Bukan Sekadar Teknis, HILMI: Akar Terdalam Persoalan Sampah adalah Ideologi ‘Istighna’

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Menanggapi karut-marutnya persoalan sampah di Tangerang Selatan atau berbagai kota di Indonesia, Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menilai akar terdalam persoalan sampah adalah ideologi ‘istighna’, bukan sekadar persoalan teknis.

“Akar terdalam persoalan sampah adalah ideologi istighnā’ atau perasaan cukup dan berkuasa tanpa batas, seolah manusia tidak bergantung pada Allah dan alam,” ungkap HILMI melalui Intellectual Opinion yang dirilis pada Rabu (21/1/2026), berjudul: “Sampah Cermin Ideologi Peradaban, Tinjauan Sistemik dalam Perspektif Islam”.

HILMI menyatakan argumennya didasarkan pada QS Al Alaq ayat 6 – 7.

“Ketika manusia merasa ‘cukup’ secara material, ia lupa batas moral. Alam direduksi menjadi objek eksploitasi, bukan ayat-ayat Allah. Sampah adalah jejak fisik dari kesombongan epistemik yaitu manusia merasa bebas mengonsumsi tanpa konsekuensi,” ulasnya.

Untuk mengatasi sampah, HILMI menawarkan solusi Islam yang mengajarkan bahwa perubahan sejati tidak dimulai dari infrastruktur, tetapi dari jiwa dan cara pandang.

“Tanpa perubahan nilai, maka TPA modern, teknologi canggih, dan regulasi ketat hanya memindahkan masalah. Kita membersihkan gejala, bukan sebab. Kampanye membuang sampah pada tempatnya tidak akan berhasil jika sistem terus mendorong pemborosan,” bebernya.

Kembali ke solusi Islam, HILMI menjabarkan, Islam menawarkan paradigma alternatif yang utuh dengan melihat tiga hal yaitu: pertama, manusia sebagai khalifah, bukan konsumen tak terbatas; Kedua, harta sebagai amanah, bukan simbol identitas; Dan ketiga, alam sebagai titipan, bukan objek eksploitasi.

“Jadi, dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, pengelolaan sampah berkaitan langsung dengan ḥifẓ al-nafs atau menjaga kehidupan, ḥifẓ al-māl atau menjaga harta publik, dan ḥifẓ al-bi’ah atau penjagaan lingkungan sebagai prasyarat kehidupan,” paparnya.

HILMI menandaskan, sampah adalah cermin spiritual peradaban, ia menunjukkan seberapa jauh manusia lupa bahwa bumi bukan miliknya, melainkan amanah Allah sekaligus bentuk ibadah peradaban.

“Jika umat manusia kembali pada nilai qanā‘ah yang menggantikan kerakusan, amanah yang menggantikan eksploitasi, dan hikmah yang menggantikan sekadar efisiensi, maka krisis sampah akan mereda karena manusia tidak lagi memproduksi dosa ekologis secara sistemik,” tutupnya yakin.[] Erlina

Loading

Views: 17

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA