti dengan perubahan sistem pendidikan. Orang tua pun dibuat kebingungan setiap memasuki tahun ajaran baru.
– Pendaftaran dipersulit. Tidak hanya persoalan perlengkapan sekolah yang membebani, proses pendaftaran pun sering kali rumit. Akibatnya, banyak orang tua terpaksa menyekolahkan anaknya di sekolah swasta dengan biaya yang tidak sedikit.
– Zonasi membatasi prestasi. Prestasi yang diraih siswa belum tentu menjamin diterima di sekolah yang diinginkan karena berbagai ketentuan, seperti jalur zonasi maupun jalur afirmasi. Akibatnya, kesempatan masuk ke sekolah tujuan menjadi makin kecil. Betapa sedihnya orang tua yang melihat anaknya belajar dengan sungguh-sungguh, tetapi nilai yang diperoleh tidak mampu mengantarkannya ke sekolah yang diharapkan.
Bagaimana Solusi dalam Islam?
Dalam Islam, pendidikan merupakan prioritas dan disediakan secara gratis bagi seluruh umat. Tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin. Setiap anak memperoleh fasilitas dan kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan. Memberikan pendidikan terbaik merupakan kewajiban seorang khalifah.
“Sesungguhnya imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Islam juga mengajarkan agar adab didahulukan sebelum ilmu. Dengan adab yang baik, ilmu akan membawa manfaat. Sebaliknya, tanpa adab, seorang siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak bermoral dan mudah melanggar aturan.
“Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara: mencintai nabimu, mencintai keluarganya, dan membaca Al-Qur’an.” (HR Ath-Thabrani)
Jangan jadikan Hari Pendidikan Nasional sekadar seremonial. Sudah saatnya pendidikan dibenahi dari akarnya: mengembalikan adab, menegakkan keadilan, dan menjadikan pendidikan sebagai tanggung jawab negara, bukan beban orang tua.
Oleh: Suparti
(Pejuang Dakwah)
![]()
Views: 3
















