Tinta Media – Menanggapi pernyataan “Orang yang tak bertuhan tapi berperikemanusiaan jauh lebih baik daripada orang mengaku bertuhan tapi tak berperikemanusiaan”, Jurnalis Senior Joko Prasetyo (Om Joy) menilai dalam pandangan Islam j manusia juga diukur dari hubungannya dengan Allah SWT.
“Dalam pandangan Islam, manusia tidak diukur hanya dari hubungannya dengan sesama manusia. Manusia juga diukur dari hubungannya dengan Allah SWT,” ujarnya kepada Tinta Media Jumat (12/6/2026).
Mengutip firman Allah SWT Al-Qur’an Surat Ad-Dzariyat Ayat 56, Om Joy memperingatkan tujuan untuk apa sebenarnya manusia diciptakan.
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,” kutipnya.
Berdasarkan ayat tersebut, ia pun menjelaskan, tujuan hidup manusia bukan sekadar menjadi makhluk yang baik kepada sesama manusia, tetapi menjadi hamba yang tunduk kepada Allah SWT.
“Karena itu Islam tidak pernah mempertentangkan ketuhanan dan kemanusiaan,” imbuhnya.
Om Joy lantas menyatakan, Islam tidak mengajarkan bertuhan atau berperikemanusiaan, tetapi Islam mengajarkan sebaliknya yaitu bertuhan dan berperikemanusiaan.
“Semakin benar iman seseorang, semakin besar pula tuntutan agar ia jujur, amanah, adil, dan peduli kepada sesama. Karena itu kegagalan sebagian orang beragama dalam mengamalkan ajaran agamanya tidak dapat dijadikan alasan untuk mengecilkan arti iman itu sendiri,” bebernya.
Sebab lanjutnya, yang salah adalah pelaksanaannya. “Bukan ajaran yang memerintahkannya,” tuturnya.
*Hilang*
Om Joy kemudian menilai ada satu dimensi yang sering hilang dalam cara berpikir seperti ini. Yaitu hak Allah SWT.
“Misalkan ada seseorang yang jujur, dermawan, suka membantu orang miskin, dan dicintai banyak orang,” bebernya.
Dari sudut pandang kemanusiaan, lanjutnya, ia mungkin dipuji. Namun Islam tetap mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: “Bagaimana hubungannya dengan Allah SWT? Apakah beriman kepada-Nya? Apakah mengakui keesaan-Nya? Apakah tunduk kepada perintah-Nya?”
“Pertanyaan-pertanyaan ini tidak boleh dihapus dari pembahasan. Sebab manusia bukan hanya memiliki kewajiban terhadap sesama manusia. Manusia juga memiliki kewajiban terhadap Penciptanya,” tegasnya.
Karena itu, Om Joy menyampaikan dengan mengutip firman Allah SWT: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (QS al-Hujurat: 13).
Menurutnya, Allah SWT tidak mengatakan, ukuran kemuliaan tertinggi adalah pujian manusia. Ukuran kemuliaan di sisi-Nya adalah ketakwaan.
“Inilah yang sering terlupakan. Manusia bisa saja dipuji oleh manusia lain. Manusia bisa saja dikenang karena jasa-jasanya. Manusia bisa saja dianggap sangat baik oleh masyarakat. Namun seluruh pujian itu belum menjawab satu pertanyaan yang jauh lebih besar: Bagaimana kedudukannya di hadapan Allah SWT?,” jelasnya.
Sebab lanjutnya, kehidupan manusia tidak berhenti di dunia. Ada hisab. Ada surga. Ada neraka.
“Ada hari ketika seluruh manusia berdiri di hadapan Rabb semesta alam untuk mempertanggungjawabkan bukan hanya hubungan mereka dengan sesama manusia, tetapi juga hubungan mereka dengan Allah SWT,” bebernya.
Karena itu, ungkapnya, sebagaimana keliru menjadikan agama sebagai alasan untuk mengabaikan kemanusiaan, keliru pula menjadikan kemanusiaan sebagai alasan untuk mengecilkan arti iman.
“Seorang Muslim tidak diperintahkan memilih salah satunya. Ia diperintahkan menggabungkan keduanya. Menjadi hamba Allah yang taat sekaligus menjadi manusia yang membawa rahmat bagi sesama,” tuturnya.
Sebab lanjutnya, ketika kemanusiaan dipisahkan dari ketuhanan, yang hilang bukan hanya agama. “Yang hilang adalah tujuan hidup manusia itu sendiri,” tandasnya.[] Setiyawan Dwi
![]()
Views: 19










