Tinta Media – Menurut Kornas JAM for Islam Kaffah, Apri Hardiyanti, S.H., perang Iran-Israel sebagai bukti ketakutan Barat akan bangkitnya Politik Islam.
“Perang Iran-Israel menunjukkan ketakutan Barat terhadap perlawanan umat Islam dan kekhawatiran akan bangkitnya politik Islam karena Barat terus mengupayakan pencegahan persatuan kaum Muslimin,” ungkapnya dalam forum Activist Talk #6, Back to Muslim Identity Community chapter Depok (BMI Depok), One Ummah One Voice: Break the Siege, End the Genocide, Sabtu (19/7/2025) di Depok.
Apri pun menegaskan, Barat mengajak pemimpin kaum Muslim untuk membangun hubungan romantis dengan Barat sehingga pemimpin negeri-negeri Muslim yang dilintasi rudal hanya bisa menjadi penonton tanpa upaya perlawanan sedikit pun.
“Serangan Israel ke Iran pun mendapatkan lampu hijau dari AS sehingga berbagai macam bantuan diberikan kepada Israel untuk menekan Iran. Bantuan AS ini juga menjadi alat negosiasi AS kepada Iran karena program nuklir Iran dianggap ancaman serius bagi Israel,” ujar Ketua Kornas KOHATI 2018-2020 ini di hadapan sekitar 40 peserta.
Tak hanya itu, lanjutnya, dominasi kendali AS atas perang Iran-Israel membuktikan, sesungguhnya entitas Yahudi tidak akan mampu melakukan serangan terhadap negeri-negeri kaum Muslimin kecuali atas dukungan dari Amerika dan sekutu-sekutunya. Perang singkat antara Iran dan entitas Yahudi menunjukkan keterbatasan kapabilitas perang musuh dan kekhawatiran akan eskalasi peperangan kawasan.
“Amerika dan sekutunya berusaha sekuat tenaga untuk melakukan de-eskalasi dengan berbagai perjanjian diplomatik seperti Abraham Accords yang terus dikampanyekan untuk menormalisasi hubungan antara entitas Yahudi dengan negeri-negeri Arab di sekitarnya. Namun perang Iran-Israel ini tidak juga menghentikan genosida di Gaza yang pada hakikatnya jumlah korban jiwa dari serangan entitas Yahudi ke Gaza jauh lebih besar daripada perang 12 hari Iran-Israel,” bebernya.
Ia pun menyebutkan, pasca kemenangan Israel pada perang Iran-Israel ini justru dijadikan sebagai alat untuk normalisasi hubungan negeri-negeri Arab dengan Israel. Ketika tiba di Gedung Putih, prioritas Netanyahu mendorong kesepakatan diplomatik bagi Israel untuk menormalisasi hubungan dengan Suriah atau Arab Saudi sebagai kemenangan besar Israel atas Iran setelah konflik 12 hari.
“Trump pun tidak merahasiakan fakta bahwa dia ingin Damaskus dan Riyadh juga menormalisasi hubungan dengan Israel—memperkuat kredibilitas sebagai pembuat kesepakatan—tetapi ia mungkin harus menggabungkan kemajuan menuju kesepakatan tersebut dengan penyelesaian perang Israel di Gaza dan pendudukan wilayah Suriah,” ujarnya.
Normalisasi hubungan negeri-negeri Arab dengan Israel, terangnya, sebagaimana keinginan AS ini lahir dari rahim nasionalisme Sekuler. Padahal Islam mencela keras pelaku Ashabiyah yang dianggap sebagai tindakan jahiliyah sebagaimana sabda Rasul SAW, “Dan Barangsiapa mati di bawah bendera fanatisme golongan, dia marah karena fanatisme golongan atau karena ingin memenangkan bangsanya kemudian dia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah.” (HR Muslim No. 3525).[] Maulida Putri A
Views: 31






