Tinta Media – Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menduga kuat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran bertujuan menundukkan rezim Teheran.
“Kalau kita lihat, serangan Amerika ini, diduga kuat itu hanya untuk mengubah struktur internal rezim Iran agar lebih tunduk kepada Amerika Serikat,” ujarnya dalam series Mbois: Pasca Serangan ke Iran, Bagaimana Situasi dan Kepentingan Geopolitik berikutnya? Selasa (3/3/2026) di kanal YouTube Tabloid Media Umat.
Farid menilai, AS tidak lagi puas dengan posisi Iran yang hanya berfungsi sebagai aktor regional, melainkan menginginkan Iran sepenuhnya tunduk sebagai negara satelit.
“Amerika di bawah Donald Trump tampaknya ingin Iran benar-benar menjadi negara pengekor yang sepenuhnya tunduk kepada Amerika Serikat,” nilainya.
Pasalnya, kata Farid, perubahan sikap AS itu diduga berkaitan dengan upaya sebagian elite Iran yang mulai membuka hubungan lebih erat dengan kekuatan global lain, khususnya Cina.
“Itu terlihat dari bagaimana Iran mulai menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Cina. Hal semacam ini tentu tidak diinginkan oleh Amerika,” ucapnya.
Di sisi lain, Farid mengungkapkan, serangan tersebut juga menunjukkan melemahnya penghormatan terhadap hukum internasional dalam tatanan global saat ini.
Ia menjelaskan bahwa tindakan militer terhadap suatu negara seharusnya tidak dapat dilakukan secara sepihak tanpa dasar hukum internasional yang jelas.
“Berdasarkan hukum internasional, tidak boleh satu negara melakukan intervensi terhadap kedaulatan negara lain. Demikian juga serangan terhadap satu negara,” jelasnya.
Ia menambahkan, situasi tersebut menunjukkan bahwa kekuatan politik dan militer kini lebih dominan dibandingkan norma hukum internasional yang selama ini diklaim dijunjung oleh negara-negara Barat.
“Seperti yang disampaikan oleh Perdana Menteri Kanada di Davos kemarin, bahwa dunia sekarang tidak lagi berbasis kepada aturan,” tegasnya.
Lebih jauh, Farid mengingatkan, serangan AS–Israel terhadap Iran ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi umat Islam terkait lemahnya posisi politik dunia Muslim dalam sistem internasional saat ini.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari fragmentasi dunia Islam yang terpecah ke dalam banyak negara bangsa sehingga tidak memiliki kekuatan kolektif untuk menghadapi tekanan global.
“Masalah terbesar umat ini bukan hanya karena agresi eksternal, tapi karena kerapuhan internal kita. Dunia Muslim terpecah dalam puluhan negara bangsa, sibuk dengan kepentingannya sendiri. Dan ketika satu negeri digempur, yang lain hanya menyampaikan keprihatinan dan tidak ada kekuatan kolektif yang menjadi daya tangkal bersama,” pungkasnya.[] Ikbal
![]()
Views: 51
















