Tinta Media – Di hadapan 67 Tokoh Muslimah, Co-Founder Cafe Dakwah Akhwat, Dr. Retno Muninggar, S.Pi., M.E., mengungkapkan sesungguhnya berulangnya kejahatan seksual tidak hanya pada pelaku, tapi sistem sosial yang tidak dapat melindungi.
Hal tersebut diungkapnya dalam Forum Tokoh Muslimah Depok#33: Memaknai Hijrah: Solusi Krisis Sistemik Menuju Perubahan Hakiki, Selasa, (16/6/2026) di Depok.
Pasalnya, Aktivis Muslimah yang akrab disapa Ustadzah Retno ini membeberkan bahwa kejahatan seksual terus muncul di kampus, sekolah, pesantren, kantor, dan ruang publik.
Ia pun mempertanyakan itu semua. “Bukan hanya siapa pelakunya, tapi sistem sosial seperti apa yang memungkinkan kejahatan itu terus berulang?” ucapnya.
Kejahatan seksual terus berulang, ujarnya, karena dalam sistem saat ini korban takut melapor, takut tidak dipercaya, takut dipermalukan, juga takut pelaku tidak dihukum. Akibatnya banyak kasus tidak terungkap dan terus berulang.
“Dari sisi pelaku, terus menerus melakukan kejahatan dan makin berani karena ada budaya menyalahkan korban, kurangnya edukasi tentang batasan interaksi laki-laki dan perempuan serta hukum tidak memberi efek jera. Akibatnya, pelanggaran terus berulang dan meluas,” bebernya.
Tak hanya itu, menurutnya, dampak dari kejahatan seksual tidak hanya dirasakan oleh korban tapi masyarakat luas. Akibatnya, kejahatan seksual berubah menjadi krisis sosial.
“Yang mirisnya, mengapa banyak intelektual yang menguasai ilmu, baik science, agama, bahkan fiqih dan hukum-hukum Islam namun tetap terseret pada kasus kejahatan seksual?” tanyanya.
Menurutnya, semua itu terjadi karena umat saat ini bermental sekuler. Beragama Islam tapi agama tidak dijadikan dasar dalam seluruh aspek kehidupan.
“Sekularisme itu memisahkan urusan agama dari kehidupan. Agama sebagai urusan pribadi dan kehidupan sosial diatur oleh manusia dan kepentingan duniawi,” sebutnya.
Maka, dampak dari sekularisme, terangnya, melahirkan kebebasan tanpa batas, termasuk kebebasan pergaulan laki-laki dan perempuan, normalisasi interaksi yang melampaui batas syariat, dan cara pandang materialistik dan hedonistik. Sehingga meningkatnya risiko kejatahan seksual.
“Mari membangun sistem sosial yang melindungi, mendidik dan memberi keadilan bukan yang membiarkan,” pungkas Ustadzah Retno.[] Siti Aisyah
![]()
Views: 19






