Jurnalis: Jika Menunggu Sempurna, Amar Makruf Nahi Mungkar Akan Mati

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Menanggapi nasihat amar makruf nahi mungkar dalam mengoreksi penguasa yang mensyaratkan kesempurnaan, Jurnalis Senior Joko Prasetyo (Om Joy) mengatakan bahwa jika menunggu sempurna, amar makruf nahi mungkar mati.

“Sebab jika syarat mengoreksi penguasa adalah kesempurnaan pribadi, maka tidak akan ada seorang pun yang layak menegur penguasa. Amar makruf nahi mungkar akan mati bukan karena tidak ada kemungkaran, melainkan karena tidak ada manusia yang sempurna,” tuturnya kepada Tinta Media, Kamis (11/6/2026).

Om Joy mengingatkan bahwa memang nasihat itu tidak mengajak kepada keburukan namun logika yang dibangunnya berpotensi mengalihkan umat dari kewajiban mengoreksi penguasa kepada kesibukan menilai kekurangan pribadi pengkritiknya.

Ia melanjutkan bahwa memang benar, Islam memerintahkan setiap Muslim menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Sebagimana dikutip dalam Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Alquran Surah at Tahrim : 6, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

“Tidak ada yang mengingkari kewajiban ini. Namun di bagian mana ayat tersebut menyatakan bahwa seseorang baru boleh melakukan amar makruf nahi mungkar setelah keluarganya beres?,” terangnya.

“Di bagian mana ayat tersebut menggugurkan kewajiban mengoreksi penguasa karena istri atau anaknya belum sepenuhnya taat? Tidak ada,” imbuhnya.

Ia menyatakan bahwa ayat tersebut memerintahkan satu kewajiban. Sementara amar makruf nahi mungkar merupakan kewajiban yang lain. “Keduanya berjalan bersamaan, bukan saling menunggu,” tegasnya.

“Jika semua kewajiban harus menunggu kesempurnaan pelakunya, maka hampir tidak ada satu pun kewajiban yang akan dijalankan manusia,” bebernya.

Masalah berikutnya, lanjutnya, status tersebut menggeser ukuran dari dalil kepada kapasitas. Yang semestinya dibahas adalah: “Apakah kebijakan penguasa sesuai syariat atau tidak?, Namun yang dipersoalkan justru ‘Siapa yang mengkritik?’, ‘Sudah beres belum keluarganya?, ‘Sudah taat belum istrinya?’. Padahal dalam Islam, kebenaran tidak diukur dari status, jabatan, atau tingkat kesempurnaan orang yang menyampaikannya. Om Joy juga mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib ra. Bahwa kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenali para pendukungnya.

“Karena itu, yang pertama kali dinilai adalah isi kritiknya, bukan biodata pengkritiknya,” ujarnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zalim” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah),” ucapnya.

Dalam hadis lain beliau SAW bersabda: “Penghulu para syuhada adalah Hamzah dan seseorang yang berdiri di hadapan penguasa zalim, lalu memerintahkannya kepada yang makruf dan melarangnya dari yang mungkar, kemudian ia dibunuh” (HR al-Hakim),” sambungnya.

Om Joy mengajak untuk memperhatikan baik-baik hadis tersebut bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam tidak mensyaratkan seseorang harus terlebih dahulu berhasil mengurus keluarganya secara sempurna sebelum menyampaikan kebenaran kepada penguasa. Juga tidak mensyaratkan seseorang harus bebas dari segala kekurangan sebelum melakukan amar makruf nahi mungkar. “Yang beliau puji adalah keberanian menyampaikan kebenaran,” tukasnya.

Ia menambahkan bahwa Imam an-Nawawi dalam π‘†π‘¦π‘Žπ‘Ÿβ„Ž π‘†β„Žπ‘Žβ„Žπ‘–β„Ž π‘€π‘’π‘ π‘™π‘–π‘š menjelaskan bahwa orang yang memerintahkan kebaikan tidak disyaratkan telah sempurna mengamalkan seluruh yang diserukan. Tetap wajib menyeru kepada kebaikan sekaligus tetap wajib memperbaiki kekurangannya.

“Dengan kata lain, Islam tidak menuntut kesempurnaan sebelum berdakwah. Islam menuntut ketaatan semaksimal mungkin dalam seluruh kewajiban secara bersamaan,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa muhasabah diri wajib. Muhasabah keluarga wajib. Namun muhasabah terhadap penguasa juga wajib. Islam tidak pernah mempertentangkan ketiganya.
“Karena itu, yang benar bukan: ‘Urus keluargamu dulu, baru kritik penguasa,’ melainkan ‘Urus keluargamu sesuai syariat, dan tetaplah mengoreksi penguasa ketika menyelisihi syariat,” paparnya.

Ia memandang bahwa jika syarat mengoreksi penguasa adalah kesempurnaan pribadi, maka tidak akan ada seorang pun yang layak menegur penguasa. Amar makruf nahi mungkar akan mati bukan karena tidak ada kemungkaran, melainkan karena tidak ada manusia yang sempurna.

“Dan jika semua orang memilih diam sampai dirinya sempurna, pertanyaan besarnya adalah: Jika menunggu sempurna, siapa yang menegur penguasa?” pungkasnya.[] Ajira

Loading

Views: 19

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA