Tinta Media – Ulama KH Rokhmat S. Labib membantah kebodohan kaum ateis yang menolak keberadaan Tuhan.
“Keyakinan bahwa Tuhan itu ada bukan sekadar kepercayaan, tetapi kesimpulan yang dapat dijangkau melalui pemikiran yang mendalam,” tuturnya dalam video: Ini Bukti Tuhan itu Ada! Membantah Kebodohan Ateis, di kanal YouTube Rokhmat S. Labib, Rabu (7/10/2026).
Sebab, Kiai Labib menganalogikan alam semesta yang begitu teratur tidak mungkin ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan.
“Lantas, bagaimana membantah anggapan kaum ateis yang menolak keberadaan Tuhan? Sebenarnya sesuatu yang sangat sederhana,” imbuhnya.
Ia memberikan contoh yang lebih sederhana. Misalnya, keberadaan sendok dan garpu, yang kalau dilihat garpu tersebut, tidak seorang pun yang berakal mengatakan garpu ini ada dengan sendirinya.
“Dia (garpu) terjadi dengan sendirinya, dia berada di sini dengan sendirinya. Kan enggak mungkin orang berpikir begitu. Pasti tidak mungkin,” terangnya.
Apalagi alam semesta yang begitu teratur, jelas Kiai Labib, mana mungkin tidak ada pengaturnya. Dan kalau kebetulan, bagaimana mungkin bisa terus teratur.
“Sehari perputaran matahari 24 jam, bagaimana itu? Tidak terjadi benturan berabad-abad lamanya. Pasti ada yang mengaturnya seperti itu dan segala macamnya,” bebernya.
Ia menambahkan, bahwa air berubah menjadi es karena dingin. Tetapi masalahnya adalah dingin itu ada kadarnya. Berapa kadar air berubah menjadi es? Misal setelah nol derajat celcius baru bisa berubah menjadi es.
“Dan itu konsisten. Ukuran ini siapa yang menentukan? Air berubah menjadi uap karena ada panas. Pertanyaannya adalah siapa yang menentukan ukuran panas bahwa panas sekian akan mengakibatkan uap dan itu konsisten,” tegasnya.
Ia menilai bahwa terlalu tidak masuk akal orang-orang ateis. Seolah-olah menggunakan akal padahal sebenarnya tidak pernah menggunakan akal dalam soal itu.
“Bagaimana mungkin orang mengatakan mik (pengeras suara) ini ada dengan sendirinya? Mestilah ada pabriknya. Ada yang menaruh di sini. Pabriknya juga pasti ada yang mengadakan, terus sampai kemudian memang pada akhirnya harus ada causa prima, ada satu sebab (utama) yang tidak disebabkan oleh yang lain itu, begitu secara akal,” pungkasnya.[] Ajira
![]()
Views: 4
















