Kiai Labib: Ikuti Syari’at Allah, Pasti Benar

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Ulama KH Rokhmat S. Labib menjelaskan bahwa mengikuti syari’at dari Allah SWT pasti benar.

“Fattabi’haa, ikuti syari’at itu, yang syari’at itu dari siapa? Allah SWT., yang pasti benar. Karena Dia yang bukan hanya mengetahui, (tetapi) Al-‘Alim, yang Maha Tahu,” ucapnya dalam video bertajuk Syariat sebagai Jalan Hidup, Bukan Sekadar Pilihan, di kanal YouTube Rokhmat S Labib, Ahad (28/1/2026).

Kiai Labib menyampaikan Al-Qur’an surat. Al-Jatsiyyah ayat 18, yang berbunyi: “Tsumma ja’alnaaka ‘ala syari’atin minal amr fattabi’haa wa laa tattabi’ ahwaa alladziina laa ya’lamuun”.

Dalam ayat tersebut, jelasnya, terdapat kata fattabi’haa, yang maknanya ikuti, ‘haa’ itu kembali kepada kata syari’atin.

Sebab, selain Allah SWT Maha Tahu, lanjutnya, Allah juga ‘aalimil ghaibi wasyahaadah, mengetahui apa yang tampak dan yang tidak tampak.

“Mengetahui Al-awwal yang awal, maupun yang akhir, mengetahui yang dulu, sekarang dan yang akan datang,” ulasnya.

Maka, menurutnya, semestinya secara rasional, yang Maha Tahu-lah yang harus diikuti, bukan orang-orang yang tidak mengetahui yang menuruti hawa nafsunya, sebagaimana dalam lanjutan ayat tersebut.

Ikuti yang Tahu Jalan

Kemudian, Kiai Labib memberikan contoh, ketika seseorang mau bepergian, misal dari Jakarta ke Sumatera, lalu yang akan diikuti siapa? Tentu yang tahu jalan.

“Yang tahu jalan, bukan hanya yang tahu jalan, tapi apa? Yang tahu ujungnya. Yang dia tahu kalau ke Sumatera harus nyebrang laut. Lautnya ganas atau tidak? Lewatnya di mana? Dan seterusnya dan seterusnya,” tuturnya.

“Kalau tidak tahu, apa yang akan terjadi? Kesasar. Bukan hanya kesasar, enggak nyampe, bahkan celaka di jalan. Bisa tenggelam di lautan. Karena dia enggak tahu, dikiranya dia enggak pakai nyebrang-nyebrangan, naik sepeda saja, begitu sampe sana, ya enggak bisa nyampe. Kalo dipaksakan, tenggelam di laut misalnya seperti itu,” terangnya.

Terakhir, Kiai Labib memberikan bayangan kalau yang diikutinya ini manusia yang enggak tahu, yang diikuti hawa nafsu, maka bisa bahaya karena yang dibicarakan adalah bukan tentang kebenaran. Sebaliknya, kalau yang diikuti masih pikiran, ini masih menggunakan pertimbangan.

“Tapi kalau sudah menggunakan hawa nafsu, kesenangan, ya itu enggak bicara tentang kebenaran, enggak bicara kebaikan, enggak bicara kemaslahatan,” pungkasnya.[] Nandang Fathurrohman

Loading

Views: 13

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA