Perang Iran vs AS–Israel: Bara Kapitalisme yang Membakar Dunia Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Perang Iran vs AS–Israel: Bara Kapitalisme yang Membakar Dunia Islam

Tinta Media – Ledakan demi ledakan kembali mengguncang Timur Tengah. Ancaman perang regional kian nyata di depan mata. Konflik antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel bukan lagi sekadar ketegangan diplomatik, tetapi telah menjelma menjadi bara perang yang siap membakar dunia Islam secara luas.
 
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari 2026 menjadi titik balik eskalasi konflik. Serangan ini bukan hanya simbol kekuatan militer, tetapi juga pesan politik: dominasi harus tetap di tangan kekuatan global. Namun Iran tidak tinggal diam. Serangan rudal balasan menghantam wilayah Israel dan basis militer sekutu di kawasan. Dan terlibatnya kelompok-kelompok milisi seperti Houthi di Yaman dan Hezbullah di Lebanon turut menjadikan perang ini semakin sulit dikendalikan.
 
Perang Hegemoni: Perebutan Kendali Dunia
 
Jika ditelisik lebih dalam, perang ini sama sekali bukan sebatas soal nuklir Iran atau keamanan Israel semata sebagaiman yang kerap kali dinarasikan. Narasi tersebut hanyalah pembenaran politik terhadap wajah luar dari konflik yang lebih dalam. Hakikatnya, ini adalah perang hegemoni dan perebutan kendali atas kawasan paling strategis di dunia.
 
Dalam logika ini, siapa menguasai Timur Tengah, ia menguasai energi; dan siapa menguasai energi, ia mengendalikan dunia. Berdasarkan hal ini, maka Amerika Serikat sebagai pengemban ideologi dan pemimpin sistem kapitalisme global memiliki kepentingan strategis untuk memastikan Timur Tengah tetap berada dalam orbit pengaruhnya. Karena kawasan ini bukan sekadar wilayah geografis, tetapi pusat energi dunia. Sedangkan jalur seperti Selat Hormuz menjadi urat nadi perdagangan minyak global, gangguan kecil saja di jalur ini dapat mengguncang ekonomi dunia.
 
Dalam perspektif ini, maka Iran yang berusaha melakukan perlawanan terhadap hegemoni Barat, bagi Amerika Serikat dan juga Israel dinilai bukan sekadar “ancaman”, tetapi potensi pesaing regional yang bisa mengganggu keseimbangan kekuatan yang selama ini dikendalikan Amerika Serikat.
 
Kapitalisme: Mesin Produksi Konflik Global
 
Sedangkan di balik semua ini, terdapat satu akar persoalan yang jarang disentuh secara jujur, yakni kapitalisme. Sistem kapitalisme menjadikan kekuasaan, keuntungan, dan dominasi sebagai tujuan utama. Negara-negara besar tidak bergerak berdasarkan nilai kemanusiaan, melainkan kepentingan strategis dan ekonomi. Dalam sistem ini, perang bukan kegagalan melainkan instrumen. Perang membuka akses terhadap sumber daya dan menciptakan ketergantungan. Perang memungkinkan rekonstruksi ekonomi yang menguntungkan korporasi global. Bahkan industri militer sendiri menjadi salah satu sektor paling menguntungkan dalam sistem kapitalisme.
 
Timur Tengah pun berubah menjadi panggung konflik permanen. Dari Irak, Suriah, Afghanistan, Palestina, hingga kini Iran. Pola yang terjadi selalu sama: intervensi, destabilisasi, konflik berkepanjangan, lalu ketergantungan pada kekuatan global. Tidak ada yang benar-benar “diselesaikan”. Yang ada hanyalah pengelolaan konflik agar tetap menguntungkan pihak-pihak tertentu. Maka, fakta ini menyingkap satu hal: perang semacam ini merupakan konsekuensi dari hegemoni dan permainan kekuaatann global yang tak berkesudahan, menambah penderitaan umat karena hidup dalam naungan kapitalisme.
 
Dunia Islam Menjadi Objek, Bukan Subjek
 
Yang paling tragis, dunia Islam kini selalu berada di posisi korban. Negara-negara Muslim di kawasan tidak memiliki kemandirian politik. Mereka terpecah oleh paham nasionalisme dan batas-batas negara bangsanya yang diwariskan kolonialisme. Masing-masing sibuk menjaga kepentingan domestik, sementara ancaman global terus mengintai. Akibatnya, dunia Islam tidak pernah tampil sebagai kekuatan kolektif. Ia hanya menjadi objek permainan geopolitik.
 
Rakyat sipil menjadi korban utama. Kota-kota hancur, ekonomi lumpuh, jutaan orang mengungsi, dan generasi masa depan kehilangan harapan. Namun di atas penderitaan itu, para pemimpin dunia tetap berbicara tentang “stabilitas” dan “keamanan global”, retorika yang hampa dari realitas.
 
Akar Masalah: Hilangnya Kepemimpinan Islam
 
Pertanyaan mendasarnya yang jarang diajukan adalah mengapa konflik semisal ini terus berulang tanpa solusi? Jawabannya terletak pada satu realitas pahit, yaitu ketiadaan kepemimpinan politik Islam yang menyatukan umat di dunia Islam.
 
Sejak runtuhnya Khilafah, dunia Islam tercerai-berai menjadi puluhan negara bangsa. Tidak ada satu pun otoritas yang mampu bertindak sebagai pelindung umat secara global. Tidak ada kekuatan yang mampu memberikan efek gentar kepada musuh-musuh Islam. Padahal dalam ajaran Islam, kepemimpinan politik memiliki peran strategis. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Imam (Khalifah) adalah perisai, di mana kaum Muslim berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Muslim)
 
Hadis ini bukan sekadar nasihat spiritual. Ini adalah konsep politik bahwa negara dalam Islam berfungsi sebagai pelindung umat. Tanpa perisai ini, umat Islam menjadi rentan. Serangan demi serangan terjadi tanpa ada kekuatan yang benar-benar mampu membalas secara strategis.
 
Mengakhiri Siklus Kehancuran
 
Perang Iran vs AS–Israel seharusnya menjadi peringatan keras bagi dunia Islam. Selama umat masih berada dalam cengkeraman sistem kapitalisme global, selama itu pula berbagai konflik akan terus berulang. Diplomasi tidak akan cukup. Aliansi temporer tidak akan menyelesaikan masalah. Karena akar persoalannya bukan pada aktor, tetapi pada sistem.
 
Selama sistem kapitalisme masih menjadi fondasi hubungan internasional, maka konflik, eksploitasi, dan dominasi akan terus menjadi keniscayaan. Islam menawarkan jalan yang berbeda. Sebuah sistem yang tidak dibangun di atas kerakusan, tetapi keadilan. Sebuah kepemimpinan yang tidak tunduk pada kepentingan korporasi, tetapi pada hukum Allah.
 
Inilah yang menjadikan perjuangan menegakkan kembali kepemimpinan Islam (Khilafah Islamiyah) yang menyatukan dunia Islam dalam satu kekuatan bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan mendesak. Jika tidak, maka catatan sejarah serangan demi serangan dan kehancuran demi kehancuran di dunia Islam akan terus berulang, dan kaum Muslimin pun akan terus menjadi korban dalam arena persaingan global yang tidak pernah dapat mereka kendalikan. [Muhar/Tim Redaksi Tinta Media]
 
 

Loading

Views: 6

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA